Mengucapkan “Kita yang Menciptakan, Allah” Tidak Sengaja, Apakah Dosa?

Mengucapkan “Kita yang Menciptakan, Allah” Tidak Sengaja, Apakah Dosa?

Mengucapkan “Kita yang Menciptakan, Allah” Tidak Sengaja, Apakah Dosa?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang mengucapkan “kita yang menciptakan, Allah” tidak sengaja, apakah berdosa?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah menjaga Ustadz dan keluarga.
Afwan ijin bertanya Ustadz.

Ada seorang fulanah yang mengajar di TK Sunnah, dia sudah cukup paham terhadap manhaj salaf.
Pernah ketika menerangkan kepada anak-anak, dia mengatakan “kita yang menciptakan, Allah”

Apakah ada masalah di kalimat tersebut Ustadz?
Karena setelah mengatakan itu dia seperti merasa ada yang salah, tapi dalam hatinya bermaksud menyampaikan bahwa “kita yang menciptakan adalah Allah”
Jazaakumullaahu khayran wa baarakallaahu fiikum.

Tanya Jawab Mahad Bimbingan Islam 1441 H
(Disampaikan Oleh Fulanah – Santri Mahad BIAS 1441 H)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal Ikhwan wal Akhwat Baarakallah Fiikum Jami’an

Pernyataan seperti ini insyaAllah tidak mengapa. Apalagi saat itu, ia pasti tidak bermaksud mengatakan “Kita adalah yang menciptakan Allah”

Tapi, pasti seorang yang beriman bermaksud mengatakan hal tersebut dengan maksud “Kita yang menciptakan adalah Allah”

Dan hal ini tidak berdosa insyaAllah. Sebagaimana seorang yang dikisahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits tentang taubat, dimana orang tersebut mengatakan : Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan Aku ini Tuhan-Mu

Secara lengkap, haditsnya sebagaimana berikut ini:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sungguh kegembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian ketika ia bersama hewan tunggangannya di sebuah padang pasir yang luas, namun tiba-tiba hewan tersebut lepas, padahal makanan dan minumannya diatas hewan tersebut.

Hingga akhirnya dia merasa putus asa untuk menemukannya kembali. kemudian ia tidur terlentang di bawah pohon dalam keadaan putus asa (bersiap untuk dijemput kematian).
Namun di saat itu, tiba-tiba dia mendapatkan untanya sudah berdiri di sampingnya. Ia pun segera mengambil tali kekangnya kemudian berkata :

‘Ya Allah Engkau hambaku dan aku ini Tuhan-Mu.’ Dia telah salah berdo’a karena terlalu senang.”
(HR. Muslim no 2747)

Dan ketika memberikan faedah dalam hadits ini, syaikh Salim bin Ied Al-Hilali menyebutkan:

عدم المؤاخذة في الخطأ غير المعتمد

“Tidak dihukumnya seorang yang salah karena tidak sengaja”

Dan perasaan bersalah tersebut ada pada diri seorang muslim maka itu suatu hal yang baik. Tapi jangan sampai perasaan tersebut mengalahkan husnudzan kita kepada Allah. Serta jangan sampai perasaan tersebut membuat kita melakukan yang salah atau melemahkan kita dalam ketaatan.

Wallahu a’lam
Wabillahittaufiq

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc حفظه الله
📆 Kamis, 08 Rabiul Akhir 1441 H/ 05 Desember 2019 M



Ustadz Ratno, Lc.
Dewan Konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), Alumni Universitas Islam Madinah jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS