Menyikapi Keluarga yang Masih Mempercayai Adat Nenek Moyang bimbingan islam
Menyikapi Keluarga yang Masih Mempercayai Adat Nenek Moyang bimbingan islam

Menyikapi Keluarga yang Masih Mempercayai Adat Nenek Moyang

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang menyikapi keluarga yang masih mempercayai adat nenek moyang.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhsayahu Wa Ta’ala.

Ustadz saya baru berhijrah dan ingin lebih mengenal sunnah. Saya mau bertanya:
Bagaimana cara kita menyikapi, bila di keluarga kita dan suami saya masih mempercayai adat dari nenek moyang, seperti tahlilan, ataupun semacamnya, alasan mereka karena faktor lingkungan dan sudah menjadi tradisi dan bersikeras untuk mempercayai, sedangkan hal tersebut tidak di perbolehkan.
Sampai-sampai keluarga dan suami murka dan saya pun tidak di perbolehkan untuk lebih mengenal sunnah, apalagi mendalaminya. saya sudah menjelaskan pelan-pelan kepada mereka.
saya harus bagaimana ustdaz? Mohon bimbingannya.
Jazakallahu khairan, ustadz.

(Disampaikan oleh Fulan, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Selamat datang di Media Sosial Bimbingan Islam, ukhti yang semoga selalu dirahmati oleh Allah. Semoga Allah selalu membimbing kita di dalam jalan keridhoan-Nya.

1-Makna Hijroh

Secara bahasa Arab, hijrah berarti meninggalkan. Hijrah ada tiga macam: (Lihat penjelasannya di dalam Syarah Riyadhus Sholihin, 1/21-26, karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin)

1) Hijrah Tempat Tinggal
Yaitu seseorang meninggalkan negara kafir menuju Negara Islam, atau daerah yang tidak aman menuju daerah yang aman, atau daerah yang banyak kemaksiatannya menuju daerah yang kurang kemaksiatannya.
Seperti perbuatan sahabat Muhajirin yang berhijrah dari kota Makkah menuju Habasyah, atau menuju Madinah.

2) Hijrah Dari Kemaksiatan
Yaitu seseorang meninggalkan kemaksiatan menuju kepada ketaatan. Seperti hadits Nabi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

Dari Abdullah bin ‘Amru, semoga Alloh meridhoi keduanya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah “.
(HR. Bukhori, no. 10, 6484; Nasai, no. 4996; Abu Dawud, no. 2481; Ahmad, no. 6515, 6806).

Hijrah inilah yang anda maksudkan. Yaitu meninggalkan kemaksiatan, dan inilah hakekat hijrah.

3) Hijrah Dari Pelaku Maksiat
Yaitu seseorang meninggalkan pelaku kemaksiatan ketika sedang melakukan maksiat, atau mendiamkan pelaku kemaksiatan jika memberikan manfaat, yaitu pelaku maksiat akan meninggalkannya.
Seperti meninggalkan majlis yang diedarkan khomr di dalamnya, atau majlis yang ayat-ayat Allah didustakan, atau memboikot pelaku maksiat jika diharapkan dia akan meninggalkannya.

2-Makna Sunnah

As-Sunnah secara lughowi (bahasa) artinya adalah: jalan atau ajaran, meliputi jalan yang baik atau yang buruk.

Baca:  Adakah Ayat Al-Quran yang Menyembuhkan Penyakit Badan dan Hati?

Sedangkan di dalam istilah ulama, sunnah memiliki beberapa makna sebagai berikut:

1- Sunnah di dalam istilah ulama ahli hadits, adalah: Semua yang disandarkan kepada Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam, yang berupa qoul (perkataan) , fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan, pengakuan) atau sifat. Istilah Sunnah ini semakna dengan Hadits.
(Lihat: Al-Fushul fii Mush-tholah Haditsir Rosul, hal. 3; karya syaikh Tsanaulloh Az-Zahidi)

2- Sunnah di dalam istilah ulama ushul fiqih, adalah: Dalil-dalil agama yang datang dari Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam yang bukan berupa Al-Qur’an, meliputi qoul (perkataan) , fi’il (perbuatan), dan taqrir (penetapan, pengakuan).
(Lihat kitab-kitab Ushul Fiqih dalam bab: As-Sunnah)

3- Sunnah di dalam istilah ulama ahli fiqih, adalah: Sesuatu yang diperintahkan oleh Syari’at dengan perintah yang tidak wajib, sehingga pelakunya mendapatkan pahalanya sedangkan orang yang meninggalkannya tidak disiksa.
Sunnah dalam istilah ahli fiqih semakna dengan mustahab, mandub, tathowwu’, atau nafilah. Kebalikannya adalah wajib atau fardhu.
(Lihat Mudzakkiroh Ushulil Fiqih, hal. 4, syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi)

4- Sunnah di dalam istilah ulama ulama Salaf atau ulama aqidah, yaitu: petunjuk/ajaran Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam dan para sahabatnya yang berupa ilmu, keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan.
Imam Ibnu Rojab Al-Hanbali rohimahulloh berkata, “Sunnah adalah jalan yang dilewati, dan hal itu mencakup berpegang teguh dengan petunjuk Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam dan para Khulafaur Rosyidin, yang berupa keyakinan, amal perbuatan, dan perkataan. Inilah Sunnah yang sempurna”.
(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 263; penerbit: Darul Ma’rifah Beirut; cet: 1; th. 1408 H)

Maka istilah Sunnah yang anda maksudkan adalah makna yang terakhir ini. Dan sunnah dengan makna ini kebalikannya adalah bid’ah. Umat Islam wajib mengikuti Sunnah, dan wajib menjauhi bid’ah, sebagaimana telah diwasiatkan oleh Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam dan para sahabatnya.

