Maksud Mengharap Wajah Allah bimbingan islam
Maksud Mengharap Wajah Allah bimbingan islam

Maksud “Mengharap Wajah Allah”

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang maksud “mengharap wajah Allah
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saya ingin bertanya ustad. Dalam beribadah, kita diwajibkan untuk ikhlas. Salah satu makna ikhlas secara istilah adalah kita melakukan ibadah semata-mata mengharap wajah Allah. Yang menjadi pertanyaan saya, maksud dari “mengharap wajah Allah” itu apa ya ustad?

(Disampaikan oleh Fulan, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Selamat datang di Media Sosial Bimbingan Islam kepada Twitter @dzak***_ig, semoga Allah selalu membimbing kita di dalam jalan keridhoan-Nya.

1- Ikhlas Syarat Diterimanya Amal Ibadah Di Sisi Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala mewajibkan seluruh hamba untuk beribadah kepadaNya. Kemudian Dia akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan. Namun ibadah akan diterima oleh Allah, jika memenuhi syarat-syarat diterimanya amal sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya. Syarat-syarat tersebut ada tiga, yaitu: iman, ikhlas, dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan Nabi sholallahu ‘alaihi was sallam).

Banyak sekali dalil-dalil yang menyebutkan bahwa ikhlas sebagai syarat diterimanya amal. Antara lain hadits shohih di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Dari Abu Huroiroh, dia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersamaKu pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya.”
(HR. Muslim, no: 2985; Ibnu Majah, no. 4202)

2- Makna Ikhlas

Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan.
Maksud ikhlas dalam syara’ adalah memurnikan niat di dalam beribadah kepada Allah, semata-mata mencari ridha Allah, menginginkan wajah Allah, dan mengharapkan pahala/keuntungan di akhirat. Serta membersihkan niat dari syirik niat, riya’, sum’ah, mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi lainnya.

3- Isitlah-istilah Ikhlas

Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ikhlas disebut dengan beberapa istilah sebagai berikut:

1) Mencari ridha Allah

Allah Ta’ala berfirman:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
(QS. An-Nisa’/4: 114)

Di dalam ayat ini Alloh Ta’ala menyaratkan “mencari keridhaan Allah” untuk mendapatkan pahala yang besar bagi orang yang berbuat kebaikan-kebaikan.

2) Mencari wajah Allah

Alloh Ta’ala memberitakan tentang sebagian amal sholih Al-Abror (hamba-hamba Allah yang baik), kemudian Alloh menyebutkan bahwa mereka melakukan amal itu untuk mencari wajah Allah, sehingga Alloh memberikan balsan kebaikan untuk mereka . Allah Ta’ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9) إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (10) فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا (11) وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا (12

8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
9. (Mereka berkata:) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
10. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
11. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
12. dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.
(QS. Al-Insaan/76: 8-12)

3) Menghendaki keuntungan di akhirat

Alloh Alloh Ta’ala memberitakan bahwa orang yang keinginannya di dalam amalan adalah menghendaki keuntungan akhirat, maka Alloh akan memberikan tambahan balasan kebaikannya. Namun orang yang keinginannya hanya dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan kebaikan sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ اْلأَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
(QS. Asy-Syura/42: 20)

4) Ikhlas, Memurnikan niat untuk Alloh semata.

Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadits:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ النَّاسَ بِالْخَيْفِ نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا لِمَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَا فِقْهَ لَهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ وَطَاعَةُ ذَوِي الْأَمْرِ وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تَكُونُ مِنْ وَرَائِهِ

Dari Jubair bin Muth’im, dia berkata; saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah kepada manusia di Khaif, “Semoga Allah membaguskan wajah seorang hamba yang telah mendengar sabdaku lalu dia menjaganya, lalu menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya. Bisa jadi orang membawa hadis dia tidak paham tentangnya, bisa jadi orang yang membawa hadis menyampaikan kepada orang yang lebih paham. Ada tiga hal yang hati seorang mukmin tidak bakalan iri terhadapnya: ikhlas dalam beramal, taat kepada pemimpin dan melazimi jama’ah (muslimin)”.
(HR. Ahmad, no. 16754. Dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)

4- Maksud “Mengharapkan wajah Allah”.

Adapun penjelasan tentang maksud “mengharapkan wajah Allah”, di sini kami sampaikan penjelasan imam Ibnu Katsir rohimahulloh (wafat th 774 H) ketika menjelaskan firman Alloh Ta’ala:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (17) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (21

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
(yaitu orang) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri) nya,
padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi.
Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
(QS. Al-Lail/92: 17-21)

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh (wafat th 774 H) menjelaskan firman Alloh Ta’ala “karena mencari wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi”, dengan mengatakan:

أَيْ: طَمَعًا فِي أَنْ يَحْصُلَ لَهُ رُؤْيَتُهُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ

“Yaitu: dia sangat menginginkan mampu melihat wajah Alloh di negeri akhirat di taman-taman sorga”.
(Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Lail/92: 20)

Dan perlu diketahui bahwa di antara aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah adalah bahwa orang-orang mukmin akan melihat wajah Alloh di dalam sorga. Dan itu adalah nikmat yang paling besar. Seperti yang disebutkan di dalam hadits berikut ini:

عَنْ صُهَيْبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ “، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ} [يونس: 26]

Dari Shuhaib, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu (kenikmatan) yang Aku akan tambahkan kepada kamu?”.
Maka mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?
Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah diberi suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah ‘Azza wa Jalla”.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala).”
(QS Yunus:26)” (HR. Muslim, no. 181)

Semoga kita mendapatkan rohmat Alloh, sehingga dimasukkan ke dalam sorga-Nya dan diberi nikmat tambahan dengan melihat wajah-Nya yang mulia. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa mengabulkannya.
Inilah sedikit penjelasan pertanyaan saudara, wallohu a’lam bis Showab.

Wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Maghrib, 17 Shafar 1442 H/ 04 Oktober 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini