Adab & AkhlakKonsultasiMuamalah

Menyikapi Keluarga yang Belum Menutup Aurat dengan Sempurna

Menyikapi Keluarga yang Belum Menutup Aurat dengan Sempurna

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Cara Menyikapi Keluarga yang Belum Menutup Aurat dengan Sempurna, selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah. Izin bertanya ustadz. Bagaimana sebaiknya sikap lelaki yang memiliki seorang adik perempuan yang belum menutup aurat, walau kerap diingatkan, yang kemudian mereka pergi keluar bersama karena sebuah kebutuhan? Ada kalanya orang tersebut merasa kurang enak untuk berpergian bersama adik perempuannya dikarenakan khawatir orang lain berpikiran yang tidak-tidak. Jazakallahu khairan.

(Disampaikan oleh Sahabat Mahad BIAS)

Jawaban:

Bismillah.

Sikap seorang muslim yang melihat saudaranya dari kerabat atau sesama muslim lainnya ketika berada dalam kubang kemaksiatan adalah sebagai seorang dokter kepada seorang pasien yang sedang mengalami sakit dan perlu perhatian khusus.

Sehingga ia berusaha mencari tahu sikap apa dan obat apa yang terbaik untuk menyembuhkan. Bukan sekadar kekerasan untuk menghalau kemaksiatan yang di lakukan tapi juga mencari cara ramuan apa yang tepat untuk diberikan kepada pasien yang sedang membutuhkan penanganan. Dengan ketepatan cara dan obat yang di berikan berharap hidayah Allah bisa di dapatkan.

Memang pada dasarnya kewajiban kita terhadap para pelaku kemaksiatan untuk merubah se-optimal mungkin,untuk terus mendakwahkan dan menasihati pelaku kemaksiatan supaya kembali kepada Rabbnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan lisan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan hati. Itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Bila sudah di lakukan dan tidak berubah maka bukan kewajiban kita untuk memberikan hidayah kepadanya. Walau bukan berarti diam pasrah dan tidak perduli dengan kemaksiatan yang terjadi. Tetap terus mengingatkan,dengan strategi dan cara yang baik dan bijak, yang selalu berharap pada nasihat yang ke seratus atau keseribu ia akan di berikan hidayah, kalaupun tidak pahala dari menjalankan kewajiban untuk nahi mungkar telah di jalankan.

Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman urusilah diri kalian sendiri. Tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat itu apabila kalian sudah berada di atas petunjuk.” (QS. al-Maidah: 105)

Dalam berdakwah dan menjalankan amar makruf nahi mungkar tidak hanya kebenaran yang perlu disampaikan namun perlu cara dan strategi dalam menjalankannya supaya bisa optimal dengan hasil yang akan didapatkan, benar dan bijak dalam menjalankannya.

Bijak bukan berarti terus menerus menggunakan berlemah lembut kepada pelaku kemaksiatan atau dimaknai terus menerus keras dan tegas dalam setiap keadaan. Pengobatan harus menyesuaikan dengan pasien yang akan di tuju, kapan tegas dan kapan menggunakan kelembutan, disesuaikan dengan kondisi , tarik ulur tetap menyesuaikan keadaan. Dengan cara seperti ini, berharap Allah memberikan hidayah dan keistiqamahan kepada kita semua.

Disamping terus dinasihati, juga tidak ada salahnya, dicoba mencarikan cara lain untuk mendekatkan kepada hidayah, antara lain mencoba menarik/mengajak sang adik kepada komunitas/teman yang mendukung untuk menjalankan syariat dalam menutup aurat atau yang lainnya. Karena sering kali teman lah yang sering mempengaruhi dalam pergaulan kehidupan seseorang.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dekati dan jaga terus menerus orang orang yang kita sayangi, dengan doa dan nasihat insyaallah akan di berikan hasil yang terbaik. Sambil terus meminimalkan fitnah yang ditakutkan terjadi kepada Anda, walau janganlah sampai malah ia semakin menjauh dan tidak terjangkau untuk di nasihati.

Tegas dan lembut pada tempat yang dibutuhkan, berharap Allah mengumpulkan semua di jalan hidyahNya, itulah hikmah atau kebijaksanaan yang dibutuhkan oleh semua pihak.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl/16:125]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah berada pada sesuatu melainkan akan membuatnya lebih bagus, dan tidak akan tercabut sesuatu darinya kecuali akan membuatnya jelek.” [HR. Muslim]

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut”. [Thaha/20:44]

Selalu berharap apa yang kita lakukan bisa menghasilkan hidayah dari Allah kepada kita semua dan orang orang yang kita cinta.

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
USTADZ MU’TASIM, Lc. MA. حفظه الله
Jumat, 2 Shafar 1443 H/ 10 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Tata Cara Shalat Dhuha Dhuha 4 Rokaat dengan Satu Salam

USTADZ MU’TASIM, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button