Kita Serahkan Semuanya kepada Allah Yang Di Atas!

Kita Serahkan Semuanya kepada Allah Yang Di Atas!

Kita Serahkan Semuanya kepada Allah Yang Di Atas!
Iblis Musuh yang Nyata

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا۝

“Sungguh, setan adalah musuh nyata bagi manusia.” (Q.S. Al-Isra’ 17: 53)

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ۝

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (Q.S. Al-Maidah 5: 90)

Para pembaca yang budiman,

Inilah pengabaran dari Sang Pencipta Rabbul Alamin bahwasanya musuh Allah yaitu Iblis akan selalu mengumandangkan peperangan terhadap manusia. Mereka akan selalu mencari jalan untuk menyesatkan manusia, berusaha membisikkan berbagai macam kesyirikan pada hati manusia, dan menghiasi perkara-perkara yang buruk dari berbagai kemaksiatan sehingga terlihat baik dan indah di mata manusia. Semua itu demi menjauhkan manusia dari cahaya hidayah Al Qur’an dan Sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga manusia menjadi sesat dan kelak nerakalah tempat penghunjung akhir manusia sebagaimana mereka para Iblis.

Menjadi bagian dari tipuan Iblis yaitu Iblis membisikan pada sebagian manusia bahwa akal adalah tolak ukur suatu kebenaran, akibatnya mereka mulai memahami dalil-dalil syar’i baik Al Qur’an ataupun Hadist-hadist Nabi yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan akal-akal mereka. Hasilnya, apa-apa yang sesuai dengan akal mereka maka mereka tetapkan dan apa-apa yang tidak sesuai dengan akal mereka maka mereka melakukan takwil dengan takwil yang sangat jauh dari hidayah kebenaran. Alasan mereka melakukan takwil tersebut yaitu agar menyucikan Allah dari penyerupaan terhadap makhluk.

Sungguh ini adalah perbuatan yang sangat menyimpang. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah pergi menjauh dari suatu ketetapan kepada peniadaan. Buruknya lagi mereka menyangka perbuatan mereka adalah perbuatan yang baik. Sampai-sampai sebagian mereka berfatwa barangsiapa yang mengatakan Allah berada di atas langit maka dia telah sesat. Padahal sebenarnya fatwa inilah yang sesat karena menyelisihi dalil-dalil pada Al Qur’an dan Sunnah serta menyelisihi Ijmak Ulama.

Dimanakah Allah?

“Dimanakah Allah?” Seakan sebuah pertanyaan yang sangat tabu di akhir-akhir ini untuk dilontarkan.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berkeyakinan bahwa Allah adalah Yang Maha tinggi dan Yang disifati dengan segala makna tinggi dalam tiga hal yaitu:

  1. Kekuasaan, tidak ada satupun yang dapat menandingi-Nya dan menentang-Nya bahkan segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya.
  2. Kedudukan, Allah Maha Tinggi dari semua sifat kekurangan dan cacat yang menafikan keesaan Allah pada uluhiyah-Nya (keesaan Allah dalam ibadah), rububiyah-Nya (keesaan Allah dalam penciptaan, penguasaaan, dan pengaturan) dan nama-Nya yang indah serta sifat-Nya yang tinggi dan paling sempurna.
  3. Zat, Allah berada diatas segala sesuatu, baik langit maupun Arsy secara zat.

Dua poin pertama di atas yaitu ketinggian Allah pada kekuasaan dan kedudukan. Tidaklah satupun seseorang yang mengaku beragama islam dan menisbatkan diri padanya menyelisihi kedua poin tersebut. Adapun untuk poin ketiga yaitu ketinggian Allah pada zat-Nya maka para Ahlul bid’ah menentang dan menyelisihinya. Padahal perkara ini sangatlah jelas secara fitrah manusia, akal dan syari’at. (Ash-Showa’iqul Mursalah, 4/1324 dan Ma’arijul Qabuul, 1/146).

