Kisah Pemimpin Idaman

Kisah Pemimpin Idaman

Kisah kita kali ini terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Kala itu, di daerah Syam, ada sebuah kota yang bernama Himsh atau yang terkenal dengan julukan ‘Al-Kuwaifah’. Julukan ‘Al-Kuwaifah’ disematkan kepada kota tersebut karena sifat warganya mirip warga kota Kufah yang suka mengeluhkan (mengkritik) para pemimpin dan aparat pemerintahan mereka. Untuk memimpin kota tersebut, ‘Umar bin al-Khathab Radhiyallahu ‘anhu telah menunjuk salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahiy Radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur.

Pada suatu hari, khalifah ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengadakan kunjungan ke kota Syam untuk mengetahui keadaan rakyatnya di sana. Dalam kunjungan tersebut, ia sempatkan diri untuk mampir di kota Himsh. Warga kota tersebut pun antusias menyambut kedatangan Sang Khalifah. Momen ini dimanfaatkan oleh ‘Umar untuk bercakap-cakap dengan rakyatnya.

“Apa pendapat kalian tentang Gubernur kalian?” Kata ‘Umar membuka dialog. Jawaban rakyat kota Himsh sungguh tak disangka oleh Sang Amirul Mukminin. Mereka mengadukan empat hal besar tentang gubernur mereka. ‘Umar pun segera memanggil gubernur kota tersebut dan mengundang warga kota untuk duduk bersama dalam sebuah acara dialog terbuka.

Keesokan harinya, ketika Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahi Sang Gubernur telah hadir, dan  warga kota telah berkumpul. “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?” Tanya ‘Umar kepada penduduk kota Himsh membuka percakapan. “Gubernur kami ini tidaklah keluar menjumpai kami kecuali pada tengah hari.” Jawab mereka. “Apa yang akan kau katakan tentang hal ini wahai Sa’id?” Tanya ‘Umar kepada Sang Gubernur.

Sang Gubernur terdiam sejenak lalu bersua,”Demi Allah, sesungguhnya aku tidak ingin mengungkapkan hal ini. Akan tetapi, kalau memang harus, apalah boleh buat. Sesungguhnya keluarga kami tak punya pembantu (pelayan). Oleh karena itu, setiap pagi, akulah yang membuatkan adonan roti untuk mereka, aku tunggu adonan itu sampai sedikit mengembang, lalu aku sajikan roti itu untuk mereka. Setelah itu, aku ambil wudlu lalu aku keluar menjumpai rakyatku.”

“Sebutkan keluhan kalian yang lain!” Seru Sang Khalifah kepada penduduk Himsh. “Gubernur kami ini tidak menerima tamu di malam hari.” Jawab mereka. “Apa yang akan kau katakan tentang hal ini wahai Sa’id?” Tanya ‘Umar. “Sesungguhnya aku tak ingin mengungkapkan hal ini juga. Aku jadikan siangku untuk rakyatku, dan malamku untuk Tuhanku.” Jawab Sa’id.

“Apa lagi yang kalian keluhkan?” Tanya ‘Umar. “Satu hari dalam sebulan, gubernur kami ini tak keluar menjumpai kami.” Jawab warga. “Apa ini, wahai Sa’id?!” Sahut ‘Umar.  “Aku tak punya pelayan wahai Amirul Mukminin, aku juga tak punya baju kecuali yang aku kenakan ini. Aku mencucinya setiap bulan sekali, aku tunggu sampai kering, lalu aku keluar menjumpai rakyatku di akhir siang.” Jawab Sang Gubernur.

“Apalagi yang kalian keluhkan?” Tanya ‘Umar kepada warga Himsh. “Dalam banyak kesempatan, Gubernur kami ini pingsan, lalu ia menghilang dari orang-orang yang berada di majelisnya.” Keluh warga. “Apa lagi ini wahai Sa’id ?!” Bentak Sang Amirul Mukminin. “Aku adalah salah satu orang yang hadir dalam peristiwa pembunuhan Hubaib bin ‘Adiy (salah seorang sahabat Nabi) ketika aku masih musyrik (belum masuk Islam). Aku menyaksikan dengan mata kepalaku bagaimana orang-orang Quraisy mencincang tubuhnya. Mereka berkata, “Apakah kau ingin Muhammad menggantikanmu saat ini?” Ia (Hubaib) menjawab,”Demi Allah, Aku tak rela hidup tentram dan nyaman bersama keluargaku sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tertusuk duri.” Aku ingat betul kejadian itu, aku ingat bagaimana waktu itu aku hanya terdiam melihatnya dimutilasi. Jika mengingat kejadian itu, aku kira Allah tak kan mengampuniku. Hingga aku pun tak sadarkan diri.” Jelas Sa’id.

