NikahWanita

Kriteria Calon Suami Yang Baik, Adakah Pada Dirimu?

Kriteria Calon Suami Yang Baik, Adakah Pada Dirimu?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan kriteria calon suami yang baik, adakah pada dirimu? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustaz. Izin bertanya pada materi fikih pernikahan Ep. 04 dikatakan bahwa kriteria calon suami yang baik adalah yang memiliki ilmu agama wajib yang baik?

Ilmu-ilmu wajib apa yang perlu calon suami miliki sehingga bisa memenuhi kriteria calon suami yang baik. Terima kasih, wassalamualaikum.

(Ditanyakan oleh Santri Akademi Shalihah)


Jawaban:

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Ilmu Fardu ‘ain terbagi menjadi dua:

1. Jenis ilmu Fardu ‘ain yang harus dipelajari oleh seluruh mukallafiin (orang-orang yang baligh dan berakal sehat) di mana pun mereka berada dan kapan pun juga.

Jenis ilmu Fardu ‘ain inilah yang disebutkan contoh-contohnya oleh Imam Ahmad, An-Nawawi dan Ulama lainnya, seperti:

Mengetahui tauhid dan kebalikannya, yaitu syirik, pokok-pokok keimanan (Rukun Iman) dan Rukun Islam, hukum-hukum sholat, tata cara wudhu, bersuci dari junub, dan yang semisalnya dan termasuk juga dalam jenis ini, yaitu mengetahui perkara-perkara yang diharamkan dalam Islam, seperti dalam masalah makanan, minuman, pakaian, kehormatan, darah, harta, ucapan dan perbuatan.

2. Jenis ilmu Fardu ‘ain yang harus dipelajari oleh sebagian mukallafiin saja, yang memiliki kewajiban tertentu yang khusus baginya.

Baca Juga:  Mempercantik Diri Untuk Suami

Sehingga orang lain yang tidak memiliki kewajiban tersebut, tidak harus mempelajari ilmu itu.

Penjelasan:

Jenis ilmu Fardu ‘ain yang satu ini, contoh-contohnya di antaranya adalah :

A. Ilmu tentang suatu ibadah tertentu bagi orang yang mampu mengerjakannya.

Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan contoh-contoh ilmu fardhu ‘ain:

من كان عنده مال أن يتعلم أحكام الزكاة ……. من أراد أن يحج أن يتعلم أحكام الحج لأن هذه عبادات متلقاة من الشرع فلابد أن يعلم كيف شرعها الشارع ليعبد الله على بصيرة

Orang yang memiliki harta wajib mempelajari hukum-hukum zakat, . . . demikian pula orang yang hendak menunaikan ibadah haji, wajib baginya mempelajari hukum-hukum haji, karena ibadah itu sumbernya adalah Syari’at, maka wajib mempelajari tata cara ibadah yang disyari’atkan oleh Allah, agar seseorang bisa beribadah kepada-Nya berdasarkan ilmu. (lihat http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_98.shtml)

B. Ilmu tentang pekerjaan, profesi atau tugas, agar bisa menunaikan kewajiban pekerjaannya dan agar terhindar dari melakukan keharoman dalam pekerjaannya. Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

ثم فرض على قواد العساكر معرفة السِّير وأحكام الجهاد وقَسْم الغنائم والفيء. ثم فرض على الأمراء والقضاة تعلم الأحكام والأقضية والحدود، وليس تعلم ذلك فرضا على غيرهم

Selanjutnya, diwajibkan bagi para komandan pasukan untuk mengetahui ilmu tentang strategi mobilitas pasukan, hukum-hukum jihad, pembagian rampasan perang dan fai`.

Diwajibkan pula bagi para pejabat pemerintahan dan hakim untuk mempelajari hukum-hukum fikih peradilan dan hukuman hudud, akan tetapi mempelajari hal itu tidak wajib bagi selain mereka. (Al-Ihkam 5/122, Ibnu Hazm. (Pdf, Waqfeya.com).

Catatan:

Misalkan bagi pegawai negeri wajib mengatahui hak dan tugas kewajiban serta menjauhi prilaku pegawai, ASN atau PNS yang tidak amanah.

C. Ilmu tentang mu’malah (aktivitas) yang hendak dilakukannya, agar bisa menghindari larangan yang haram dilakukan dan bisa menunaikan kewajibannya terhadap pihak lain. Syaikh Muhammad Sholeh Al-Munajjid rahimahullah memberi contoh ilmu-ilmu yang termasuk fardhu ‘ain :

ومن ذلك تعلم أحكام البيع والشراء لمن أراد أن يتعامل بذلك ، وكذا أحكام النكاح والطلاق والأطعمة والأشربة وغيرها من المعاملات لمن أراد الإقدام على شيء منها

Dan yang termasuk ilmu fardhu ‘ain adalah mempelajari hukum-hukum jual beli bagi orang yang hendak melakukan aktivitas jual beli, demikian pula hukum-hukum nikah, thalaq, makanan, minuman dan mu’amalah selainnya, bagi orang yang hendak melakukan salah satu bentuk mu’amalah tersebut (lihatlah Islamqa.info/ar/47273). Catatan; Bagi suami istri wajib mengetahui hak dan kewajiban suami dan istri dan bagaimana menjadi pasangan yang ideal.

D. Ilmu tentang hukum suatu kejadian kontemporer bagi yang mengalaminya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

ويجب عليه الاستفتاء إذا نزلت به حادثة يجب عليه علم حكمها فإن لم يجد ببلده من يستفتيه وجب عليه الرحيل إلى من يفتيه وإن بَعُدت داره، وقد رحل خلائق من السلف في المسألة الواحدة الليالي والأيام

“Wajib baginya (seseorang yang tidak tahu hukum suatu kejadian -pent) untuk meminta fatwa, jika mengalami kejadian kontemporer yang harus diketahui hukumnya. Jika di negerinya tidak didapatkan orang yang mampu berfatwa, maka wajib baginya pergi kepada orang yang mampu berfatwa walaupun jauh dari rumahnya. (Di dalam sejarah ilmiyah) beberapa orang Salaf dahulu pergi mencari ilmu tentang satu masalah sampai selama berhari-hari”

(Lihat Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, An-Nawawi, hal. 91 (Pdf,Waqfeya.com).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag.
حفظه الله
Jumat, 7 Muharram 1443 H/ 5 Agustus 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga:  Baru Tahu Dahulu Menikah Dengan Wali dari Pihak Ibu, Apakah Harus Nikah Ulang?

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button