Membuat Dokumentasi Laporan Pekerjaan, Tapi Ada Foto Aurat, Apakah Boleh? bimbingan islam
Membuat Dokumentasi Laporan Pekerjaan, Tapi Ada Foto Aurat, Apakah Boleh? bimbingan islam

Membuat Dokumentasi Laporan Pekerjaan, Tapi Ada Foto Aurat, Apakah Boleh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apakah boleh mmebuat dokumentasi laporan pekerjaan, tetapi menampilkan foto aurat?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ahsanallāhu ilaikum, ustadz.
‘Afwan izin bertanya, bolehkah kita memfoto ataupun memvideokan suatu kegiatan/program-program dakwah kemudian kita masukkan sebagai dokumentasi LPJ (laporan pertanggungjawaban) kegiatan dakwah tersebut dan juga kita share ke publik, sementara dalam dokumentasi tersebut masih ada wanita yang terlihat auratnya?
Mohon penjelasannya dan juga saran nasehatnya, ustadz.

Jazaakallāhu khairan wa Baarakallāhu fiik.

(Disampaikan oleh Fulanah – Sahabat BiAS G-20)

Baca:  Memotong Kuku dan Rambut Ketika Haid

Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Tidak boleh menampakkan aurat wanita meskipun dengan alasan laporan, atau alasan dakwah, atau alasan-alasan lainnya kecuali dalam kondisi darurat. Kita tetap bisa membuat laporan dengan tanpa menampakkan aurat wanita insyaAllah, kita juga tetap bisa berdakwah dengan tanpa menampakkan aurat wanita.
Disebutkan dalam fatwa Islamqa (yang disauh oleh syaikh Sholeh Al Munajjid) :

لا يجوز إظهار المرأة على مقاطع فيديو ونشرها على الناس بحجة أنها مؤثرة ، ومن المعلوم أن المرأة عورة ، قال النبي صلى الله عليه وسلم : (الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ) رواه الترمذي (1173) وصححه الألباني في صحيح الترمذي

فلا يجوز النظر إليها – عياناً أو على صورة – ، ولم تستثن الشريعة إلا ما كان لحاجة أو ضرورة كالنظر إلى المخطوبة ، وعند الشهادة والعلاج ، ونحو ذلك 

“Tidak boleh menampakkan wanita dalam potongan video lalu menyebarkannya pada manusia dengan alasan itu video yang menyentuh. Dan sudah dimaklumi bahwa wanita itu aurat, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
{Wanita itu aurat}
(HR Tirmidzi : 1173, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi)

Tidak boleh memandang kepadanya sama saja apakah secara langsung atau melalui gambar. Dan syariat tidak memberikan pengecualian melainkan dalam kondisi darurat seperti melihat untuk melamar, tatkala memberikan kesaksian atau pengobatan dan yang lainnya.”
(Fatawa Islamqa no. 70557).

BACA JUGA
Baca:  Batasan Maximal Masa Haidh

Wallahu a’lam
Wabillahittaufiq

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Selasa, 29 Rabbi’ul Awwal 1441 H/ 26 November 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini