Memisahkan Diri dari Jamaah Ketika Imam Tidak Thuma’ninah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang memisahkan diri dari jamaah ketika imam tidak thuma’ninah.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ijin bertanya ustadz, boleh tidak memisahkan diri dari sholat berjamaah dan memilih solat sendiri karena imamnya tidak tuma’ninah dan tergesa-gesa dalam sholatnya?
Mohon jawabannya, jazakallahu khoiron.

(Disampaikan oleh Fulan, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Tuma’ninah adalah salah satu rukun dalam solat, rukun artinya sesuatu yang wajib yang tidak boleh tertinggal baik lupa maupun sengaja, yang dengannya berpengaruh pada keabsahan solat.

Ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa tuma’ninah adalah bagian dari rukun solat, dikatakan dalam kitab Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:

ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَأَبُو يُوسُفَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَابْنُ الْحَاجِبِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ إِلَى أَنَّ الطُّمَأْنِينَةَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الصَّلاَةِ، لِحَدِيثِ الْمُسِيءِ صَلاَتَه

“Syafiiyah dan Hanabilah, juga Abu yusuf dari kalangan Hanafiah, serta Ibnu al-Hajib dari kalangan Malikiah bahwa tuma’ninah termasuk bagian dari rukun solat, pendapat ini berdasarkan pada hadist orang yang jelek solatnya”.
(Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah juz:29, hal:89)

Baca Juga:  Banyaknya Siksa Kubur Karena Air Kencing Kita

Tuma’ninah maknanya adalah: tenangnya anggota badan dari gerakan-gerakan walaupun hanya sejenak, dan menurut definisi ulama yang lain, tuma’ninah adalah jangka waktu yang mencukupi untuk membaca bacaan wajib pada suatu gerakan tertentu.

Jadi misalnya seseorang ketika merendahkan tubuhnya untuk rukuk, dan dia sempat untuk tenang walaupun sejenak, dan anggota tubuhnya tenang untuk tidak bergerak, dengan demikian ia telah mendapatkan tuma’ninah.

Jika sedikit memanjangkan ketenangan walau hanya sejenak, sampai ia mampu membaca “subhana robbiyal adzim” walau sekali, dia juga telah dikatakan mendapatkan tuma’ninah menurut definisi yang kedua yang mengatakan bahwa tuma’ninah itu adalah waktu yang cukup untuk membaca dzikir wajib dalam gerakan tersebut, karena ketika rukuk, bacaan yang wajib adalah “subhana robbiyal adzim” sekali, adapun sampai tiga kali itu hukumnya sunnah.

Baca Juga:  Bagaimana Status Uang Iuran yang Hangus Karena Tidak Mengikuti Kegiatan Wisata?

Jadi ketika anda sudah bisa mendapatkan itu bersama imam, sejatinya ini sudah dikatakan mendapatkan tuma’ninah, namun jika bacaan wajib tidak terbaca sempurna, juga tubuh belum tenang dalam posisi tertentu kemudian sudah berpindah pada posisi lain, yang demikian anda belum mendapat tuma’ninah bersama imam.

Jika anda mendapati kondisi demikian, boleh bagi anda untuk memisahkan diri dari jamaah dan solat sendiri, karena jika anda lanjut bersama imam, solat anda tidak sah karena tidak sempurnanya rukun solat, dikatakan dalam kitab Mausuatu al-Fiqh al-Islamy:

للمأموم أن ينفرد عن الإمام فيما يلي:
إذا أطال الإمام إطالة خارجة عن السنة، أو إذا أسرع الإمام في صلاته، انفصل عن الإمام وأتم صلاته

“Bagi makmum boleh untuk menyendiri berpisah dari imam dalam keadaan berikut:
Jika imam memperpanjang solat dengan kepanjangan yang keluar dari sunnah (berlebihan), atau jika imam melakukan solat sangat cepat, boleh ia memisahkan diri dari imam dan menyempurnakan sendiri solatnya”.
(Al-Mausuatu al-Fiqh al-Islamy juz:2, hal: 506)

Baca Juga:  Bolehkah Menceritakan Kesalahan Orang Yang Telah Meninggal ?

Dan alangkah lebih baik, jika kondisi ini berkelanjutan, bagi anda untuk memberi masukan dan nasehat kepada imam tersebut, bahwa apa yang beliau lakukan menyelisihi aturan yang ada, dan bisa berkonsekuensi membatalkan solat yang dilakukan, semoga Allah memberi taufiq kepada semuanya.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Senin, 13 Jumadil Ula 1442 H/ 28 Desember 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini