Keluarga

Mencintai Suami Atau Istri Kurang Dari 100%, Bolehkah?

Mencintai Suami Atau Istri Kurang Dari 100%, Bolehkah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan bolehkah mencintai suami atau istri kurang dari 100%? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Apakah boleh mencintai suami tidak 100%? Karena sebelumnya pernah ada pengalaman kurang mengenakkan mencintai seseorang namun berujung kecewa. Barakallahu fiik.

(Ditanyakan oleh Santri Akademi Shalihah)


Jawaban:

Boleh seorang istri tidak mencintai suaminya 100%, karena cinta itu anugerah, dan tidak bisa dihitung dengan angka-angka, yang penting tugas dan kewajiban seorang istri pada suaminya tertunaikan dan dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Adapun soal cinta, maka sikap terbaik adalah yang sedang-sedang saja, tidak ekstrem kiri juga bukan ekstrem kanan, hanya saja semakin suami bertakwa dan sayang sama istri, maka cinta istrinya juga bertambah sebagai konsekuensi dari keimanan.

Baca Juga:  Perasaan Rindu Dan Cinta Kepada Suami/Istri Yang Sudah Meninggal Dunia, Apakah Dibolehkan Syariat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi.”

(HR. At-Tirmidzi, no. 1997 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178).

Maksud hadis di atas adalah agar tidak berlebihan dan melampaui batas dalam hal cinta.

Demikianlah, kita diperintahkan agar bersikap pertengahan dalam sesuatu hal. Tidak terlalu ekstrem dan tidak terlalu meremehkan juga.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (QS. Al-Baqarah: 143).

Intinya kecintaan yang bermanfaat adalah kecintaan karena Allah Ta’ala dan takwa pada-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:

Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 15 Dzulqo’dah 1443 H/ 14 Juni 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik di sini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button