Adapun dalil-dalil yang menunjukan akan ketinggian Allah bersama zat-Nya dalam Al Qur’an dan Hadist-hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah banyak dan bermacam-macam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: “Inilah Al Qur’an dari awal sampai akhir, kemudian Hadist-hadist Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari awal sampai akhir dipenuhi dengan pernyataan bahwa Allah Ta’ala adalah Maha Tinggi dan zat yang paling tinggi. Dia berada tinggi di atas segala sesuatu, Allah berada di atas langit dan Arsy. Perihal itu terdapat pada Hadist-hadist shahih maupun hasan yang tidak terhitung jumlahnya dan tidak ada yang dapat menghitungnya secara detail kecuali Allah Ta’ala.” (Majmu’ Fatawa 5/12-15)

Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya I’laamul Muwaqiin lebih dari dua puluh macam pendalilan yang menunjukan akan ketinggian Allah Ta’ala bersama zat-Nya, kemudian juga ditambahkan juga oleh Syaikh Hafizd Al-Hakami sekitar empat macam pendalilan di dalam kitabnya Ma’aarijul Qabuul.

Dijumpai banyaknya dalil sebagaimana diungkapkan oleh para ahli imu dari kalangan salafush shalih baik dari kalangan sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan ulama-ulama setelahnya termasuk imam 4 madzhab yaitu Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal Rahimahumullah jami’an atas keberadaan Allah bersama zat-Nya di atas langit dan merekapun meyakininya, masihkah kita ragu akan keberadaan Allah di atas langit bersama zat-Nya, belum lagi secara fitrah manusia itu sendiri yang membenarkan hal itu. Oleh karena itu agar lebih gamblang, mari kita simak beberapa macam pendalilan yang membuktikan hal tersebut yang terdapat dalam Al Qu’an dan Hadist.

Macam-macam pendalilan yang menunjukan ketinggian Allah bersama zat-Nya atas makhluk-Nya.

1. Penyebutan sifat fauqiyyah (keberadaan Allah di atas) tanpa disandingi dengan kata lain, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah Allah Ta’ala lebih tinggi dari seluruh hamba-hamban-Nya.” (Q.S. Al-An’am 6: 18)

2. Penyebutan sifat fauqiyyah (keberadaan Allah diatas) dengan penyandingan huruf tambahan yaitu min (من) yang di dalam bahasa arab itu memberikan arti pengkhususan keberadaan di atas suatu zat dari segi posisi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ۝

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang diatas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (Q.S. An-Nahl 16: 50)

3. Penyebutan jelas dengan kata ‘uruuj yang artinya dalam bahasa arab yaitu naik. Dan yang namanya naik berarti ke atas. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Malaikat-malaikat dan jibril naik (menghadap) kepada Allah, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.” (Q.S. Al-Ma’arij 70: 4)

4. Penyebutan jelas dengan kata shu’ud yang dalam bahasa arab artinya semakna dengan kata ‘uruuj yaitu naik, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik  dan amal-amal kebajikan Dia akan mengangkatnya.” (Q.S. Fathir 35: 10)

5. Penyebutan diangkatnya sebagian makhluk oleh Allah kepada-Nya, Allah Ta’ala berfirman:

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا۝

 “tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkatnya (Isa ‘alaihis salam) kepada-Nya  Allah Maha perkasa dan bijaksana.” (Q.S. An-Nisa 4: 158)

6. Penyebutan dengan jelas bahwa Allah Ta’ala tinggi secara mutlak, Allah Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ۝

“Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S. Al-Baqarah 2: 255)

7. Penyebutan jelas akan turunnya Al Qur’an dari sisi Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman:

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ۝

“Kitab ini (Al Qur’an) diturunkan dari Allah yang maha perkasa.” (Q.S. Al-Ahqaf 46: 2)

8. Pernyataan yang jelas atas disyariatkannya mengangkat tangan saat berdoa kepada Allah Ta’ala, ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Allah itu pemalu bagi hamba-hamba-Nya apabila hamba-Nya berdoa seraya mengangkat tangan kepada-Nya, namun dikembalikan tangannya dalam keadaan kosong.” (H.R Abu Daud di dalam Sunannya no. 1488 dan Ibnu Majah no. 1385)

Hafiz Al-Hakami berkata: “Dalil tentang mengangkat tangan saat berdoa ditemui lebih dari seratus hadist dalam peristiwa yang berbeda dan bermacam-macam. Hal ini juga diketahui secara fitrah manusia. Maka setiap kali seorang mukmin ditimpa kesulitan dalam urusannya, ia mengadahkan kedua tangannya ke atas, berdoa kepada Allah Ta’ala.” (Ma’aarijul Qabuul 1/169)

9. Penyebutan jelas dengan menggunakan kata istiwa’ (استواء) yang disandingkan dengan huruf ‘alaa (على) yang bermakna pengkhususan istiwa’ (bersemayam) dengan ‘ Allah Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى۝

“Allah yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Tha-ha 20: 5)

Perlu diketahui, kata istiwa’ dalam bahasa arab memiliki banyak makna. Akan tetapi apabila istiwa’ disandingkan dengan huruf ‘alaa seperti potongan ayat di atas, maka    tidak ada makna lain selain makna “tinggi atau di atas”.

10. Penyebutan jelas dengan lafaz pertanyaan “di mana Allah”.

Sebagaimana pertanyaan seorang yang paling fasih diantara manusia yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang budak wanita.

فقال : أين الله قالت : في السماء

“Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada seorang budak, di mana Allah? Maka budak itupun menjawab, Allah berada di atas langit.” (H.R Muslim no. 537)

11. Berita dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pergi bolak-balik naik-turun antara Nabi Musa ‘Alaihissalam dan Rabbnya pada malam Mi’raj karena ingin meminta keringanan atas kewajiban shalat dari lima puluh waktu menjadi lima waktu. Maka beliau naik kepada Allah, kemudian kembali lagi kepada Musa ‘Alaihissalam berkali-kali. (Hadist yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari no. 439).

Dan masih banyak lagi jenis-jenis pendalilan yang bermacam-macam yang menunjukan keberadaan Allah di atas langit bersama zat-Nya. Sebagaimana telah kami sebutkan di awal sekitar lebih dari dua puluh macam pendalilan.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Inilah berbagai macam pendalilan yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan Hadist-hadist. Dan apabila dikupas satu persatu maka dalil yang dijumpai akan berjumlah ribuan.” (I’laamul Muwaqi’iin 4/75)

Renungan !

Dengan banyaknya dalil baik dari Al Qur’an maupun Hadist-hadist Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam yang menunjukan Allah berada di atas langit, haruskah kita menolak itu semua. Jikapun tidak, haruskah kita melakukan takwil tanpa berdasarkan dalil untuk meniadakan sifat ketinggian Allah bersama zat-Nya demi mengikuti akal yang terbatas. Padahal terlalu banyak dalil yang menunjukan hal tersebut.

Secara fitrah manusiapun tidak bisa menolak akan ketinggian Allah bersama zat-Nya di atas langit. Seseorang jika ingin berdoa, maka sebelum memulai doa hatinya pasti terpaut ke atas langit dengan sendirinya, kemudian baru mengangkat tangan ke  atas langit seraya meminta hajatnya yang dibutuhkan kepada Allah Ta’ala.  Jika harus menolak akan ketinggian Allah bersama zat-Nya di langit, bagaimanakah cara untuk menghilangkan fitrah yang diberikan Allah ini?

Cukuplah pembuktian yang sangat jelas dan nyata sebagaimana yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang siapapun dia baik dari kalangan awam maupun para penolak akan keberadaan Allah di atas langit, biasanya jika terdesak atas sesuatu perkara yang tidak bisa diselesaikan, maka akan terucap dari mulutnya dengan sendirinya “Kita serahkan semuanya kepada yang di atas.”

Semoga kita selalu diberi hidayah oleh Allah dalam memahami aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Aamiiin.

Wallahu Ta’ala a’lam..

Ditulis Oleh:
Ustadz Gigih Nugraha حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 


Sumber Bacaan : Ajwibatu syaikhil islam ibni taimiyah ‘an syubhaat attafsiiliyyah lilmu’athilah fis sifaati adz-dzatiyyah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS