AqidahKonsultasi

Menyikapi Perbedaan Perhitungan dalam Bulan Hijriyah

Menyikapi Perbedaan Perhitungan dalam Bulan Hijriyah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang menyikapi perbedaan perhitungan dalam bulan hijriyah.
selamat membaca.


Pertanyaan :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ahsanallahu ilaikum. Semoga Allah menjaga para ustadz dan kita semua aamiin. Afwan ustadz ana dari gelombang 12, izin bertanya, bagaimana menyikapi perbedaan perhitungan dalam bulan hijriyah, dan mana yang kita pakai untuk ibadah yang terkait dengan waktu tertentu, seperti puasa arafah/asyuro, jazakallahu khairan.

(Gilang Pradana G11-N005)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Panjang pembahasan masalah ini akan tetapi intinya kita mengikuti ijtihad pemerintah kaum muslimin dalam hal ini. Yang demikian karena orang yang telah berhasil melihat hilal ia berkewajiban melaporkan penglihatannya kepada penguasa sebagaimana disebutkan dalam riwayat sbb :

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلاَلَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنِّى رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

Baca Juga :  Kisah Mariyah dan Hafshoh, Istri Rasulullah ﷺ?

“Orang-orang berusaha untuk melihat hilal, kemudian aku beritahukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa.” (Shahih Sunan Ibnu Hibban : 3447).

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang juga seorang ulama. Beliau melihat hilal dengan kedua biji mata beliau, bukan mendengar dari hasil penglihatan orang lain. Apa yang beliau lakukan ? apakah ia lantas mengumumkan hasil penglihatannya kepada kaum muslimin dan mengajak mereka berpuasa ? Jawabnya tidak.

Namun beliau melaporkan hasil penglihatan beliau kepada penguasa kala itu yaitu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi pun menerima hasil ru’yatul hilal tersebut, lantas beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk mulai berpuasa.

Baca Juga :  Apakah Orang Tua Pikun Wajib Shalat?

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pula menyatakan :

وقد روى أن رجلين في زمن عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – رأيا هلال شوال فأفطر أحدهما ولم يفطر الآخر فلما بلغ ذلك عمر قال: للذي أفطر لولا صاحبك لأوجعتك ضربا والسبب في ذلك أن الفطر يوم يفطر الناس وهو يوم العيد

“Telah diriwayatkan bahwa pada zaman ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ada dua lelaki yang melihat hilal syawwal (dengan matanya langsung-pent). Maka salah seorang dari mereka berbuka dan yang seorang lagi tidak berbuka. Ketika khabar tersebut sampai ke ‘Umar, ia berkata kepada orang yang berbuka (tidak ikut keputusan penguasa-pent) : ‘kalau bukan karena temanmu, tentu aku sudah memukulmu.’ Penyebab dari hal ini ialah karena hari berbuka itu adalah hari dimana manusia berbuka yaitu hari raya.” (Majmu’ Fatawa : 25/205).

Maka yang lebih aman adalah kita senantiasa mengikuti ketetapan pemerintah dalam penatapan hilal dalam bulan-bulan Hijriyah. Kalaupun ketetapan pemerintah salah maka kesalahannya ditanggung oleh pemerintah adapun kita tetap mendapatkan pahala.

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Selasa, 8 Muharram 1443 H/ 17 Agustus 2021 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini

Baca Juga :  Hukum Muslimah Mengiringi Jenazah

Ustadz Abul Aswad Al Bayati, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button