3- Kewajiban Mengikuti Sunnah

Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam telah berwasiat untuk berpegang dengan Sunnahnya dan Sunnah Khulafaur Rosyidin sebagai solusi dari perselisihan. Beliau sholallohu ‘alaihi was sallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak.
Maka wajib kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.
(HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ahmad, no. 17144; dll dari Al-‘Irbadh bin Sariyah. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Baca:  Allah Bersifat Bosan & Capek?

Dan mengikuti Sunnah Rasul merupakan jalan ke sorga. Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk sorga, kecuali yang enggan!
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasululloh, siapa yang enggan?”
Beliau menjawab: “Siapa saja mentaatiku dia masuk sorga, dan siapa saja bermaksiat kepadaku, maka dia benar-benar enggan (masuk sorga).”
(HR. Bukhori, no: 7280, dari Abu Huroiroh)

Sunnah Nabi adalah jalan terbaik. Oleh karena itu barangsiapa meninggalkan Sunnah Nabi dengan sebab kebencian, dia bukan pengikut Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Telah datang tiga laki-laki ke rumah istri-istri Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam , mereka bertanya tentang ibadah Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam . Ketika mereka telah diberitahu, seolah-olah mereka menganggap ibadah beliau itu sedikit.
Mereka berkata: “Bagaimana kita dibandingkan Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam , sedangkan dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun aku, maka aku akan selalu sholat malam selamanya”.
Orang yang lain berkata: “Aku akan puasa selamanya, aku tidak akan berbuka”.
Orang yang lain lagi berkata: “Aku akan menjauhi wanita, sehingga aku tidak akan menikah selamanya”.

Maka Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam datang kepada mereka, lalu berkata: “Kamu yang telah mengatakan begini dan begitu? Demi Alloh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Alloh di antara kamu, dan orang yang paling bertaqwa kepadaNya di antara kamu, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat (malam) dan juga tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Maka barangsiapa meninggalkan Sunnahku, maka dia bukan dariku”.
(HR. Bukhori, no. 5063)

4- Hukum Mengikuti Adat Nenek Moyang

Adat nenek moyang adalah kebiasan dilakukan oleh orang tua karena mengikuti kebiasaan orang-orang zaman dahulu yang diwariskan secara turun temurun.

Adat nenek moyang ada yang baik, maka boleh untuk diikuti. Seperti adat gotong royong di dalam membangun rumah, kerja bakti, menengok orang sakit, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan lainnya.

Baca:  Bagaimana Cara Menasehati Pelaku Riba? Semisal Kepada Keluarga

Namun ada adat nenek moyang ada yang tidak baik, maka tidak boleh diikuti. Seperti adat-adat kemusyrikan atau kemaksiatan.

Seorang muslim tidak boleh mengikuti adat nenek moyang yang bertentangan dengan hukum Alloh yang diterangkan di dalam kitab suci Al-Qur’an atau hadits Nabi. Demikian juga, seorang muslim tidak boleh meninggalkan hukum Alloh, karena lebih mengutamakan adat nenek moyang. Sesungguhnya sikap yang demikian adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Alloh Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?
(QS. Al-Maidah/5: 104)

5- Menyikapi Suami dan Keluarga Yang Masih Melakukan Kesalahan

Sebagai seorang istri tentu ukhti wajib mentaati suami di dalam kebaikan. Maka hendaklah ukhti bersikap dengan baik, lemah lembut, dan mentaati suami di dalam kebaikan. Demikian juga kepada keluarga.

Karena kemungkinan mereka belum memahami tentang kewajiban mengikuti Sunnah Nabi, maka hendaklah disampaikan dengan baik. Bisa dengan tulisan, bisa dengan media video, bisa dengan percakapan dengan cara yang paling baik.

Adapun tentang tahlilan. Maka perlu disampaikan kepada mereka bahwa membaca tahlil, yaitu ucapan laa ilaaha illah Alloh, merupakan ibadah yang sangat agung. Jika hal itu diucapkan dengan memahami maknanya, meyakini kandungannya, dan mengamalkan isinya. Namun budaya tahlilan yang dilakukan dengan sebab kematian, maka tidak dituntunkan oleh agama Islam. Dan ibadah itu membutuhkan tuntunan, bukan sekedar adat kebiasaan dan perasaan. Sebab kalau ibadah tidak membutuhkan tuntunan, maka tidak perlu diutus Rosul dan diturunkan kitab suci.

Sampaikan kepada mereka dengan baik. Jika mereka menerima, itulah yang diinginkan. Jika mereka tidak menerima, maka bersabarlah dan tetaplah bergaul kepada mereka dengan baik. Namun tidak mengikuti acara mereka yang tidak ada tuntunannya. Memang hidup adalah ujian, maka kita harus bersabar di dalam menjalankan agama Alloh. Hendaklah banyak berdoa dan mengadu kepada Allah, sesungguhnya segala sesuatu berada di dalam kekuasaanNya. Hati manusia berada di antara jari-jari Ar-Rahman, dan Dia membolak-balikkan sesuai dengan kehendakNya dan hikmahNya.

Semoga Alloh memberikan ketabahan kepada anda, dan memberikan hidayah kepada keluarga dan suami anda. Wallohul Musta’an.

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Selasa, 04 Rabiul Awwal 1442 H/ 20 Oktober 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini