page hit counter

Menikah Menghapus Dosa Zina

Menikah Menghapus Dosa Zina

MENIKAH MENGHAPUS DOSA ZINA?

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Pertanyaan dari Sahabat BiAS:

Afwan ustadz, semoga Allaah Subhanallaahu wa Ta’ala selalu melindungi antum dan keluarga.

Terkait pembahasan yang ustadz sampaikan pada kesempatan ini, ada seorang teman sebut saja fulan, pernah melakukan kemaksiatan bersama mantan pacarnya, qadarullaah mereka akhirnya menikah dan alhamdulillaah sudah dikaruniai amanat yang insyaallah sholih dan sholihah.

Berjalannya waktu mereka tidak pernah terlintas untuk mengucapkan kata tobat, namun selama membina keluarga, tidak pernah lagi melakukan kemaksiatan.

Pertanyaannya:
Apakah keduanya sudah dikatakan bertobat, atau cukup sudah dengan adanya pernikahan dan memperbanyak amal sholih kemudian tidak melakukan kemaksiatan lagi itu dikatakan bertobat?

Mohon penjelasan dari ustadz

Syukron wa jazaakallaahu khoiron

( Ditanyakan :Imron Solikhin, Admin BiAS)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Semoga kita semua, anda dan saya, termasuk orang-orang yang dicondongkan hatinya untuk cinta pada kebaikan serta tidak menunda-nunda taubat.

Alloh Jalla wa ‘Alaa berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang sungguh-sungguh (taubat nasuha)”. (QS At-Tahrim 8)

Syekh Abdurrahman Assa’di menjelaskan, “Dalam ayat ini Alloh telah memerintahkan kaum mukminin untuk bertaubat dengan taubat nasuha”. (Taisir Karimirrahman, 874)

Dan hakikat taubat nasuha adalah perbuatan, bukan ucapan. Jika telah memenuhi syarat-syarat taubat, maka bisa disebut telah bertaubat.

Apa saja syarat-syarat tersebut?
1. At-Tarku : Meninggalkan perbuatan maksiat tersebut.
2. An-Nadmu : Menyesali telah melakukan perbuatan maksiat tersebut.
3. Al-‘Azmu : Bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Tiga syarat di atas akan bertambah jika ada kaitannya dengan hak orang lain, seperti hutang, fitnah, kedzoliman, dll, yakni harus meminta kehalalan atau keridhoan orang yang kita kita rugikan tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, zina termasuk kategori dosa besar yang hanya bisa hilang dengan taubat. Karena itu, semata-mata menikah *belum menghapus* dosa zina yang pernah dilakukan, sebab menikah bukanlah syarat taubat itu sendiri. Kecuali jika pernikahan ini dilangsungkan atas dasar syarat taubat di atas, yakni menyesali perbuatan zina yang telah dilakukan, dan solusi agar tidak mengulangi perbuatan zina. Jika menikah atas dasar ini, Insya Alloh status pernikahannya bagian dari taubat untuk perbuatan zina itu.

Karenanya sebagian ulama justru menyarankan agar orang yang pernah melakukan zina untuk segera menikah jika telah sama-sama taubat, dalam rangka menutupi aib keduanya. Karena jika berpisah akan sangat merugikan pihak wanita, sebab tidak ada lelaki yang bangga dengan seorang istri yang pernah dinodai orang lain.

Intinya, taubat dapat terwujud dengan penyesalan dan berjanji tidak mengulangi perbuatan maksiat. Apabila anda telah menyesali terjadinya perbuatan haram tersebut dan bertekad untuk meninggalkannya, kemudian anda melakukan pernikahan, maka pernikahan itu salah satu bentuk taubat anda.

Namun yang perlu diingat bahwa taubat haruslah ikhlas karena Alloh, bukan karena akan menikah. Menikah itu hanya salah satu bentuk atau konsekuensi dari solusi zina, tak akan berarti tanpa keikhlasan. Bertaubatlah dengan ikhlas karena sejatinya Alloh mencintai hamba-hambaNya yang bertaubat.

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS Al-Baqoroh 222).

Dan bersungguh-sungguhlah dalam bertaubat, karena pertaubatan yang benar akan menggugurkan dosa,
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak memiliki itu dosa”. (HR Ibnu Majah 4250).

Semoga Alloh senantiasa melembutkan hati-hati yang keras, dan menggolongkan kita pada hamba yang berhati lembut.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Tanya Jawab
Grup WA Admin Ikhwan Bimbingan Islam
Senin, 10 Jumadal Akhir 1439H / 26 Februari 2018M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS