Letih dan Capek Mengurus Keluarga Adalah Ibadah bimbinganislam
Letih dan Capek Mengurus Keluarga Adalah Ibadah bimbinganislam

Letih dan Capek Mengurus Keluarga Adalah Ibadah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang letik dan capek mengurus keluarga adalah ibadah.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Saya mau nanya ustadz, semenjak punya anak intensitas ibadah berkurang, tidak seperti dulu sebelum punya anak, ingin rasanya bisa seperti dulu tapi rasanya sangat sulit, jika ada waktu luang sudah capek oleh rutinitas sehari-hari jadi memilih istirahat, saya harus bagaimana ya ustadz?
Mohon nasehatnya.

Jazakallahu khayran ustadz, barakallahu fik.

(Disampaikan oleh Fulanah, Disampaikan oleh sahabat BiAS T08-40)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal  Ikhwan wal Akhwat baarakallah fiikum Ajma’in.

Tugas kita di dunia adalah beribadah untuk mengabdi beribadah kepada Allah. Sehingga hendaklah kita jadikan semua aktivitas kita bertujuan mencari keridhoan Allah.

Lelah letihnya seorang ibu dalam mengandung, melahirkan dan membesarkan seorang anak bisa berbuah pahala di sisi Allah jika diiringi dengan niat yang benar demi mengharapkan ridha Allah. sehingga pada hakikatnya, ibadahnya tidaklah berkurang, namun berubah menjadi ibadah lainnya.

Dan tatkala seorang wanita yang baru menjadi ibu merasa tidak bisa beribadah seperti dulu, memperbanyak sholat malam misalnya, karena sudah kelelahan siang harinya mengurus anak sehingga tidak bisa istirahat, kita harapkan dirinya tetap mendapatkan pahala ibadahnya dahulu. Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.”
(HR. Bukhari : 2996).

Tetap laksanakan ibadah – ibadah yang pernah dikerjakan, namun mungkin dikurangi dari sisi kuantitasnya, misalkan: dahulu sholat malam bisa dua jam di akhir malam, sekarang mungkin setengah jam sebelum tidur, dan sisa waktu digunakan untuk istirahat agar fit dikeesokan harinya.

BACA JUGA

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 13 Syawal 1441 H / 05 Juni 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini