Muamalah

Membayar Hutang Lebih Banyak, Riba?

Pendaftaran AISHAH Online Angkatan 2

Membayar Hutang Lebih Banyak, Riba?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang Membayar hutang lebih banyak, Riba? selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah. Assalaamu’alaikum ustadz. Semoga Allah selalu merahmati dan melindungi ustadz. Saya mau menanyakan perkara kecil yang saya ada keraguan di dalamnya. Jika bapak saya meminjam uang saya untuk membeli pulsa seharga Rp 19.800.

Beliau mengembalikan uang sebesar Rp 20.000, saya ingin memberikan kembalian Rp 200 tapi beliau tidak mau dan mengatakan agar saya ambil saja sisanya. Dan biasanya jika ada sisa selalu tidak saya kembalikan karena jawabannya selalu sama. Apakah ini termasuk riba ustadz? Jazaakallaahu khair.

Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh.

Amin dan terimakasih dengan doanya, dan semoga juga Allah berikan kebahagiaan kepada kita semua.

Selama tidak ada akad atau persyaratan di awal dengan apa yang kita lakukan dari pinjam meminjam, maka itu bukan bagian dari riba. Karena disebut riba jika akad peminjaman yang dilakukan dengan menggunakan persayaratan/ketentuan untuk mengembalikan pinjaman lebih banyak dari apa yang ia pinjam.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

“Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Raafi’ bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam dari seseorang unta yang masih kecil. Lalu ada unta zakat yang diajukan sebagai ganti.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyuruh Abu Raafi’ untuk mengganti unta muda yang tadi dipinjam. Abu Raafi’ menjawab, “Tidak ada unta sebagai gantian kecuali unta yang terbaik (yang umurnya lebih baik, -pen).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjawab,

أَعْطُوهُ فَإِنَّ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ أَحْسَنَهُمْ قَضَاءً

Baca Juga:  Takut Mati Berlebihan Karena Hutang Belum Lunas

“Berikan saja unta terbaik tersebut padanya. Ingatlah sebaik-baik orang adalah yang baik dalam melunasi utangnya.” (HR. Bukhari no. 2392 dan Muslim no. 1600).

Dari beberapa pemahaman di atas, maka bisa dipahami bolehnya seorang yang berhutang memberikan tambahan pelunasan kepada orang yang dihutangi, sebagai tanda terimakasih atau bagi orang yang menghutangi untuk memberikan tambahan dalam pelunasan, atau mengurangi /memotong dalam pembayarannya atau bahkan menghadiahkan sebagian atau seluruh hutangnya kepada orang yang berhutang.

Dengan catatan tidak ada persyaratan atau sinyal apapun dari orang yang menghutangi untuk meminta tambahan pembayaran dari apa yang di hutangkan, bila ada syarat atau sinyal tersebut maka tambahan yang diminta atau di harapkan adalah riba.

Sebagaimana perkataan Imam Ibnu Qudamah rahimahullah ta`ala,

[TS_Poll id="2"]

“وكل قرض شرط فيه أن يزيده، فهو حرام، بغير خلاف. قال ابن المنذر: أجمعوا على أنّ المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية، فأسلف على ذلك، أن أخذ الزيادة على ذلك ربا”

Dan setiap hutang mensyaratkan di dalamnya tambahan ( pembayaran) maka hal itu haram, tanpa ada khilaf. Berkata Ibnul Mundir, ”para ulama sepakat bahwa orang yang meminjamkan dengan memberikan syarat kepada orang yang meminjam dengan adanya tambahan atau hadiah, sehingga ia meminjamkan atas sebab itu untuk mengambil tambahan tersebut maka hal itu adalah riba”(almughni : 4/240)

Wallahu taala alam.

Dijawab dengan ringkas oleh:

Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU

Rabu, 6 Jumadil Awal 1444H / 30 November 2022 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button