Wanita

Menghadiri Family Gathering ke Luar Kota Tanpa Mahram

Menghadiri Family Gathering ke Luar Kota Tanpa Mahram

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan mengenai menghadiri family gathering ke luar kota tanpa mahram. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Misalnya Family Gathering dari tempat kerja, 3 hari 2 malam d luar kota tnpa mahram boleh kah Kak?

Karena belum bersuami, jadi bersama team kerja sesama perempuan yang juga belum bersuami. Sedangkan seluruh karyawan tersebut. Ada yang belum berkeluarga dan ad juga yang sudah berkeluarga.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)


Jawaban:

Jika jarak luar kota tersebut terhitung sebagai safar, maka tidak boleh seorang perempuan melakukan safar kecuali ditemani oleh suami atau mahramnya, karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تُسافر امرأةٌ إلا مع ذي محرمٍ

“Janganlah seorang perempuan melakukan safar melainkan dibarengi dengan mahramnya”. (HR. Bukhari).

Dalam fatwa islamweb di bawah kementerian wakaf Qatar disebutkan:

وجاء النهي عن سفرها بلا محرم مطلقاً من غير تحديد مدة السفر. فدل على أن كل ما يسمى سفراً تنهى عنه المرأة بغير زوج أو محرم

Baca Juga :  Resign dari Tempat Kerja Ikhtilat, Tasyabuh, Tapi Orang Tua Kecewa

“Telah datang larangan dalam hadist perihal safarnya perempuan tanpa dibarengi mahram secara mutlak, dengan tanpa ada batasan lamanya safar. Ini menunjukkan bahwa setiap yang disebut sebagai safar maka perempuan dilarang untuk melakukannya tanpa dibarengi suaminya atau mahramnya”. Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/6219/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%B3%D9%81%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B1%D8%A3%D8%A9-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%B7%D8%A7%D8%A6%D8%B1%D8%A9-%D8%AF%D9%88%D9%86-%D9%85%D8%AD%D8%B1%D9%85

Jadi kalau memang itu terhitung sebagai jarak safar, maka wajib mahram menemani, kewajiban ini hanya berlaku di jalan saja, tidak harus menemani ketika sudah di tempat tujuan. Dalam fatwa islamweb di bawah kementerian wakaf Qatar juga disebutkan:

أمّا اشتراط المحرم للمرأة فهو يختصّ بالطريق، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم:

“Adapun persyaratan adanya mahram bagi perempuan ketika safar, itu terkhusus ketika dalam perjalanan, berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ. متفق عليه.

(Janganlah seorang lelaki berduaan dengan perempuan melainkan harus dibarengi mahram, dan janganlah seorang perempuan safar melainkan dibarengi dengan mahram. HR. Bukhari & Muslim)

فإذا أوصلها المحرم إلى موضعها الذي تسكن فيه رجع ـ إن أمن عليها ـ ولا يشترط لإقامتها في بلد آمن أن يقيم معها

محرمها

“Jika si mahram telah mengantarkannya di tempat tujuan ia akan tinggal, mahram boleh pulang jika sudah merasa aman pada si perempuan, dan tidak dipersyaratkan si mahram harus ikut tinggal di tempat itu”. Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/130920/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A5%D9%82%D8%A7%D9%85%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B1%D8%A3%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D8%A8%D9%84%D8%AF-%D8%A8%D8%AF%D9%88%D9%86-%D9%85%D8%AD%D8%B1%D9%85

Jadi mahram anda mengantarkan anda di tempat acara, setelahnya anda boleh ditinggal pulang jika memang lokasi acara anda telah dipastikan aman, aman dari campur baur lelaki perempuan, tempat itu khusus perempuan, aman dari sisi keamanan, aman dari mata para lelaki, maka yang demikian diperbolehkan, nanti setelah acara selesai mahram anda menjemput lagi, atau jika memang repot antar jemput, bagusnya sekalian saja diikutkan sebagai pendamping di acara tersebut, adik lelaki anda, atau kakak anda.

Jika jarak tersebut jarak yang dekat dan tidak termasuk safar, boleh bagi anda pergi sendiri tanpa mahram, namun saran kami, tetap diusahakan dalam kondisi seaman mungkin, ditemani oleh mahram itu lebih selamat, atau pergi bersama sekelompok wanita yang lainnya, tidak murni bersendirian.

Demikian, wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Rabu, 9 Jumadil Akhir 1443 H/ 12 Januari 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Shahihkah Atsar Mengenai Wanita Haid Harus Mengqadha Shalat Setelah Suci?

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button