Meninggalkan Kelompok / Grup Yang Tidak Bermanfaat

Meninggalkan Kelompok / Grup Yang Tidak Bermanfaat

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz,
Bagaimana hukumnya bila kita meninggalkan suatu kelompok yang dahulu sebelum berhijrah pernah bersahabat dekat dengan mereka, tetapi saat sekarang sudah berhijrah ingin meninggalkan kelompok tersebut dikarenakan baru disadari terlalu banyak hal yang tidak bermanfaatnya (misalnya : dalam grup WA gabungan ikhwan dan akhwat hanya untuk canda-candaan, mengirim gambar yang tidak penting, kumpul sekedar nongkrong tidak ada hal positif yang dilakukan), apakah bila meninggalkan grup tersebut termasuk memutuskan silaturahmi?

Jika ya, bukankah silaturahmi itu hanya dengan saudara sedarah? Sedangkan mereka bukan saudara sedarah, melainkan orang lain yang memang pernah dekat karena satu kampus / satu organisasi.

Lalu bagaimana bila saya tiba-tiba meninggalkan grup tersebut tanpa memberitahukan kepada mereka bahwa yang mereka lakukan itu salah, apakah saya berdosa?
Ataukah saya akan lebih berdosa bila tetap berada dalam grup tersebut?

Lalu bagaimana bila mereka sudah diberi tahu untuk kebaikan tetapi mereka acuh dan malah mendebat? Apakah saya harus diam atau meninggalkan grup tersebut?

Mohon penjelasan dan sarannya, syukron.

(Sahabat BiAS T06 G-XX)

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

MasyaAllah, semoga Allah senantiasa anugrahkan kepada kita tambahan hidayah, demikian pula untuk saudara-saudara kita kaum muslimin seluruhnya.

Ketika kita memutuskan untuk meninggalkan sahabat-sahabat kita dahulu yang masih berada di dalam kemaksiatan, itu bukan bentuk memutus tali ukhuwwah. Justru Islam memerintahkannya… agar kita tidak menyesal telah berkawan dengan fulan dan alan karena mereka mempengaruhi kita dengan keburukan serta kemaksiatannya.

Allah ta’ala berfirman mengisahkan  penyesalan orang yang salah pilih sahabat

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّ‌سُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ﴿٢٨﴾ لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ‌ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا

“Dan ingatlah pada hari kiamat itu nanti orang yang gemar melakukan kezaliman akan menggigit kedua tangannya dan mengatakan, ‘Aduhai alangkah baik seandainya dahulu aku mengambil jalan mengikuti Rasul itu.

Aduhai sungguh celaka diriku, andai saja dulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman dekatku.

Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan itu (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.’  Dan memang syaitan itu tidak mau memberikan pertolongan kepada manusia.” (QS. Al-Furqan : 27-29)

Yang mungkin bagi kita adalah mengajak mereka agar mereka merasakan nikmatnya hidayah seperti yang kita rasakan. Dengan nasehat yang santun, ramah, berwibawa, dan dengan ilmu tentunya.

Jika mereka mendebat dan tidak mau menerima, di sisi yang lain kita mengkhawatirkan diri kita maka keluar adalah jalan terbaik.

Berpamitanlah baik-baik, sampaikan alasan dengan sopan agar mereka tidak merasa dizalimi.

Tutuplah ending pamitan anda (setelah penjelasan santun tentunya),  dengan ungkapan-ungkapan indah tulisan para ulama, seperti misalnya bait syair berikut ini :

فَوَاللَّهِ مَا فَارَقْتُكُمْ قَالِيا لَكُمْ … وَلَكِنَّ مَا يُقْضَى فَسَوْفَ يَكُوْنُ

“Demi Allah, tidaklah aku meninggalkan kalian karena benci terhadap kalian. Namun begitulah suratan takdir yang Allah gariskan mesti terjadi.” (Syarah Al-Asmuni : 1/218).

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Jum’at, 03 Rabi’ul Awwal 1438 H / 02 Desember 2016 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS