Manusia Memandang Waktu

Manusia Memandang Waktu

Manusia Memandang Waktu

Kadang kala terbesit dalam benak kita, sampai kapan waktuku di dunia ini?
Buat hamba dunia waktu adalah uang, mengumpulkan banyak pundi-pundi emas dan batu mulia. Adapun bagi hamba yang beriman kepada Allah Ta’ala, Ia akan meyakini bahwa waktu ini adalah ibadah. Pertanyaannya Sekarang, engkau di bagian kelompok yang mana?
Waktumu kau habiskan untuk apa? Renungkanlah!

Menyadari Pentingnya Waktu Dan Peringatan Tentangnya

Allah Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”.
(QS. al-‘Ashr/103:1-3).

Nabi menerangkan tentang nikmat waktu dan kesehatan

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”.
(Hadits shahih. HR. Bukhari, no. 5933).

Berdasarkan pengalaman manusia, di antara kerugian tak sadar waktu yang paling utama adalah tidak beramal dengan bentuk paling sempurna (paling baik), menyia-nyiakan amalan utama (sibuk dengan perkara mubah), serta yang lebih jauh dari itu yaitu jatuh dalam perkara-perkara yang diharamkan.

Inilah urgensi waktu itu :

1. Waktu adalah umur dan modal utama manusia.

Seorang Tabi’in, al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai anak manusia, kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Perkataan ini juga diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu’abul- Iman, dari Abud Darda’ radhiallahu anhu)

Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Abdul-‘Aziz rahimahullah berkata:

إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا

“Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu”.
(Kitab Rabi’ul-Abrar, hlm. 305).

2. Waktu sangat cepat berlalu dan tidak pernah kembali.

Sahabat terbaik Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَلِلَّهِ حَقٌّ بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ

“Sesungguhnya Allâh memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam. Dan Allâh juga memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang”.
(Hadits Mauquf. HR. Ibnu Abi Syaibah, no. 37056).

Dengan demikian seharusnya seseorang bersegera melaksanakan tugasnya pada waktunya, dan tidak menumpuk tugas dan mengundurkannya sehingga akan memberatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu waktu di sisi Salaf (para sahabat dan Tabi’in) lebih mahal dari pada uang. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menuturkan:

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دَرَاهِمِهِ وَدَنَانِيْرِهِ

“Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap umurnya daripada terhadap dirham dan dinarnya”.
(Disebutkan dalam kitab Taqrib Zuhd Ibnul-Mubarok, 1/28).

3. Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.

Oleh karena itu Allâh Ta’ala banyak memerintahkan untuk bersegera dan berlomba dalam ketaatan. Demikian juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar bersegera melaksanakan amal-amal shalih. Para ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan. Al-Hasan berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ

“Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini”.
(lihat Taqrib Zuhd Ibnul Mubarok, 1/28)

Menyempatkan Waktu Untuk Menuntut Ilmu

Seseorang pernah bercerita : “Kita masuk TK saat masih usia 4 atau 5 tahun, setelah itu 6 tahun di bangku sekolah dasar (SD), lalu 3 tahun di bangku sekolah menengah tingkat pertama (SMP), lalu 3 tahun di bangku sekolah menengah atas (SMA), setelah itu melanjutkan kuliah sarjana 4 tahun. Sebagian orang tidak berhenti sampai di sini. Masih lanjut lagi sekolah magister selama 2 tahun, lalu doktor selama 4 atau 5 tahun, atau bahkan lebih lama dari itu”.

Perjalanan waktu dalam pendidikan di atas mayoritasnya untuk ilmu dunia, bagaimana dengan Ilmu Akhirat??
Yang tersisa adalah sisa-sisa waktu yang ada dan tidak menyengaja untuk belajar ilmu. Inilah yang juga Allah Ta’ala cela dalam firman-Nya,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
(QS. Ar-Ruum [30]: 7)

Ketika hari-hari kita disibukkan dengan urusan dunia, lalu lalai dengan urusan akhirat, dari situlah awal mula munculnya kebinasaan.
Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الله يبغض كل جعظري جواظ سخاب في الأسواق جيفة بالليل حمار بالنهار عالم بالدنيا جاهل بالآخرة

Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci semua orang yang berkata keras, kasar lagi sombong; orang yang rakus namun pelit; orang yang bersuara gaduh, suka berdebat dan juga sombong di pasar; orang yang tidak pernah bangun malam (tidur sepanjang malam); hanya sibuk dengan dunia di waktu siang; sangat pandai dengan urusan dunia; namun bodoh dengan urusan akhirat.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra 10: 194. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1878).

Manusia itu menghadapi waktu itu berbeda sikap, karena secara umum, faktornya  kembali kepada tiga hal berikut :

1. Tidak menetapkan tujuan hidup, sukanya macam-macam. Waktu adalah ibadah.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
(QS. adz-Dzariyat/51:56).

Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. al-Mukminun/23:115).

2. Jahil / ketidaktahuan tentang penting dan berharga (nilai) nya waktu.

3. Lemah tekad dan semangat, karena kurang berdoa kepada Allah Ta’ala dan usaha yang minimal.

Memilih Waktu Terbaik

Belajar dari manusia pilihan, pewaris para Nabi, yang sudah mengenal asam garam, pahit manis perjalanan mengarungi waktu di dunia ini. Para Ulama kita, ulama kaum muslimin,  mereka pun dalam mengarungi kehidupan menuntut ilmu; membaca, menulis, menghafal, muraja’ah (mengulang pelajaran), dan aktivitas lainnya benar-benar telah memilih waktu terbaik dan membaginya dengan baik pula, itu adalah bukti sejarah, nyata dan tidak bisa ditampik tak terbantahkan dalam permasalahan ini.
Al Khathib Al Baghdadi rahimahullah berkata :

فأجود الأوقات: الأسحار، ثم بعدها وقت انتصاف النهار، وبعدها الغدوات دون العشيات. وحفظ الليل أصلح من حفظ النهار، وأوقات الجوع أحمد للتحفظ من أوقات الشبع

“waktu yang paling baik untuk menghafal adalah waktu sahur, di tengah hari, kemudian di pagi hari. Menghafal di waktu malam lebih baik dari waktu siang. Dan waktu lapar lebih baik dari waktu kenyang”
(Al Faqih wal Mutafaqqih, 2/103).

Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata :

أن يقسم أوقات ليله ونهار ويغتنم ما بقي من عمره فإن بقية العمر لا قيمة له. وأجود الأوقات للحفظ الأسحار وللبحث الإبكار وللكتاب وسط النهار وللمطالعة والمذاكرة الليل

“(termasuk ada seorang penuntut ilmu) adalah membagi waktu malam dan siangnya, dan memanfaatkan sis aumurnya. Karena sisa umur tidak ternilai harganya baginya.
Waktu yang paling baik untuk menghafal adalah waktu sahur, waktu pagi untuk penelitian, tengah hari untuk menulis, dan malam untuk menelaah serta mudzakarah (mengulang).”
( Penulis Kitab ‘Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallimin’).

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata :

وللحفظ أوقات من العمر، فأفضلها الصبا، وما يقاربه من أوقات الزمان، وأفضلها عادة الأسحار، وأنصاف النهار، والغدوات خير من العشيات، وأوقات الجوع خير من أوقات الشبع

“Dalam menghafal ada waktu-waktunya, yang paling baik adalah ketika masih kecil, atau yang masih mendekati itu lebih baik dari rentang usia yang lain.
Dan yang paling baik adalah ketika waktu sahur dan tengah hari. dan waktu-waktu pagi hingga siang, lebih baik dari siang hingga sore. waktu lapar lebih baik dari waktu kenyang”
(Shaidul Khathir, 580).

“Wahai manusia! Adakah yang mau merenungi dan mengambil tindakan nyata??”
Semoga Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah memberikan Taufiq kepada semuanya.
Wallahu Ta’ala A’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )