Menunda Kehamilan Sebab Menuntut Ilmu Syar’i

Menunda Kehamilan Sebab Menuntut Ilmu Syar’i

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Semoga Alloh melimpahkan rahmatnya kepada antum, Ustadz.
Apakah diperbolehkan bagi seorang istri untuk menunda kehamilan dengan sebab alasan sedang kuliah ilmu syar’i di sebuah ma’had islami?

Syukron Lakum

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam)

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terimakasih atas pertanyaannya, semoga Allah senantiasa memberkahi anti, mencintai anti sebagai mana anti mencintai agama-Nya.

Adapun pertanyaan apakah boleh seorang istri menunda kehamilan karena ingin menyelesaikan belajar di ma’had islami terlebih dahulu ? jawabnya boleh menunda kehamilan dengan cara-cara halal untuk terwujudnya kemaslahatan.

Syariat islam sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak keturunan agar semakin bertambah kekuatan kaum muslimin. Dan kelak nabi shalallahu alaihi wa sallam akan membanggakan banyaknya jumlah umat beliau di akhirat. Beliau bersabda :

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الأمم

“Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, karena aku akan membanggakan di hadapan umat yang lain pada kiamat dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. An-Nasa`i : 3227, Abu Dawud : 1789, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil : 1784).
Hanya saja boleh hukumnya menertibkan kehamilan, menjaga jarak kehamilan atau menunda kehamilan demi untuk merealisasikan suatu kemaslahatan asalkan dilakukan dengan cara-cara yang halal. Diantaranya dengan cara Al-’Azlu (menumpahkan air mani di luar kemaluan). Disebutkan di dalam shahih Muslim sebuah riwayat :

عن حديث جابر رضي الله عنه قال: جاء رجل من الأنصار إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: إن لي جارية هي خادمتنا وسانيتنا وأنا أطوف عليها وأنا أكره أن تحمل، فقال:”اعزل عنها إن شئت، فإنه سيأتيها ما قدر لها”.

“Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, datang seorang lelaki Anshar kepada rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, sesungguhnya aku memiliki budak wanita yang selalu membantu kami dan menurut pada kami, aku thawaf pun bersama dia dan aku enggan jika dia hamil. Maka nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, lakukanlah ‘Azl pada dia jika engkau ingin sesungguhnya apa yang telah ditaqdirkan untuk dia pasti akan datang padanya”. (Shahih Ibnu Hiban : 4194).

Al-Imam An-Nawawi juga berkata tentang hukum ‘Azl ini :

الْعَزْل هُوَ أَنْ يُجَامِع فَإِذَا قَارَبَ الإِنْزَال نَزَعَ وَأَنْزَلَ خَارِج الْفَرْج ، وَهُوَ مَكْرُوه عِنْدنَا فِي كُلّ حَال ، وَكُلّ اِمْرَأَة ، سَوَاء رَضِيَتْ أَمْ لا لأَنَّهُ طَرِيق إِلَى قَطْع النَّسْل , وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيث تَسْمِيَته ( الْوَأْد الْخَفِيّ ) لأَنَّهُ قَطْع طَرِيق الْوِلادَة كَمَا يُقْتَل الْمَوْلُود بِالْوَأْدِ . وَأَمَّا التَّحْرِيم فَقَالَ أَصْحَابنَا : لا يَحْرُم. ثُمَّ هَذِهِ الأَحَادِيث مَعَ غَيْرهَا يُجْمَع بَيْنهَا بِأَنَّ مَا وَرَدَ فِي النَّهْي مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه ، وَمَا وَرَدَ فِي الإِذْن فِي ذَلِكَ مَحْمُول عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ ، وَلَيْسَ مَعْنَاهُ نَفْي الْكَرَاهَة” اهـ باختصار .فالأولى بالمسلم أن لا يفعل ذلك إلا إذا احتاج إليه كما لو كانت المرأة مريضة لا تتحمل الحمل أو يشق عليها أو يضرها تتابع الحمل ، ولأن في العزل تفويتاً لبعض مقاصد النكاح وهو تكثير النسل والولد ، وفيه تفويت لكمال لذة المرأة

