Mencari Keberkahan Tatkala Turun Hujan

 

Hujan adalah makhluk Allah ﷻ yang menjadi bukti keagungan dan kekuasaan Allah ﷻ. Dia ﷻ menurunkan hujan sebagai bentuk kenikmatan dan keberkahan untuk makhluk-Nya, dengannya Dia menumbuhkan tanaman dan menghidupkan tanah yang sebelumnya mati. Allah ﷻ berfirman:

وَنَزَّلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ مُّبَٰرَكٗا فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ جَنَّٰتٖ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ  ٩

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang dipanen.” (QS. Qaf : 9).

 Allah ﷻ berfirman,

….وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ ….٢٢

 “……dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu;…..” (QS. Al-Baqarah : 22).

Amalan-amalan Sunnah Ketika Hujan Turun

 Disebabkan keberkahan yang Allah ﷻ turunkan bersama dengan air hujan, ada amalan-amalan yang disunnahkan bagi seorang muslim untuk mengerjakannya.

1. Membasahi Tubuh Saat Hujan Turun Pertama Kali

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أصابنا ونحن مع رسول الله ﷺ مطر، قال: فحسر رسول الله ﷺ ثوبه، حتى أصابه من المطر، فقلنا: يا رسول الله لم صنعت هذا؟ قال: «لأنه حديث عهد بربه تعالى.

“Hujan turun ketika kami sedang bersama Rasulullah ﷺ. Lantas Rasulullah ﷺ menyingkap baju beliau, sehingga terkena air hujan. Lalu kami bertanya, “wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal tersebut?” Beliau pun bersabda, “karena hujan ini baru saja diciptakan oleh Rabbnya”  (HR. Muslim, no. 898).

 Imam Nawawi rahimahullah berkata,

معنى حسر كشف أي كشف بعض بدنه ومعنى حديث عهد بربه أي بتكوين ربه اياه ومعناه أن المطر رحمة وهي قريبة العهد بخلق الله تعالى لها فيتبرك بها. وفي هذا الحديث دليل لقول أصحابنا أنه يستحب عند أول المطر أن يكشف غير عورته ليناله المطر

“Makna menyingkap baju disini adalah menyingkap sebahagian badan. Dan makna hujan ini baru dari Rabbnya adalah bahwasanya hujan merupakan rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah ﷻ, sehingga beliau ﷺ pun mencari keberkahan dengan air hujan tersebut. Hadits ini merupakan dalil para ulama madzhab Syafi’iyyah, sebagai anjuran untuk membuka sebagian anggota tubuh selain auratnya saat hujan pertama kali turun”. (Syarh shohih Muslim : 6/195).

 Dalam hadits lain, tatkala Rasulullah ﷺ berkhutbah, turunlah hujan sehingga membasahi tubuh beliau sampai air hujan tersebut menetes dari sela-sela jenggot beliau, dan beliau ﷺ membiarkannya. (HR. Bukhari : 1033).

 Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

أن تحادر المطر على لحيته ﷺ لم يكن اتفاقا وإنما كان قصدا فلذلك ترجم بقوله من تمطر أي قصد نزول المطر عليه لأنه لو لم يكن باختياره لنزل عن المنبر أول ما وكف السقف لكنه تمادى في خطبته حتى كثر نزوله بحيث تحادر على لحيته ﷺ

“Berjatuhannya air hujan di sela-sela jenggot beliau ﷺ bukanlah sebuah kebetulan, namun kesengajaan. Oleh karenanya imam Bukhari memberikan judul untuk hadits ini dengan bab menyengaja membasahi tubuh dengan hujan. Karena kalaulah beliau ﷺ tidak menyengaja hal tersebut tentulah beliau turun dari mimbar ketika air hujan tersebut menetes dari atap masjid, namun beliau tetap berkhutbah sampai hujan lebat, dan mengalir di jenggot beliau.” (Fathul Baari: 2/520).

2. Membaca Doa Ketika Turun Hujan.

Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika hujan turun adalah,

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

“Ya Allah, turunkanlah hujan yang memberikan manfaat”. (HR. Bukhari, no. 1032).

 Jika terdengar suara petir, maka dianjurkan untuk membaca do’a yang diriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, bahwa beliau jika mendengar petir menyambar beliau akan berhenti ngobrol dan membaca,

سُبْحانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ والمَلائِكَةُ مِن خِيفَتِهِ

“Maha suci Allah yang mana malaikat yang bertugas mengatur petir dan malaikat-malaikat lainnya juga bertasbih karena takut kepadaNya”. (HR. Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, no. 723).

 Disunnahkan pula memperbanyak doa-doa lainnya ketika hujan turun, karena turunnya hujan merupakan waktu mustajabnya doa.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ثنتان لا تُردّانِ، أو قلّما تُردّان: الدعاءُ عند النِّداءِ وتحتَ المطر.

“Doa akan dikabulkan atau lebih sering dikabulkan pada dua waktu: doa ketika adzan (setelahnya) dan ketika hujan turun”. (HR. Abu Dawud, no. 2540).

 

 3. Tidak Mencela Hujan dan Angin.

Kita sudah menjelaskan bahwa hujan merupakan rahmat dan keberkahan yang Allah  kirimkan kepada makhluk-Nya. Oleh karenanya, seorang muslim tidak boleh menghina hujan yang merupakan rahmat Allah , terlebih pergerakan hujan merupakan sesuatu yang telah Allah atur, mencela hujan sama saja dengan mencela Dzat yang mengaturnya.

Dan jika terjadi hujan lebat sehingga bisa saja membawa kemudharatan, maka hendaklah seorang muslim membaca do’a,

اللَّهُمَّ حَوالَيْنا ولاَ عَلَيْنا، اللَّهُمَّ عَلى الآكامِ والظِّرابِ، وبُطُونِ الأوْدِيَةِ، ومَنابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, Turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan langsung kepada kami. Ya Allah, Turunkanlah hujan ke daratan tinggi, anak bukit, perut lembah dan tanah yang menumbuhkan pepohonan.” (HR. Bukhari, no. 1014).

 Masuk dalam pembahasan ini juga, hukum mencela angin sama halnya dengan mencela hujan. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإذا رَأيْتُمْ ما تَكْرَهُونَ فَقُولُوا

“Janganlah kalian mencela angin, jika kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai darinya, maka ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إنّا نَسْألُكَ مِن خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ وخَيْرِ ما فِيها وخَيْرِ ما أُمِرَتْ بِهِ، ونَعُوذُ بِكَ مِن شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ وشَرِّ ما فِيها وشَرِّ ما أُمِرَتْ بِهِ

”Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepadamu kebaikan dari angin ini, dari apa yang ia bawa dan diperintahkan kepadanya. Dan kami berlindung dari keburukan angin ini, dari apa yang ia bawa dan diperintahkan kepadanya.” (HR. Tirmidzi, no. 2252).

4. Membaca Doa Setelah Hujan Berhenti.

Sudah menjadi keyakinan seorang mukmin bahwa turunnya hujan merupakan perintah dari Allah ﷻ, sehingga menjadi bukti keyakinan tauhid seorang muslim tatkala hujan berhenti dia membaca:

مُطِرْنا بِفَضْلِ اللَّهِ ورَحْمَتِهِ

“Hujan turun kepada kita semata-mata karena keutamaan dan dan kasih sayang Allah ﷻ” (HR. Bukhari, no. 1038).

Demikianlah beberapa adab yang selayaknya diamalkan oleh seorang muslim ketika hujan turun, Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk bisa beradab ketika hujan turun membasahi bumi.

Wallahu a’lam

Disusun oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 29 Jumadil Akhiroh 1442 H / 12 Februari 2021 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga:  3 Keutamaan Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah