Tafsir / Makna Al-Quran Surat Shaad : Ayat 72

Tafsir / Makna Al-Quran Surat Shaad : Ayat 72

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركة

Ustadz..
Saya ingin bertanya ttg keraguan saya pada makna QS. Sad: 72, yg isinya tentang Peniupan Ruh ke Jasad Manusia..

Bagi sebagian orang, ini dijadikan dalil bahwa diri manusia memiliki unsur ilahiyah (ketuhanan) krn mereka memaknai bahwa Allah meniupkan sebagian ruh-Nya, merujuk pada kata “mir ruuhi” {bukan diartikan ruh (ciptaan)-Nya}.
Menurut saya itu tidak tepat, saya sendiri belum pernah mendengar ucapan ulama manhaj salaf mengatakan manusia ada unsur ketuhanan.

Bagaimana yg benar ustadz? dan bagaimana kita menyanggah pernyataan orang2 tersebut? Jazakallah khairan..

Wassalammu’alaykum

( Syindhi – Bekasi,
SAHABAT BiAS T06 G-24)

 

Jawaban

وعليكم السلام ورحة الله وبركاته

Keliru jika difahami “Min Ruhii itu adalah RuhNya Allah”, mereka hanya main akal-akalan saja ketika memahami ruh Allah yang ditiupkan. Ini tidak mungkin baik secara akal maupun secara syar’i.

Seperti Allah mengatakan Baitullah Rumah milik Allah, bukan berarti rumah tersebut adalah bagian dari Allah, naudzubillah. Tapi maksud dari rumah Allah adalah rumah Milik Allah.

Kalau dikatakan rumah bagian dari Allah, berarti Allah menyatu dengan segala hal di dunia karena semua milik Allah. Apa kita akan mengatakan bahwa Allah menyatu degan segala sesuatu? naudzubillah min dzalik

Tapi maksud dari Ruuhii (Roh Ku) adalah roh yang diciptakan oleh Allah dan roh tadi adalah makhluk bukan bagian dari Diri Allah ta’ala. Dan ahlus sunnah wal jama’ah sepakat maksud dari roh dalam ayat tadi adalah makhluk ciptaan Allah, bukan bagian dari Allah.

Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanfi berkata :

وَاتَّفَقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّهَا مَخْلُوقَةٌ, وَمِمَّنْ نَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ الْمَرْوَزِيُّ، وَابْنُ قُتَيْبَةَ وَغَيْرُهُمَا

“Dan ahlus sunnah bersepakat bahwa ruh tadi adalah makhluk. Diantara yang menukil ijma’ ini adalah Muhammad bin
Nasr Al Marwazi dan Ibnu Qutaibah dan yang lainnya”

Sumber Syarah Aqidah Thahawiyah : 1/391)

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Kamis, 19 Muharram 1438 H / 20 Oktober 2016

CATEGORIES
Share This

COMMENTS