FiqihKonsultasi

Mengqadha Shalat Yang Di Tinggalkan Dengan Sengaja

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Mengqadha Shalat Yang Di Tinggalkan Dengan Sengaja

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Mengqadha Shalat Yang Di Tinggalkan Dengan Sengaja, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Seseorang di masa mudanya meninggalkan shalat selama puluhan tahun, jadi kadang bolong-bolong kadang juga meninggalkan total seluruh shalat. Selain taubat nasuha, syarat apalagi yang harus ia lakukan agar kembali ke jalan yang benar, ustadz?

Karena pendapat ulama yang ia baca mengatakan orang yang pernah meninggalkan shalat secara total telah kafir, maka ia kembali mengucap syahadat sendiri (jadi bukan di hadapan orang lain seperti syahadatnya orang yang baru masuk islam) dan ia juga telah mandi taubat. Ia juga telah membaca beberapa artikel yang mengatakan bahwa ulama 4 mazhab mewajibkan mengqadha seluruh shalat di masa lalu yang ia tinggalkan tersebut karena amalan yang pertama kali dihisab adalah shalat, jadi sekarang ia telah mulai mencicilnya.

Tapi setelah mengenal manhaj salaf, ulama-ulama yang ia tonton justru mengatakan tidak berguna shalat-shalatnya itu alias tidak disyariatkan diganti, cukup perbanyak amalan-amalan sunnah. Meski begitu, hatinya lebih condong ke pendapat yang mengatakan wajib di qadha semua shalat-shalat tersebut.

Manakah pendapat yang benar dalam masalah ini, ustadz? Ia ingin mengikuti pendapat ulama salaf tapi di sisi lain ia juga takut jika ia jatuh ke dalam hal bermudah-mudah (banyak dosa tapi mau ambil enaknya saja dalam bertaubat) serta takut hisab shalatnya buruk karena tidak menggantinya selama ini sehingga ia kekal di neraka, karena meninggalkan shalat dihukumi kafir.

Mohon penjelasannya ustadz, agar ia bisa mengambil pendapat yang bisa dipertanggung jawabkan di akhirat kelak dan ia bisa tenang terkait masalah akhiratnya ini

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Shalat yang ditinggalkan karena sengaja akibat dari iman yang mulai goyah, rasa malas yang sangat tinggi, ilmu yang tidak memadai, menurut jumhur ulama tetap ada qadha’ bagi shalat yang ditinggalkan dengan sengaja.

Namun, sebagian ulama berpandangan bahwa tidak wajib qadha’ bagi yang rnmeninggalkan shalat dengan sengaja. Kalau dia mengqadha’nya, maka tindakan itu menjadi sia-sia. Ini adalah rnpendapatnya sahabat Umar bin Al-Khattab, Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Dan tidak ada satupun dari sahabat yang menyelisihi mereka. Ini juga pendapatnya Al-Qashim bin Muhammad, Muhammad bin Sirin, Umar bin Abdul Aziz dan beberapa ulama dalam madzhab Syafi’i, Dawud Adz-Dzahiri, Ibnu Hazm, Ibnurn Taimiyah, Syaikh Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dan yang lainnya Rahimahumullahu Jami’an.

Yang jelas orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja telah terjatuh dalam dosa besar.

Pendapat ini juga berdasarkan banyak dalil. Di antara dalil yang mereka sebutkan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu diwajibkan atas kaum mukminin sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.” (QS. An-Nisa'[4]: 103)

Mereka mengatakan bahwa sebagaimana shalat fardhu tidak boleh dilakukan sebelum waktunya, maka shalat fardhu juga tidak boleh dilakukan setelah lewat waktunya. Dan orang yang meninggalkan shalat tanpa disengaja berarti sengaja melakukan shalat fardhu setelah selesai waktunya. Sebagaimana shalatnya orang sebelum waktunya tidak sah, maka shalatnya orang setelah waktunya pun tidak sah.

Hal ini karena waktu shalat sudah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ada awal dan ada akhirnya. Sehingga tidak boleh bagi orang-orang yang tidak punya udzur untuk menjalankan shalat di luar waktu.

Berarti orang yang sengaja meninggalkan shalat tidak boleh mengganti shalatnya, karena otomatis dia akan shalat di luar waktunya. Ini juga cara pendalilan yang sangat kuat. Dan para ulama sepakat apabila seseorang melakukan shalat ketika belum datang waktunya, maka shalatnya tidak sah.

Dalil kedua yang mereka sebutkan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Celakalah orang-orang yang punya kewajiban shalat, yang mereka melalaikan shalatnya.” (QS. Al-Ma’un[107]: 4-5)

Dia punya kewajiban shalat tapi ternyata melalaikan shalatnya, sehingga tidak menjalankan shalatnya saat shalat tersebut diwajibkan. Ini dalil yang menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syariat, maka orang yang seperti ini adalah orang yang celaka.

Kewajibannya adalah bertaubat kepada Allah yaitu menyesal, kembali lagi mengerjakan shalat, dan bertekad tidak akan meninggalkannya lagi pada masa akan datang.

Hendaklah ia rajin mengerjakan pula amal shalih dan menutup kesalahannya dengan rajin mengerjakan shalat sunnah.

Ibnu Hazm Rahimahullah berkata,

وَأَمَّا مَنْ تَعَمَّدَ تَرْكَ الصَّلَاةِ حَتَّى خَرَجَ وَقْتُهَا فَهَذَا لَا rnيَقْدِرُ عَلَى قَضَائِهَا أَبَدًا، فَلْيُكْثِرْ مِنْ فِعْلِ الْخَيْرِ rnوَصَلَاةِ التَّطَوُّعِ؛ لِيُثْقِلَ مِيزَانَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛ rnوَلْيَتُبْ وَلْيَسْتَغْفِرْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Adapun orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja sampai keluar waktunya, maka tidak ada qadha’ baginya selamanya. Hendaklah ia memperbanyak amalan kebaikan dan rajin mengerjakan shalat sunnah untuk memberatkan timbangannya pada hari kiamat. Hendaklah ia bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan-Nya.”(Lihat kitab Al-Muhalla, 2:235).

Sehingga kalau ada orang yang sudah lama jauh dari Islam, shalatnya dia sepelekan, maka orang yang seperti ini tidak punya kesempatan lagi untuk meng-qadha’ shalatnya. Yang diwajibkan kepadanya adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan taubat akan menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu.

Adapun shalat yang telah lalu yang dia tinggalkan tidak bisa diselamatkan lagi. Itu konsekuensi. Dia kehilangan banyak keutamaan atau pahala dalam hidupnya. Kalau dia ingin menambah pahalanya, maka perbanyak shalat sunnahnya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

“Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat nanti adalah shalatnya.”

Apabila shalatnya baik, maka dia telah beruntung dan selamat. Apabila shalatnya rusak, maka dia telah celaka dan merugi. Apabila shalat fardhunya ada yang kurang, maka Allah sebagai Rabb Tabaraka wa Ta’ala mengatakan kepada para malaikat-Nya: “Lihatlah apakah hamba-Ku ini punya shalat sunnah yang bisa melengkapi kekurangan di shalat fardhunya?’ Kemudian amal-amal yang lainnya akan diperlakukan dengan perlakuan yang sama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i)

Lihatlah betapa tingginya kedudukan shalat di dalam Islam. Maka bagi yang masa lalunya kelam, banyak meninggalkan shalat fardhu, bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perbanyak shalat-shalat sunnah. Juga perbanyak amalan-amalan kebajikan lainnya. Mungkin saja dengan shalat-shalat sunnah tersebut akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari siksa api neraka.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button