Home Konsultasi Adab & Akhlak Menasehati Teman yang Menyukai Ilmu Filsafat

Menasehati Teman yang Menyukai Ilmu Filsafat

Menasehati Teman yang Menyukai Ilmu Filsafat
Pilih teman yang baik. Pemuda yang belajar filsafat, tidak patut dijadikan teman dekat, jika ingin mendakwahi, mulai dari pembenahan aqidah secara bertahap.

Menasehati Teman yang Menyukai Ilmu Filsafat

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang menasehati teman yang menyukai ilmu filsafat.

Selamat Membaca.


Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Ustadz, saya punya teman yang suka sekali dengan ilmu filsafat (yang dia anggap sebagai jalan bagi kehidupan) dan semua video motivasi yang dibawa oleh orang-orang non-muslim untuk memperbaiki dirinya.

Dia lebih memilih mereka karena menurut dia, mereka selalu memberikan penyelesaian/solusi secara realistis, praktikal, dan logis ketimbang ceramah-ceramah Islam maupun video-video motivasi yang dibawakan oleh orang-orang islam yang berpenampilan seperti Ulama yang menurut dia isinya hanya amalan-amalan tidak logis hanya sekedar untuk spiritual saja.

Maka dari itu, setiap kali saya mengingatkan dia (di waktu yang tepat tentunya) pada saat dia mengerjakan sesuatu yang diharamkan, responnya dia justru membuat Iman saya menurun dengan kata-kata yang menyakitkan. Kadang dia bilang hal-hal yang tidak baik tentang Islam, seperti: Islam itu sempit, sedikit-sedikit haram.

Dia lebih senang yang fleksibel. Dan yang lebih parahnya lagi, kadang2 dia membantah dan mengajak berdebat dengan pemikiran filsuf/logikanya dia untuk mencari pembenaran dan fleksibilitas dalam suatu hukum.

Apakah boleh saya tidak mendakwahi/mengingatkan kesalahannya lagi dan hanya mendoakan dia saja demi menjaga iman saya? Kadang-kadang waktu saya terbuang secara tidak sadar ketika saya terpancing untuk berdebat. Saya akan tetap membantu dia jika dia membutuhkan saya dan saya akan berbicara yang berkaitan dgn Islam jika dia sangat ingin saja.

Baca Juga:  Tetap Dakwah Dengan Lemah Lembut Kepada Keluarga

[Sebenarnya dia juga punya teman-teman santri dan seorang pendakwah untuk konsultasi. Hanya saja, yang meresahkan/mengkhawatirkan itu, teman santrinya dia ada yang bermudah-mudahan dengan hukum Islam seperti hukum musik (teman santrinya membolehkan), dan dia konsultasi kalau menurutnya dia itu serius.

Dia tidak suka tanya-tanya sesuatu yang menurut dia sepele dan yang kemungkinan bisa membuat dia down (misal dia sangat suka melakukan X, jadi dia tidak ingin mengetahui hukum X agar kesenangannya dengan X tidak diharamkan, dengan pemikiran bahwa “Kalau belum tahu, tidak berdosa/hukum tidak berlaku”). Dia berpegang teguh dengan pepatah “Curiosity killed the cat” = rasa ingin tahumu dapat membunuhmu.]

Maaf jika terlalu panjang Ustadz. mohon bantuannya Ustadz. Terimakasih Jazakallahu khairan.

( Sahabat BiAS G10-N011)


Jawaban :

Wa’alaikumusslam Warahmatullah Wabarakatuh

Waspada! Berteman Dengan Kawan Yang Tepengaruh Filsafat Agama

Beberapa hal yang perlu dilihat dari kacamata para pemuda

Pertama,

Harus diingat bahwa pemuda adalah tulang punggung yang membentuk komponen pergerakan. Karena mereka memiliki kekuatan yang produktif dan kontribusi (peran) positif untuk kemajuan yang berkesinambungan bagi masyarakat dan bangsanya. Dan pada umumnya, tidaklah suatu umat akan runtuh, karena masih ada pundak para pemuda yang punya kepedulian dan semangat membara yang terarah dengan baik.

Ulama di abad ini (ke-20), Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah berkata;

ولقد علم أعداء الإسلام هذه الحقيقة ، فسعوا إلى وضع العراقيل في طريقهم ، أو تغيير اتجاههم ، إما بفصلهم عن دينهم ، أو إيجاد هوة سحيقة بينهم وبين أولي العلم ، والرأي الصائب ، في أمتهم ، أو بإلصاق الألقاب المنفِّرة منهم ، أو وصفهم بصفات ونعوت ، غير صحيحة ، وتشويه سمعة من أنار الله بصائرهم في مجتمعاتهم ، أو بتأليب بعض الحكومات عليهم ” .

“Musuh-musuh Islam telah mengetahui fakta ini. Mereka pun berusaha merintangi jalan para pemuda muslim, mengubah pandangan hidup mereka, baik dengan memisahkan mereka dari agama, menciptakan jurang antara mereka dengan ulama dan norma-norma yang baik di masyarakat. Mereka memberikan label yang buruk terhadap para ulama sehingga para pemuda menjauh, menggambarkan mereka dengan sifat dan karakter yang buruk, menjatuhkan reputasi para ulama yang dicintai masyarakat, atau memprovokasi penguasa untuk berseberangan dengan mereka.” (lihat Fatwa Syaikh Ibnu Baaz, 2/365).

Baca Juga:  Bolehkah Dzikir Berjamaah Untuk Mengajari Anak di Sekolah?

Kedua,

Pemuda yang bergelut dengan filsafat agama atau lebih khusus ilmu kalam, maka ia hanya berbuat hal yang merugikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Dahulu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

لا يفلح صاحب كلام أبداً، ولا نكاد نرى أحداً نظر في الكلام إلا وفي قلبه دغل

“Tidak akan beruntung pemilik ilmu kalam selama-lamanya, dan hampir tidak kita dapati ada orang yang mempelajari ilmu kalam kecuali di hatinya mesti ada kesesatan”. (Lihat Kitab Al-I’tishom oleh As Syatibiy, 3/237).

Ketiga,

Pilih teman yang baik. Pemuda yang belajar filsafat, tidak patut dijadikan teman dekat, jika ingin mendakwahi, mulailah dari dakwah pembenahan aqidah secara bertahap dengan cara terbaik, dan hal-hal yang wajib yang perlu diingatkan, tetap jaga jarak darinya serta doa yang tulus tetap dipanjatkan.

Baca Juga:  Menghukum Anak? Sudah Tahu Bagaimana Aturannya Menurut Islam?

Jika ternyata teman ini tetap mengingakari hal-hal yang telah menjadi kesepakatan kaum muslimin, ngotot dengan pendapat-pendapat ngawurnya, maka sampaikan salam perpisahan dengan dirinya. Cukuplah ia hanya sekedar kenalan biasa saja. Dan anda telah berusaha menjaga agama anda dari pengaruh buruk.

Sekelas Imam Syafi’i rahimahullah pun pernah berfatwa;

حكمي في أهل الكلام أن يضربوا بالجريد والنعال ، ويطاف بهم في العشائر والقبائل ، ويقال هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأقبل على الكلام

“Menurutku hukuman untuk orang yang mempelajari ilmu kalam mereka hendaknya dipukuli dengan sendal dan pelepah kurma. Kemudian diarak keliling kampung melewati suku-suku dan qabilah-qabilah sembari dikatakan ; inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah lalu menerima dan mempelajari ilmu kalam”. (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taymiyah, 1/468).

Wallahu Ta’ala A’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 19 Dzul Qa’idah 1442 H/ 30 Juni 2021 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini