Menyikapi Intimidasi

Menyikapi Intimidasi

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz,  apakah yang dilakukan seorang muslim jika seorang muslim lainnya terus melakukan intimidasi secara psikologis hingga ke jejaring sosial?

Misalnya, jika ia menemukan sesuatu tidak seperti yang ia mau,  maka ia akan memaksa seluruh rekan kerjanya,  jika tidak berhasil juga maka ia update status disetiap medsosnya,  dengan menyindir dan lain sebagainya.

Jazakallah khairan.

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS T05

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ الله

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajmain.

Intimidasi adalah hal yang tidak mengenakkan, dengan mengetahui hakikat ini saja kita sudah bisa ambil kesimpulan bahwa itu hal yang terlarang.
Dalil pun banyak, diantaranya;

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” [HR Bukhari 10]

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا، وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا

“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari” [HR Bukhari 69]

Karenanya kita dianjurkan untuk berbuat lembut (baik itu nada bicara, atau kata-kata), Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek” [HR Muslim 2594]

Bahkan mengancam bagi yang tak bisa bersikap lembut,

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

“Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan”. [HR Muslim 2592]

Wallāhu a’lam
Wabillāhittaufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Kamis, 9 Rajab 1438H / 6 April 2017M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS