Ibadah

Mengakirkan Sholat Isya Berjamaah, Disunnahkan?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Mengakirkan Sholat Isya Berjamaah, Disunnahkan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Mengakirkan Sholat Isya Berjamaah, Disunnahkan? selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, Dalam materi tentang shalat dijelaskan bahwa shalat Isya yang utama adalah diakhirkan. Kira-kira jam berapakah yang masuk kategori mengakhirkan shalat isya? Kalau di lingkungan rumah kita shalat isya dilakukan di awal waktu secara berjama’ah di masjid apakah boleh kita mengakhirkan shalat isya sendiri di rumah atau berjama’ah dengan keluarga saja? Jazaakalallaahu khoiran.

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Maksud dari mengakhirkan adalah mengakhirkannya dengan menjalankannya secara berjamaah dengan orang orang sekitar di waktu akhir sampai sebelum waktu isya selesai.

Waktu isya berakhir dipertengahan malam. Sebagaimana Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut :

وَوَقْتُ صَلاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ

“Dan waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam.” [HR. Muslim no. 612]

Dan dalam hadist lain disebutkan

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَخِّرُ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَيَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Isya sampai sepertiga malam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya dan ngobrol setelahnya.” [HR. al-Bukhâri no. 547 dan Muslim no. 647]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menjelaskan dengan mempraktekan batasan waktu pelaksanaan shalat . sebagaimana pada hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَخَّرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ صَلَّى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam, kemudian beliau shalat… (HR. Bukhari 572)

Dalam al-Mustau’ib dinyatakan,

وآخر وقتها المختار ثلث الليل؛ وعنه نصفه، ويبقى وقت الجواز والضرورة إلى طلوع الفجر الثاني

Waktu terakhir shalat isya sampai sepertiga malam. Dan ada riwayat darinya, sampai tengah malam. Dan sisanya waktu jawaz dan dharurat sampai terbit fajar subuh. (al-Mustau’ib, 1/125).

Sehingga, bila jamaah shalat isya didirikan di masjid sekitar, maka hendaknya kita melakukan shalat isya berjamaah di masjid dan di waktu tersebut, dengan mengacu kepada dasar bahwa shalat dilakukan pada waktunya dan dilakukan secara berjamaah di masjid.

Namun, bila didapatkan ada komunitas masyarakat bersepakat untuk mengakhirkannya agak lebih malam dan tidak memberatkan maka bisa dilakukan shalat isya di akhir waktu dengan batas maksimal di pertengahan malam atau sebelumnya.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah disebutkan sebagi berikut:

Mayoritas ulama fuqaha (ahli fiqh) yang terdiri dari kalangan Hanafiyah, Hanabilah, dan satu pendapat dari Syafi’iyah (pada qaul jadid) mengakhirkan shalat isya hingga sepertiga malam hukumnya disunnahkan, berkata Az Zaila’i banyak hadits menerangkan tentang kesunnahannya, ini adalah pendapat paling dominannya ahli ilmu dari para shahabat dan tabi’in, diantara hadits yang menunjukkannya adalah sabda Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam riwayat Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘Anhu, “Andaikan aku tidak menghawatirkan memberi kesulitan pada umatku, niscaya aku perintahkan pada mereka untuk mengakhirkan Shalat Isya’ hingga sepertiga malam atau separuh malam.”

(HR At Trmidzi I/310-312, Ibnu Maajah I/226, Ahmad bin Hanbal II/250, Hakim dalam Al Mustadrak-nya I/146)

Diantara dasar yang menunjukkan baiknya shalat isya berjamaah dengan manusia lain bila di kumandangkan adzan isya` di awal waktu dibandingkkan melakukannya diakhir waktu bersama keluarga, sebagaimana perkataan An Nawawi berkata “Yang lebih utama dari dua qaul (pendapat Syafi’i ini) menurut kalangan Syafi’iyah adalah mengerjakan Shalat Isya’ di awal waktu, hanya saja keutamaan mengakhirkan Isya’ memang memiliki dalil yang kuat (Mughni Al Muhtaj I/125, 126 dan Al Majmu li An Nawawi III/57)

Serta dalil lainnya yang menunjukkan perintah seorang laki laki melakukan shalat berjamaah di masjid. Karenanya yang lebih baik dengan melakukan shalat isya bersama manusia di masjid sekitar. dan jika keluarga berkeinginan untuk melakukan shalat isya berjamaah di akhir waktu dan tidak di dapatkan imam shalat kecuali anda maka anda dapat melakukan shalat isya bersama keluarga di rumah, sebagaimana yang di lakukan oleh Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.

Beliau shalat di masjid nabawi menjadi makmum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian pulang ke kampungnya dan mengimami jamaah isya di mushola kampungnya.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمُ الصَّلاَةَ

Bahwa Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ikut shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di masjid nabawi). Kemudia dia pulang ke kampungnya, dan mengimami mereka shalat. (HR. Bukhari 6106 dan Muslim 465).

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Kamis, 4 Rajab 1444H / 26 Januari 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button