KonsultasiMuamalah

Mengapa Nabi Melarang Kita Mencela Makanan?

Mengapa Nabi Melarang Kita Mencela Makanan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang berakhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang mengapa Nabi melarang kita mencela makanan, selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ahsanallahu ilaikum Ustadz.

Ijin bertanya tentang adab makan.
Saat kita menyantap makanan kemudian kita merasa kenyang padahal masih ada sisa makanan di piring kita, apakah kita biarkan tersisa/dibuang?
Karena sudah merasa cukup kenyang ataukah tetap kita habiskan supaya tidak mubazir ?

Jika kita diberi makanan oleh orang lain sangat banyak. Sampai berhari-hari di kulkas. Apakah kita disarankan membuang karena mungkin kualitas sudah berkurang (walaupun tidak basi) atau tetap mnghabiskan sedikit-sedikit walaupun sudah berhari-hari di kulkas selama tidak basi.

Baca Juga:  Perlukah Shalat Tahiyatul Masjid di Mushalla?

Menghina makanan apakah sama dengan mengomentari ?
Seperti apa batasan mencela makanan?
Misal teman minta komentar tentang masakannya kalau memang kurang enak apakah boleh kita bilang kurang enak, kurang ini itu ?

Jazaakallaahu Khoyron

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat BiAS T08 G-38)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Pertanyaan serupa pernah ditanyakan kepada kami, silahkan lihat jawabannya di :

https://bimbinganislam.com/ada-sisa-makanan-di-rumah-apakah-mubazir/

Adapun masalah mencela makanan, terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh abu hurairah radhiyallahu ‘anhu:

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلَّا تَرَكَهُ

“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencela suatu makanan sekalipun dan seandainya beliau menyukainya maka beliau memakannya dan bila tidak menyukainya beliau tidak memakannya.”
(HR Bukhari : 3299).

Baca Juga:  Jika BPJS Diwajibkan, Apakah Masih Berlaku Haram?

Ibnu Hajar berkata :

والذي يظهر التعميم , فان فيه كسر قلب الصانع. قال النووي : من آداب الطعام المتأكدة أن لا يعاب , كقوله : مالح , حامض , قليل الملح , غليظ , رقيق , غير ناضج … و نحو ذلك

“Karena itu bisa menyakiti hati orang yang memasak.
Imam Nawawi berkata : “Termasuk adab makanan yang sangat ditekankan adalah tidak mencelanya seperti perkataan : asin, asam, kurang garam, keras, lembek, kurang matang dan hal-hal yang serupa”.

(Fathul Baari: 9/548).

Namun, kalau seandainya seseorang meminta kita untuk mengomentari masakannya, karena dia sedang belajar, agar masakannya bisa lebih baik, maka insya Allah ini tidak mengapa, karena larangan tadi berkaitan dengan menyakiti hati yang memasak.

Baca Juga:  Apakah Boleh Mempelajari Ilmu Kalam?

 

Wallahu a’lam,
Wabillahit taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Senin, 1 Shafar 1441 H/ 30 September 2019 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam
Back to top button