Makrifat Sudah Tidak Perlu Ibadah, Apa Benar?

Makrifat Sudah Tidak Perlu Ibadah, Apa Benar?

Makrifat Sudah Tidak Perlu Ibadah, Apa Benar?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki tuturkata mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang makrifat sudah tidak perlu ibadah, apa benar?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Alloh selalu menjaga ustadz, keluarga dan seluruh pengasuh Mahad Bias.

Ayah saya saat ini usia hampir 80, dulunya rajin sholat, tahajud dan puasa. setelah beliau tidak lagi bekerja pernah berguru ke seseorang di jakarta dan setelah Ibu kami meninggal 2 tahun lalu, kami melihat keanehan beliau tidak lagi sholat 5 waktu dan puasa.

Kami pernah mengingatkan beliau tapi beliau bicara bahwa “beliau tidak perlu lagi sholat dan puasa, amalan beliau sudah melebihi manusia tersoleh sekalipun sudah sangat tinggi, mengaku bisa menyembuhkan orang, dan lain lain“, seperti sebagian orang yang mengaku sampai ke tingkatan makrifat / marifat.

Kami melihat makin hari-makin aneh, biasanya dengan cucu-cucunya mau ngobrol dan main sekarang sudah tidak lagi dan pembicaraannya selalu tentang alam ghaib dan alam arwah, bisa melihat ibu yang sudah tiada dan bicara dengan-nya.
Beliau suka minta dibuatkan makanan tetapi makannya itu dia tujukan untuk arwah A, B, C, dan sebagainya.

Kami ambil kesimpulan bahwa beliau sudah dikuasai Jin. Kita minta beliau untuk membuang itu semua dan kembali sholat dan puasa, beliau tidak mau karena merasa ilmunya sudah tinggi dan amalannya sudah cukup banyak.
Kami ingin beliau diruqyah tapi kami ragu karena beliau tidak mau melepas ilmunya tersebut kami khawatir terjadi kegaduhan.
Kami tidak tahu tempat ruqyah yang syar’i yg bisa kami mintakan tolong, Ayah kami tinggalnya di Cirebon.

Mohon minta faedah dan Nasehat dari ustadz apa yang sebaiknya kami lakukan.

Tanya Jawab Mahad BIAS 1441 H
(Disampaikan Oleh Fulan – Santri Mahad BIAS 1441 H)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal Ikhwan wal Akhwat Baarakallah Fiikum Jami’an.

Perlu diketahui di dunia setelah diutus Nabi Muhammad Shallallah ‘alaihi wasallam sebagai Nabi yang terakhir, maka tidak ada yang hidup dari kalangan jin dan manusia kecuali harus tunduk di dalam syariat yang beliau bawa sampai kematian datang.
Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa’: 65)

Dalam ayat lain juga disebutkan,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
(QS. Al-Ahzab: 36)

sebagaimana Nabi yang mulia tetap shalat dan berusaha untuk menjaga shalat ke Masjid dengan dipapah oleh sahabat beliau di akhir  hayatnya. Dan tidak ada namanya lepas dari beban syariat.

Kecuali bagi mereka yang dikhususkan oleh syariat.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ وَعَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ 

“Diangkat pena (tidak ditulis dosa) dari 3 kelompok orang: (1) Orang gila yang terhalangi akalnya, sampai sadar, (2) orang yang tidur hingga bangun, (3) Anak kecil sampai baligh”
(HR. Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Albany)

Bagi orang yang mengaku lepas dari beban syariat seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya (kadang sebagian menyebut dengan tingkatan makrifat / marifat) selain yang dikecualikan syari’at hanya ada dua kemungkinan :
digoda oleh syaithan dan dikuasai oleh jin atau orang tersebut malas alias menuruti hawa nafsu belaka.
Maka orang ini berdosa dan harus bertobat kepada Allah Ta’ala.

Jika terkena gangguan jin yang dilakukan kembali kepada Allah Ta’ala, berdoa dengan khusyuk, perbanyak zikir pagi dan petang, rutinkan membaca atau mendengar Al Qur’an utamanya surat al Baqarah, banyak-banyak  bersimpuh kepada-Nya, banyak meminta perlindungan dari gangguan syaithan dengan memperbanyak ta’awudz:

أَعُوْذُ باللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Dan memutus segala perkara yang mengantarkan kepada pemahaman ada hamba yang bisa lepas dari beban syariat (jangan ikuti pengajian yang aneh dan nyeleneh) serta teman-teman yang buruk.
Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Senin, 26 Shafar 1441 H/ 25 Oktober 2019 M



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS