Larangan & Bahaya “Menjilat”

Larangan & Bahaya “Menjilat”

Larangan & Bahaya “Menjilat”

Para pembaca Bimbinganislam.com yang berpegang teguh dengan sunnah berikut kami sajikan pembahasan tentang larangan dan bahaya “menjilat”.
selamat membaca.


Nabi Melarang Tindakan “Menjilat”

Menjilat adalah memuji orang di hadapannya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, sebuah perbuatan yang sangat berbahaya bagi sang “penjilat” maupun yang “dijilat”.

Bagi yang “dijilat”, pujian ini bisa menyebabkan dirinya terjatuh dalam ujub bahkan tertipu dengan pujian. Dia sangka dirinya begitu baik & mulia seperti pujian tersebut, padahal pujian itu bukan pujian yang tulus.
Dalam satu hadits disebutkan ada seseorang yang memuji orang lain berlebihan di hadapan orang yang dipuji, maka Nabi shallallahu ‘alaihi memperingatkan kepada orang yang memuji :

ويحك قطعت عنق صاحبك قطعت عنق صاحبك مرارا

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher saudaramu! Celaka engkau, engkau telah memotong leher saudaramu!” Nabi mengulanginya beberapa kali.
(HR Bukhari & Muslim)

Bagi sang “penjilat”, perbuatan tersebut sangat berbahaya bagi agamanya. Perbuatan tersebut adalah bagian dari persaksian palsu yang dilarang oleh Allah ta’ala. Allah berfirman:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

“maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah persaksian-persakisan dusta”.
(QS al Hajj: 30)

Renungkan pula perkataan sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu tentang kondisi orang yang gemar menjilat:

إن الرجل ليخرج من بيته ومعه دينه فيلقى الرجل وله إليه حاجة فيقول له: أنت كيت وكيت!-يثني عليه-؛ لعله أن يقضي من حاجته شيئاً فيسخط الله عليه، فيرجع وما معه من دينه شيء

“Sesungguhnya ada lelaki yang keluar dari rumahnya dan masih memliki agama, kemudian dia bertemu seseorang yang dia punya keperluan dengannya. Lelaki ini pun berkata, “Sesungguhnya engkau itu begini dan begitu”, lelaki ini memuji orang tersebut sambil berharap agar mau menolong keperluannya.
Maka Allah pun murka kepada lelaki itu, diapun kembali ke rumahnya dalam keadaan tidak memiliki agama”
(Diriwayatkan Imam Ahmad dalam al ‘Ilal dan Imam Hakim dalam al Mustadrak)

Kehilangan agama, sungguh bahaya yang sangat besar bagi orang para pelakunya!
Tersisa pertanyaan bagaimana agar kita jangan sampai terkena penyakit ini, penyakit suka menjilat?
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dan perlu kita usahakan:

Solusi Agar Jauh dari Sifat “Menjilat”

Pertama, berdoa kepada Allah

Berdoa kepada Allah agar Dia memberikan kepada kita jiwa yang baik dan membersihkan diri kita dari amalan-amalan buruk karena hanya Dia lah yang mampu merubah dan memperbaiki keadaan setiap manusia termasuk diri kita. Di antara doa yang bisa dibaca:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا. أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Allahumma aati nafsii taqwahaa, wa zakkihaa, anta khairu man zakkahaa, anta waliyyuhaa wa maulaahaa.
Artinya : “Ya Allah berikan ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya. Engkaulah Pemilik & Penguasa jiwaku”.
(HR Muslim)

Kedua, Biasakan Berkata Jujur

Biasakan berkata jujur. Dengan biasa berkata jujur, seseorang akan risih jika berkata dusta dan hatinya tidak akan tenang ketika berkata dusta termasuk berdusta untuk memuji orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً, وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً.

Hendaklah kalian berkata jujur karena jujur itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa ke surga. Seseorang itu senantiasa berkata jujur dan berusaha untuk jujur sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Hati-hatilah dari perkataan dusta karena dusta itu membawa pada dosa dan dosa akan mengantar ke neraka. Seseorang senantiasa berkata dusta dan terbiasa berkata dusta sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta
.
(HR Muslim)

Ketiga, Tingkatkan Tawakkal Pada Allah & Jangan Berharap Pada Makhluk

Tingkatkan rasa tawakal kita kepada Allah dan jangan banyak berharap kepada makhluk yang lemah. Orang menjilat sebabnya karena dia butuh sesuatu dan dia sangat berharap agar orang lain bisa memenuhi kebutuhan itu diiringi tipisnya rasa tawakal kepada Allah sehingga dia berani melanggar perintah Allah demi terpenuhin kebutuhannya.
Allah ta’ala berfirman dan memberi janji kepada orang-orang yang bertawakal:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”
(QS ath Thalaq: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menggambarkan orang-orang yang bertawakala kepada Allah dengan sebuah gambaran perumpamaan:

لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصاً وتروح بطاناً

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung.
Burung itu pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan perut kenyang”
(HR Tirmizi, beliau menilai hadits ini hadits hasan)

Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menjauhkan diri kita dari akhlak-akhlak yang buruk, Wallahu a’lam.

 

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Amrullah Akadhinta, ST.
Beliau adalah Sekretaris jenderal KIPMI, Direktur operasional BimbinganIslam (BiAS), Direktur TwitUlama, dan aktif di yayasan dan lembaga lainnya.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )