Makan Makanan yang Tidak Ada Label Halal?

Makan Makanan yang Tidak Ada Label Halal?

Makan Makanan yang Tidak Ada Label Halal, Dosakah?

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ana mau bertanya, ana sering dapat oleh-oleh makanan dari teman & saudara sehabis liburan dari jawa, seperti bakpia, roti dan sejenisnya, tapi pada kotak/bungkusnya tidakada tulisan halalnya.
Apakah makanan itu boleh kita konsumsi atau tidak?

(Disampaikan Admin Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Halal makanan berupa oleh-oleh tersebut selama terbuat dari bahan-bahan yang halal. Dan karena hukum asal dari segala sesuatu itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya.

Makanan tersebut halal kecuali kita mengetahui berdasarkan data dan fakta meyakinkan bahwa makanan itu mengandung unsur haram. Adapun jika masih berupa isu maka kita kembali ke hukum asalnya yaitu halal.
Allah ta’ala berfirman :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS Al-Baqarah : 29).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan :

اعلم أن الأصل في جميع الأعيان الموجودة على اختلاف أصنافها وتباين أوصافها : أن تكون حلالا مطلقا للآدميين ، وأن تكون طاهرة لا يحرم عليهم ملابستها ومباشرتها ، ومماستها ، وهذه كلمة جامعة ، ومقالة عامة ، وقضية فاضلة عظيمة المنفعة ، واسعة البركة 

“Ketahuilah bahwa hukum asal dari segala sesuatu yang ada dengan seluruh jenis dan sifat yang ada adalah halal bagi manusia secara mutlak. Dan hukum asalnya suci tidak dilarang untuk dikenakan, disentuh serta dipegang.

Ini adalah kalimat yang menyeluruh, ucapan yang umum, perkara yang utama serta memiliki manfaat yang sangat banyak demikian pula barokah yang tidak sedikit.”
(Majmu’ Fatawa : 21/535).

 

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
Kamis, 28 Dzulhijjah 1440 H / 29 Agustus 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS