Menjual Makanan Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Lantas, bagaimanakah hukumnya apabila menjual makanan di siang hari bulan Ramadhan?

Alhamdulillah was sholatu was salaamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Allah mewajibkan bagi hambanya untuk berpuasa, menahan diri dari segala apa saja yang membatalkan puasa, baik makan, minum, berhubungan biologis dengan istri dari semenjak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Sengaja Berbuka Tanpa Udzur Syar’i, Maka Berdosa

Barang siapa yang sengaja berbuka tanpa ada uzur syari maka ia berdosa, karena ia tidak mengindahkan perintah Allah dan tidak menghormati bulan yang mulia ini.

Dari sedikit paparan di atas, bisa disimpulkan bahwa kita dituntut untuk mentaati perintah Allah Ta’ala untuk berpuasa, juga untuk memuliakan bulan ini, selain bentuk ketaatan yang kembali kepada diri sendiri, juga ketaatan agar tidak menjadi jembatan dosa bagi orang lain untuk bermaksiat kepada Allah.

Hukum Menjual Makanan di Siang Hari Bulan Ramadhan

Menjual makanan ataupun minuman di siang hari bulan Ramadhan merupakan perbuatan yang sangat ditakutkan akan menjadi wasilah/perantara seseorang untuk tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadhan, jika yang demikian terjadi, jadilah bulan mulia ini menjadi tidak termuliakan, sebagaimana perintah Allah menjadi tidak diindahkan.

Oleh karenanya, para ulama telah membahas hukum menjual makanan di siang hari bulan Ramadhan dalam beberapa fatwa mereka, di antaranya yang ada dalam fatwa-fatwa berikut:

Beberapa Fatwa Ulama

Fatwa dari website islamweb.com di bawah kementrian waqaf negara Qatar,

فلا يجوز بيع الطعام في نهار رمضان للمسلم المكلف ولا للكافر إلا لمن كان له عذر في الإفطار

“Tidak diperkenankan menjual makanan di siang hari bulan ramadhan, baik untuk seorang muslim mukallaf (baligh, berakal) maupun kepada non muslim, kecuali di peruntukkan bagi orang yang memiliki uzur untuk tidak berpuasa.”[1].

Juga dalam fatwa website islamqa.com di bawah asuhan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid,

لا يجوز بيع الطعام في نهار رمضان لمن عُلم أو غلب على الظن أنه يأكله نهارا، إلا لمريض أو مسافر ونحوهما من أهل الأعذار، ولا فرق في ذلك بين المسلم والكافر

“Tidak diperkenankan untuk menjual makanan di siang hari bulan ramadhan kepada orang yang diketahui secara pasti, atau diketahui dengan prasangka kuat bahwa dia akan makan di siang hari, kecuali jika ia jual pada orang sakit, atau musafir, atau semisalnya dari para pemilik udzur, larangan tersebut tidak ada bedanya baik untuk orang muslim maupun kafir.”[2].

Kenapa Menjual Makanan Untuk Orang Kafir Juga Dilarang?

Karena sejatinya orang kafir pun juga mendapat beban syari’at, pada dasarnya mereka juga diperintahkan untuk menunaikan cabang-cabang syari’at, di antaranya berpuasa ramadhan sebagaimana kaum Muslimin, hal ini disampaikan oleh al-Nawawi berikut,

” والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون: أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير، كما يحرم على المسلمين

Baca Juga:  Apa Hukum Mendoakan Orang Kafir Selain Doa Ampunan?

انتهى من شرح مسلم 39/14

“Pendapat yang benar yang dipegang oleh para ulama muhaqqiq dan mayoritasnya adalah: bahwa orang kafir sejatinya juga termasuk orang yang dibebani cabang-cabang syariat, maka haram bagi mereka mengenakan sutera sebagaimana haram untuk kaum Muslimin”[3].

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa orang kafir itu juga mendapatkan beban syari’at adalah firman Allah ta’ala,

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ

“Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (al-Muddatsir: 42-42).

Sisi pendalilannya: bahwa ayat tersebut sedang menceritakan orang-orang kafir yang masuk neraka saqar, mereka ditanya apakah yang menyebabkan mereka masuk neraka saqar, mereka menjawab bahwa kami dahulu bukan termasuk orang yang mengerjakan sholat.

Padahal sholat adalah salah satu cabang syari’at sebagaimana puasa, haji dan lainnya, dan jika orang kafir kelak diadzab karena tidak sholat, maka merekapun juga akan diadzab karena meninggalkan aturan yang lain,  ini menunjukkan bahwa sejatinya mereka juga terkena beban syariat sebagaimana kaum Muslimin mendapatkan beban syariat lainnya seperti sholat, zakat, puasa, dll, walaupun kewajiban inti orang kafir yang utama adalah masuk islam terlebih dahulu.

Berikut beberapa ulama klasik yang tegas menjelaskan haramnya menjual makanan kepada orang kafir:

Berkata Syamsuddin Al-Romly dalam Nihayatu al-Muhtaj,

ومثل ذلك: إطعام مسلم مكلف ، كافرا مكلفا في نهار رمضان، وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا، كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى؛ لأن كلا من ذلك تسبب في المعصية ، وإعانة عليها ، بناء على تكليف الكفار بفروع الشريعة، وهو الراجح

“Termasuk yang dilarang adalah seperti memberi makan seorang muslim mukallaf (baligh, berakal) di siang hari bulan Ramadhan, atau memberi makan seorang kafir yang mukallaf, sebagaimana dilarang menjual makanan kepadanya (kafir) jika ia (penjual) tahu betul, atau berprasangka kuat bahwa ia akan memakannya di siang hari, ini sebagaimana yang difatwakan oleh ayahanda (Syihabud dien al-romly), karena kedua hal tersebut menyebabkan timbulnya maksiat dan bentuk tolong menolong dalam kemaksiatan, pendapat ini didasarkan pada masalah bahwa orang kafir itu juga mendapat beban cabang-cabang syariat, dan inilah pendapat yang rajih”[4].