“‘Azl ialah seseorang melakukan jimak ketika telah dekat waktu keluar mani ia menumpahkan mani di luar kemaluan. ‘Azl ini makruh hukumnya di sisi kami pada semua keadaan pada semua wanita, baik wanita ini sedang menyusui maupun tidak. Karena ‘Azl ini adalah metode untuk memotong keturunan, oleh karenanya tersebut dalam hadis penyebutan untuk nama lain ‘Azl ini “Al-Wa’dul Khofi/Aborsi Terselubung”.
Karena ia memotong jalan untuk kelahiran anak sebagaimana bayi yang diaborsi. Adapun jika dikatakan ‘Azl ini haram, para sahabat kami mengatakan ; tidak haram. Kemudian hadis-hadis ini dikumpulkan semuanya dan hadis yang menyebutkan adanya larangan ‘Azl ini dibawa kepada makna makruh tanzih. Dan hadis yang menyebutkan adanya izin untuk melakukan ‘Azl ini dibawa kepada hukum tidak haram”. (10/9).
Dan mengenai hukum seorang istri yang menunda kehamilan karena ingin belajar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid berkata :

فالأولى بالمسلم أن لا يفعل ذلك إلا إذا احتاج إليه كما لو كانت المرأة مريضة لا تتحمل الحمل أو يشق عليها أو يضرها تتابع الحمل ، ولأن في العزل تفويتاً لبعض مقاصد النكاح وهو تكثير النسل والولد ، وفيه تفويت لكمال لذة المرأة

“Yang lebih utama bagi seorang muslim ialah ia jangan melakukan ‘Azl ini kecuali dalam keadaan ia membutuhkan seperti misalnya sang wanita sedang sakit dan tidak mampu menahan beratnya masa kehamilan, atau akan terkena madharat jika ia hamil secara beruntun. Dan karena di dalam ‘Azl ini terdapat unsur penghilangan beberapa tujuan menikah yatitu memperbanyak keturunan dan anak, dan terdapat penghilangan slah satu unsur kesempurnaan seorang wanita”. (Fatwa Islam No. 12529).
Di sisi lain kegiatan menuntut ilmu syar’i baik itu di ma’had atau di tempat lain adalah kegiatan yang sangat agung dan mulia, ia tidak akan mampu ditandingi oleh amal shalih manapun selaku pelakunya benar-benar ikhlas mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan berniat ingin menyingkirkan kejahilan dari diri dan orang lain. Maka tidak mengapa insya’Allah bagi si istri tadi untuk menunda kehamilan demi terwujudnya cita-cita yang mulia ini. Al-Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan :

ومن أعظم الجهاد: سلوك طرق التعلّم والتعليـم؛ فإن الاشتغـال بذلك لمن صحـت نيـتـه لا يوزنه عمل من الأعمال، لما فيه من إحياء العلم والدين، وإرشاد الجاهلين، والدعوة إلى الخير، والنهي عن الشر، والخير الكثير الذي لا يستغني العباد عنه؛ فمن سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل له به طريقاً إلى الجنة

“Dan diantara bentuk jihad yang paling agung adalah menempuh jalan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya. Karena menyibukan diri dengan kedua hal tersebut bagi yang lurus niatnya maka tidak bisa ditandingi oleh amal manapun. Karena di dalamnya terdapat usaha untuk menghidupkan ilmu dan agama, menunjuki orang-orang jahil, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran serta kebaikan yang sangat banyak sekali yang sangat dibutuhkan oleh semua hamba. Dan barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan jalan baginya ke syurga”. (Al-Fatawa As-Sa’diyah, Masalah ke-9 : 45).

Meski demikian jika memungkinkan untuk menggabungkan antara dua kebaikan menuntut ilmu di mahad dan memiliki anak sekaligus, inilah yang terbaik. Inilah cahaya di atas cahaya. Kita menuntut ilmu agama di ma’had, di sisi yang lain kita juga mengasuh dan mendidik anak di atas sunnah rasulillah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan betapa banyak kisah nyata baik di zaman dahulu maupun zaman sekarang tentang para penunutut ilmu yang mampu menggabungkan dua kebaikan ini. Namun masing-masing manusia dimudahkan untuk menempuh apa yang Allah mudahkan baginya.

Wallahu a’lam.

Referensi :

Shahih Ibnu Hiban oleh Al-Imam Al-Albani.
Syarah Shahih Muslim oleh Al-Imam An-Nawawi
Al-Fatawa As-Sa’diyah oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di
Fatwa Islam no.12529

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati

CATEGORIES
Share This

COMMENTS