Memajang Foto Keluarga di Rumah Menurut Islam

Memajang Foto Keluarga di Rumah Menurut Islam

Memajang Foto Keluarga di Rumah Menurut Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum memajang foto keluarga di rumah menurut islam
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pertanyaan : ustadz, saya mau bertanya, bagaimana hukumnya memajang foto keluarga dan pernikahan di rumah ?

(Disampaikan oleh Fulanah, penanya dari grup Hijrah Diaries Putri – 1)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Bismillah walhamdu lillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi wa shahbihi waman waalaah.
Amma ba’du,

Hukum memajang foto keluarga dan pernikahan di rumah adalah sesuatu yang diharamkan menurut islam.

Mari kita perhatikan hadits-hadits berikut;

عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

Dari Abul Hayyaj Al Asadi dia berkata, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku;
‘Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku?
‘Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus, dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan.’
[HR. Muslim no. 969]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda;

لا تَدْخُلُ المَلائِكَةُ بَيْتًا فيه كَلْبٌ ولا تَصاوِيرُ

‘Malaikat tak akan memasuki rumah yang ada anjing dan gambar-gambar.’
[HR. Bukhari no. 5949]

Yang dimaksud dengan gambar di hadits tersebut adalah gambar-gambar makhluk bernyawa seperti manusia dan hewan. Adapun gambar tumbuhan, gunung, pepohonan maka tidak mengapa.

Dan bahwasanya Jibril alaihis salam pernah berjanji kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Jibril terlambat datang hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu sangat lama, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan menemuinya lalu menanyakan sebenarnya apa yang tengah terjadi, maka Jibril berkata kepada beliau;

إِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلَا كَلْبٌ

‘Sesungguhnya kami tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar dan anjing.’
[HR. Bukhari no. 5503]

Bahaya Penyakit ‘Ain

Selain bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang diharamkan, dan bahwa malaikat tak akan memasuki rumah karenanya, ada bahaya lain yaitu kemungkinan tertimpanya ‘ain bagi sosok-sosok yang ada di foto tersebut. ‘Ain adalah pandangan mata jahat, hasad ataupun takjub.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman;

وَإِن يَكَادُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَيُزۡلِقُونَكَ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ لَمَّا سَمِعُواْ ٱلذِّكۡرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُۥ لَمَجۡنُونٞ

“Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka, ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, “Dia (Muhammad) itu benar-benar orang gila.”
[Surat Al-Qalam, Ayat 51]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan (menafsirkan ayat ini);
‘Menurut kebiasaan yang terjadi di tanah Arab, seseorang dapat membinasakan binatang atau manusia dengan menujukan pandangannya yang tajam. Hal ini hendak dilakukan pula kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi Allah menjaganya, sehingga terhindar dari bahaya itu, sebagaimana dijanjikan Allah dalam surat Al Maidah ayat 67.’
[Tafsir As Sa’di]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

العَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كاَنَ شَيْءٌ سَابَقَ القَدَرَ لَسَبَقَتْهُ العَيْنُ

‘Pengaruh ‘ain itu nyata adanya, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka ‘ainlah yang mendahuluinya.’
[HR. Muslim no. 2188]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

العَيْنُ تُدخِلُ الرَّجُلَ القَبْرَ ، وَتُدْخِلُ الجَمَلَ القِدْرَ

‘Ain itu memasukkan seseorang dalam liang kubur, dan memasukkan onta dalam bejana’
[Hadits Hasan, lihat Shahihul Jaami’ no. 4144]

Berkata Imam Al Munawi rahimahullah;
‘Yaitu ‘ain membunuhnya, hingga diapun dikuburkan. Dan apabila menimpa onta, onta itupun mati. Atau hampir mati hingga pemiliknya menyembelihnya dan memasaknya dalam bejana.’
[Faidhul Qadir 4/522]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقدَرِه بِالعَيْنِ

‘Kebanyakan yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar Allah adalah karena ‘ain’
[Hadits Hasan, lihat Shahihul Jaami’ no. 1206]

Demikian juga kisah yang dituturkan oleh Abu Umamah, putra Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu:

مَرَّ عَامِرُ بْنُ رَبِيْعَةَ بِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ فَقَالَ: لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ وَلاَ جِلْدَ مُخَبَّأَةٍ. فَمَا لَبِثَ أَنْ لُبِطَ بِهِ فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيُّ فَقِيْلَ لَهُ: أَدْرَكَ سَهْلاً صَرِيْعًا. قَالَ: مَنْ تَتَّهِمُوْنَ بِهِ؟ قَالُوا: عَامِرُ بْنُ رَبِيْعَةَ. قَالَ: عَلاَمَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيْهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَأَمَرَ عَامِرًا أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيَغْسِلُ وَجْهَهُ وَيَِدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَرُكْبَتَيْهِ وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ وَأَمَرَ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْه

‘Amir bin Rabi’ah pernah melewati Sahl bin Hunaif yang sedang mandi, lalu ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seperti hari ini dan aku tak pernah melihat kulit seperti kulit wanita yang dipingit.’
Tidak berapa lama, Sahl terjatuh. Kemudian dia didatangkan ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang pun mengatakan kepada beliau, ‘(Wahai Rasulullah), segera selamatkan Sahl, ia telah terbaring.’
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Siapa yang kalian tuduh dalam hal ini?’

Mereka menjawab, ‘Amir bin Rabi’ah.’
Beliau pun berkata, ‘Atas dasar apa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Apabila seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari diri saudaranya, hendaknya ia mendoakan kebaikan padanya.’
Kemudian beliau meminta air dan memerintahkan ‘Amir untuk berwudhu’, maka ‘Amir pun membasuh wajahnya, kedua tangan hingga sikunya, kedua kaki hingga lututnya, serta bagian dalam sarungnya. Lalu beliau memerintahkan untuk menuangkan air itu pada Sahl.’
(HR. Ibnu Majah no. 3500, lihat Shahihul Jami’ no. 3908/4020 dan al-Misykah no. 4562)

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah;

أَنَّ الْعَيْن تَكُون مَعَ الْإِعْجَاب وَلَوْ بِغَيْرِ حَسَد, وَلَوْ مِنْ الرَّجُل الْمُحِبّ, وَمِنْ الرَّجُل الصَّالِح, وَأَنَّ الَّذِي يُعْجِبهُ الشَّيْء يَنْبَغِي أَنْ يُبَادِر إِلَى الدُّعَاء لِلَّذِي يُعْجِبهُ بِالْبَرَكَةِ, وَيَكُون ذَلِكَ رُقْيَة مِنْهُ

“‘Ain dapat terjadi dari pandangan kekaguman walaupun tidak disertai perasaan dengki (hasad). Walaupun dari orang yang mencintai, demikian juga dari orang shalih. Dan sudah sepantasnya bagi yang dibuat takjub oleh sesuatu untuk mendoakannya dengan keberkahan. Dan itu adalah ruqyah darinya”
[Fathul Bari]

Semoga bermanfaat.
Wallahu Tabaaraka wa Ta’ala A’lam.
Wa Akhiru da’waanaa anil hamdu lillahi Rabbil ‘aalamin.

 

Dijawab oleh:
Ustadz Fajar Basuki, Lc. حفظه الله
Kamis, 10 Rajab 1441 H/ 05 Maret 2020 M



Ustadz Fajar Basuki, Lc. حفظه الله
Beliau adalah Alumnus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam and Arab (LIPIA) Jakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fajar Basuki, Lc. حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS