Adab & AkhlakKonsultasi

Menyikapi Larangan Orang Tua Sepeninggal Mereka

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Menyikapi Larangan Orang Tua Sepeninggal Mereka

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Menyikapi Larangan Orang Tua Sepeninggal Mereka, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Izin bertanya ustadz. Apabila saat orangtua masih hidup beliau melarang atau tidak merestui sesuatu yang sebenernya bernilai kebaikan, apakah ketika beliau sudah tiada jika tetap mengerjakan hal tersebut masih termasuk durhaka pada orangtua?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

  • Tentu taat dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah kewajiban. Bahkan Allah ﷻ menjadikan hak keduanya setelah larangan berbuat syirik kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (Al-Isra’: 23)

  • Perlu diketahui bahwa orang tua yang melarang anaknya, tentu tidak keluar dari dua hal; yaitu ranah agama dan ranah sosial.

Ranah agama selalu berkaiatan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau bermaksiat kepada keduanya; bilamana orangtua melarang untuk ketaatan, khsususnya dalam menjalankan kewajiban, maka kita tidak boleh menaatinya, justru harus mendakwahi dan meluruskan keduanya pada jalan yang benar dengan cara yang baik, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ

“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15)

Adapun pada ranah sosial, dapat ditinjau dari beberapa tinjauan;

Adakalanya mereka melarang dikarenakan ada maslahat yang sangat penting, atau terdapat madarat yang harus dijauhinya dan adakalanya mereka melarang atas ketidaktahuan dalam membedakan antara yang baik dan buruk.

Dengan demikian, seseorang harus pandai meninjau pada tinjauan di atas, bila memang itu benar-benar ada maslahat atau ada madarat, karena memang orangtua lebih berpengalaman dalam menyelami kehidupan, maka tentu harus ditaati. Sebaliknya, bilamana larangan tersebut karena ketidaktahuan mereka, maka harus disikapi dengan bijak dengan cara meluruskannya.

  • Menyikapi larangan sepeninggal mereka yang sebenarnya bernilai kebaikan, tentu ditinjau ulang kembali, apakah larangan tersebut masih ada maslahat ataukah madarat. Bila demikian, tentu tetap mematuhinya sebagai bentuk birrrul walidain kepada mereka.

Bilapun maslahat dan madarat tersebut sudah tidak ada, maka selayaknya untuk menindaklanjuti perbuatan tersebut, karena Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk selalu berbuat kebajikan.
Contoh; kedua orang tua melarang anaknya untuk kuliah sementara waktu agar dapat menjaga keduanya.

Bilamana keduanya sudah tiada, maka ia dianjurkan melanjutkan kuliah, sebab maslahat dan madaratnya sudah hilang. Dan hal ini tidak termasuk durhaka kepada keduanya.

Wallahu a’lam bisshowab

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Ahmad Yuhanna, Lc. حافظه الله

Related Articles

Back to top button
situs togel situs togel https://getnick.org/ toto togel https://seomex.org/ situs togel dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto dentoto situs togel situs toto situs togel bandar togel https://robo-c.ai/ http://satisfieddegree.com/ http://e-bphtb.pandeglangkab.go.id/products/