Seketika itu, ‘Umar pun berkata,”Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang tak pernah membuat prasangkaku terhadapnya (Sa’id) meleset.”, lalu Sang Khalifah pun mengirimkan seribu dinar kepada gubernurnya itu untuk membantunya memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ketika kiriman sampai, istri sang Gubernur pun sumringah. Kepada sang suami, ia berkata, “Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mencukupkan kita dari pelayananmu. Ayo kita beli kebutuhan kita dan kita sewa pelayan.” Sa’id pun berkata kepada istrinya, “Tidakkah kau ingin sesuatu yang lebih baik dari itu?” “Apa itu?” Tanya sang istri. “Kita serahkan uang itu kepada Dzat yang akan membawanya untuk kita pada waktu kita sangat membutuhkannya.” Jawab Sa’id. “Maksudnya?” Tanya sang istri lagi. “Kita simpan uang ini di sisi Allah Subhanahu wata’ala.” Jelas Sa’id. “Baiklah, terima kasih.” Sahut sang istri. Segera setelah pecakapan itu berakhir, Sang Gubernur membagi-bagi uang kiriman dari ‘Umar itu dalam kantung-kantung kecil, kemudian ia memerintahkan kepada salah seorang anggota keluarganya untuk membagikannya kepada para janda, anak yatim, fakir dan miskin.

Hikmah dan Pelajaran

Kisah ini adalah kisah nyata, bukan kisah fiktif atau khayalan. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini, diantaranya adalah bahwasanya dahulu kala, kaum muslimin pernah mempunyai para pemimpin yang hebat, dan di balik kehebatan mereka, ada peran sosok istri yang sabar, penurut, dan qana’ah.

Dalam kisah ini, kita bisa melihat bagaimana adilnya ‘Umar bin Al-Khaththab sang Amirul Mukminin. Ia tak menghakimi kecuali setelah mendengar keterangan dari dua belah pihak.

Kita juga bisa melihat bahwasannya Sa’id bin ‘Amir sang Gubernur adalah sosok yang zuhud, kaya hati, dan qana’ah, merasa cukup dengan apa yang ia punya meski di mata orang ia dipandang sebagai gubernur miskin. Ia melihat orang lain lebih butuh bantuan darinya meski di mata orang lain ialah yang lebih butuh bantuan.

Dari kisah ini kita juga juga bisa melihat bagaimana merakyatnya Sang Khalifah dan Sang Gubernur. Kita lihat bagaimana Sang Khalifah ‘Umar bin Al-Khathab mengunjungi kota Syam dan mendengar langsung keluhan rakyatnya. Kita juga melihat bagaimana Sang Gubernur Sa’id bin ‘Amir keluar setiap hari menjumpai warganya kecuali satu hari dalam sebulan.

Dalam kisah ini, kita juga menyaksikan bahwa menjadi seorang gubernur tak membuat Sa’id jauh dari Allah. Ia jadikan siangnya untuk rakyatnya, dan malamnya untuk berkhalwat dengan Penciptanya.

Kisah ini hanyalah sekelumit gambaran masa kejayaan Islam, suatu masa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentangnya:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ … » [متفق عليه]

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, lalu generasi selanjutnya, lalu generasi selanjutnya…” (muttafaq ‘alaih)

Kisah ini juga merupakan gambaran kehidupan orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ۝

Orang-orang yang bersegera dan pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridlo terhadap mereka, dan mereka ridlo terhadap Allah. Dan (Allah) sediakan untuk mereka surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kelal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (Q.S. At-Taubah 9: 100)

Semoga kita diberi taufiq oleh Allah untuk meneladari mereka dengan baik, dan semoga Allah mengaruniakan kembali kepada kaum muslimin para pemimpin seperti mereka.  Aamiin.

 

Ditulis Oleh:
Ustadz Rusli Evendi,
Staff Pengajar Ponpes Madinatul Quran Jonggol

Sumber:
Shuwar min Hayah Ash-Shohabah karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya, Penerbit: Dar Al-Adab Al-Islamiy, Cet. 9, tahun 2010.