Berkata Syaikh Sulaiman al-Jamal dalam hasyiah beliau atas Syarah Kitab Manhaju al-Tullab:

وعدم منعه من الإفطار لا ينافي حرمته عليه فإنه مكلف بفروع الشريعة ومن ثم أفتى شيخنا م ر [= الرملي] بأنه يحرم على المسلم أن يسقي الذمي في رمضان ، بعوض أو غيره ، لأن في ذلك إعانة على معصية

Baca Juga:  Apakah Dapat Pahala Bila Istri Berinfaq Dari Harta Suami ?

“Tidak menghalangi orang kafir untuk iftor (berbuka) bukan berarti tidak menafikan bahwa apa yang ia lakukan itu hukumnya haram, karena sejatinya orang kafir pun mendapat beban cabang-cabang syariat, dan itulah yang difatwakan oleh Syaikh kami (al-Romly) bahwa diharamkan atas seorang muslim untuk memberi minum kafir dzimmi di siang hari Ramadhan, baik dengan ganti (jual beli) ataupun tidak (free), karena hal tersebut merupakan bentuk tolong-menolong dalam maksiat”[5].

Kesimpulan

Dari paparan di atas, sekali lagi kita sampaikan bahwa menjual makanan di siang hari bulan ramadhan hukumnya terlarang, baik orang muslim ataupun kafir, kecuali jika menjualnya untuk orang-orang yang mendapatkan udzur seperti musafir, perempuan haid atau nifas, perempuan hamil atau menyusui yang tidak berpuasa, seorang yang tua renta atau sakit yang tidak mampu berpuasa, yang demikian diperbolehkan.

Boleh juga menjual makanan di siang hari bulan Ramadhan jika diketahui secara pasti, atau diketahui dengan prasangka kuat bahwa makanan yang dibeli akan dipergunakan untuk bekal makan sahur atau untuk persiapan berbuka puasa, ini sebagaimana yang disampaikan oleh syaikh Dr. Sulaiman al-Ruhaily berikut,

المطاعم في نهار رمضان لا بأس من فتحها في النهار إذا لم يعلم أن الناس يأكلون في النهار، لأن الناس يشترون أغراضهم للإفطار وللسحور ونحو ذلك

“Kedai-kedai yang menjajakan makanan di siang hari bulan Ramadhan tidak mengapa untuk dibuka di siang hari jika tidak diketahui bahwa mereka akan memakannya di siang hari, karena orang-orang biasanya juga membeli kebutuhan mereka tujuannya untuk persiapan berbuka maupun untuk sahur dan semisalnya”[6].

Kita bisa mengetahui demikian misalnya dengan bertanya kepada pembeli, atau misal dengan membuka warung atau outlet makanan ketika mendekati waktu berbuka puasa, karena mayoritas dari para konsumen yang membeli biasanya mereka membeli makanan untuk persiapan berbuka puasa, jika demikian maka boleh baginya untuk berjualan.

Ramadhan bulan yang berkah wahai saudaraku, tidak perlu merasa sedih, merasa sempit rezeki dengan datangnya bulan Ramadhan karena kita kurang leluasa untuk menjual makanan.

Masih ada trik-trik berjualan yang diperbolehkan agar rezeki tetap lancar,  seperti dengan membuka di sore hari untuk persiapan berbuka puasa, atau membuka warungnya diganti di malam hari, atau mempromosikan makanannya untuk bisa dipesan sebagai makanan sahur atau buka puasa jamaah pengajian, dan upaya-upaya lainnya, in sya Allah jika kita bersungguh-sungguh akan Allah beri jalan.

Dan perlu dicatat, bahwa seluruh rezeki kita sudah di bagi sebelum penciptaan langit dan bumi, tidaklah ada jiwa melainkan sudah ditetapkan rezekinya, maka tidak perlu takut dengan masalah rezeki, Allah berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Baca Juga:  Allah Maha Adil, Inilah Hikmah Poligami Bagi Wanita

“Dan tidak ada suatu makhluk yang melata di muka bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”[7].

Semoga kita bisa senantiasa menjaga batasan-batasan syariat ini dengan baik, bisa mendapatkan label ketakwaan dari Allah ta’ala, tidak lain tidak bukan tentunya dengan senantiasa meminta taufiq dari-Nya dan berupaya untuk mengamalkan syariatnya.

Wallahu a’lam.

[1] Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/67684/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A8%D9%8A%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%B7%D8%B9%D8%A7%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D9%86%D9%87%D8%A7%D8%B1-%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86

 

[2] Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/251113/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A8%D9%8A%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%B7%D8%B9%D8%A7%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D9%86%D9%87%D8%A7%D8%B1-%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D9%84%D9%84%D9%83%D8%A7%D9%81%D8%B1

 

[3] al-Minhaj Syarh Sohih Muslim jilid:14 hal:39

[4] Nihayatu al-Muhtaj jilid:3 hal:471

[5] Hasyiah al-Jamal ‘ala syarhi Manhaji al-Tullab jilid:10 hal:310

[6] Lihat: https://youtu.be/0E270hmVfa0

 

[7] Hud: 6

Disusun oleh:

Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Jum’at, 04 Ramadhan 1442 H/ 16 April 2021 M

Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  klik disini