Membaca yassin di depan mayit dan di atas kubur

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته.

Ustadz,apa hukum nya membaca yassin di depan mayit dan di atas kubur nya ? mohon pencerahan nya Ustadz.
(Dari Anis Afianti Di Pondok Gede, Bekasi Anggota Grup WA Bimbingan Islam t05 G – 26)


Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Membaca surat Yasin untuk orang mati baik di rumah maupun di kuburan tidak disyariatkan karena hadits tentang amaliah ini dilemahkan oleh para ulama. Namun disyariatkan kita menuntun orang yang sekarat untuk mengucapkan kalimat syahadat. Berikut redaksi hadis yang dijadikan landasan amaliah surat Yasin tersebut :

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Bacalah surat Yasin kepada orang-orang mati kalian.” (HR Ahmad : 19789, Abu Dawud : 3121, dilemahkan oleh Imam Al-Albani di dalam Irwa’ul Ghalil : 688).

Hadis ini dilemahkan oleh para ulama karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang majhul bernama Abu Utsman. Maka ia tidak bisa dijadikan alasan/dalil dalam agama, tidka pula dalil disyariatkannya amalaiah tadi.

Imam Abdul Aziz bin Baz ditanya :

ما حكم قراءة يس عند الميت؟

“Apa hukumnya membaca surat Yasin di sisi orang mati ?.”

Beliau menjawab :

جاء في حديث فيه ضعف أن الرسول أمر بقراءة يس عند موتانا ، في قوله : اقرؤوا على موتاكم يس ، يعني عند المحتضرين ، فسر العلماء بالموتى هنا بالمحتضرين ، المحتضر ثم ….. الميت الذي قرب الموت ، ولكن الحديث ضعيف فلا تسن على الصحيح ، لعدم صحة الحديث، وبعض أهل العلم ظن صحته فاستحبها وإذا قرئ من بعد للوعظ والتوجيه إذا كان يعقل ، يستفيد ، قراءة يس أو غيره من القرآن هذا كله طيب، لكن الحكم بأنها سنة يحتاج إلى دليل والحديث ضعيف عند أهل التحقيق، ……… عثمان فهو مجهول.

“Telah datang di dalam hadits di dalamnya ada kelemahan, bahwa Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membaca surat Yasin di sisi orang mati. Yaitu yang tersebut dalam perkataan beliau : ‘Bacalah Yasin untuk orang-orang mati kalian !’.
Maksudnya ketika sekarat, para ulama menafsirkan orang-orang mati di sini adalah orang-orang yang sekarang, kemudian mayit yang telah mendekati masa kematian. Akan tetapi hadits ini dha’if/lemah, maka amalan ini tidak disunnahkan berdasarkan pendapat yang benar, karena hadisnya tidak shahih. Sedang sebagian ulama menyangka hadits ini shahih sehingga mereka menganggap amalan ini sunnah.

Jika surat dibaca setelahnya untuk menasehati dan mengarahkan jika ia faham dan bisa mengambil manfaat maka pembacaan Yasin atau surat lain ini baik. Akan tetapi hukum bahwa ia adalah amalan yang sunnah, ini membutuhkan dalil, sedangkan haditsnya dha’if menurut para peneliti, rawi yang bernama Utsman ini adalah rawi yang majhul.” (Fatawa Syaikh Bin Baz no. 1193). Wallahu a’lam.

Konsultasi Bimbingan Islam
Abul Aswad Al Bayati