Kisah Inspiratif dari Seorang Kakek Tua yang Pincang

Kisah Inspiratif dari Seorang Kakek Tua yang Pincang

Kisah Inspiratif dari Seorang Kakek Tua yang Pincang

Tokoh utama kisah kita kali ini adalah seorang kakek tua yang pincang yang merupakan salah satu orang terpandang di Madinah, bernama ‘Amr bin Al-Jamuh radliyallahu ‘anhu.

Sebagaimana kebiasaan para pembesar di zaman Jahiliyyah, sang kakek, ‘Amr bin Al-Jamuh memiliki sebuah berhala yang berupa patung yang terbuat dari kayu yang ia namai “Manat”. Ia sangat mengagungkan berhalanya itu. Ia senantiasa membersihkannya, mewangi-wangikannya, bertabarruk kepadanya, menyembelih untuknya, dan mengadukan segala keluh kesahnya.

Hingga suatu saat, terbitlah cahaya Islam yang dibawa oleh utusan pertama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Mush’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhu menerangi kota Madinah. Di tangan Mush’ab, istri dan tiga orang putera sang kakek masuk Islam tanpa sepengetahuannya.

Hari berganti, dan dakwah Islam pun semakin terang merasuki rumah-rumah penduduk kota Madinah hingga tak ada lagi seorang pembesar di kota itu yang belum masuk Islam, kecuali sang kakek, ‘Amr bin al-Jamuh. Mengetahui  hal itu, sang kakek pun mulai mengkhawatirkan ketiga puteranya dari pengaruh sang da’i Islam, Mush’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhu. Hingga suatu saat, terjadilah percakapan antara sang kakek dengan istrinya. “Wahai istriku, berhati-hatilah dengan orang itu (Mush’ab bin ‘Umair). Jangan sampai putera-putera kita berjumpa dengannya.”

“Baik, wahai suamiku. Akan tetapi, maukah kau mendengar puteramu membacakan apa yang ia dapat dari orang itu ?” Jawab Istrinya.

“Celakalah kamu !!! Apakah putera kita telah murtad dari agama kita tanpa sepengetahuanku ? ” Hardik sang kakek.

“Tidak, suamiku. Akan tetapi, ia pernah hadir dalam majlis orang itu dan ia hafal beberapa yang disampaikannya.”

Sang kakek pun berkata, “Panggil dia !”

Ketika puteranya telah hadir, sang kakekpun menyuruhnya untuk membacakan apa yang ia dengar dari Mush’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhu.

Dibacalah surat Al-Fatihah oleh puteranya:

بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله رب العالمين . الرحمن الرحيم . ملك يوم الدين . إياك نعبد وإياك نستعين . اهدنا الصراط المستقيم . صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين .

Mendengarkan puteranya membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, sang Kakek pun tertegun, “Sungguh baik dan bagus perkataan ini. Apakah setiap ucapannya seperti ini ?”

Sang Anak pun menjawab, “Bahkan lebih dari ini. Tidakkah Ayah membai’atnya? Karena kaummu semua telah membai’atnya.”

‘Amr terdiam, lalu ia berkata, “Aku tak akan melakukannya sebelum aku mendengar pendapat Manat, berhalaku.”

Puteranya pun menimpali, “Perkataan apa yang kau harapkan dari Manat, patung yang tuli dan bisu ?”

Sang Kakek menegaskan, “Aku tak akan memutuskan suatu perkarapun tanpanya.”

Bergegaslah ‘Amr menuju berhalanya Manat, untuk melakukan ritual. Ia perintahkan seorang nenek berdiri di belakang berhalanya. Apapun yang dikatatakan si nenek, ia percayai sebagai wangsit dari berhala itu.

Sang kakek pun memulai ritualnya. Ia puji berhalanya dengan puji-pujian, lalu ia mulai menyampaikan aduannya.

“Wahai Manat, tentu Engkau tahu bahwa utusan yang datang dari Mekah itu tidak menginginkan apapun kecuali keburukan bagimu. Ia melarang kami menyembahmu. Aku pun tak ingin membai’atnya walaupun ucapan-ucapannya yang aku dengar sungguh sangat mempesona. Aku mohon petunjukmu.”

Selang beberapa lama, tak ada jawaban yang terdengar. Sang kakek pun lantas menimpali, “Mungkin kau marah, tapi tak mengapa. Ku tunggu jawabanmu beberapa hari lagi sampai kau tak marah lagi.”

Cerdiknya Putra ‘Amr bin Al-Jamuh

Putera-putera ‘Amr sudah mulai tak sabar ingin ayah mereka segera masuk Islam. Mereka tahu bahwa keimanan ayah mereka terhadap berhalanya sudah mulai goyah. Mereka memikirkan cara untuk mencabut keyakinan ayah mereka terhadap berhalanya sampai ke akar-akarnya. Hingga suatu malam, mereka sepakat untuk mencuri berhala ayah mereka, lalu mereka buang ke dalam sebuah comberan tanpa diketahui seorang pun.

Pada pagi harinya, Sang kakek terkaget setengah mati.

“Siapa yang mencuri tuhanku ?!” Celaka kalian !! Siapa yang mencuri tuhanku ?!”

Putera-puteranya hanya terdiam, tak seorang pun menjawab.

Sang kakek pun bergegas mencari berhalanya sambil marah-marah, hingga akhirnya ia temukan berhalanya di sebuah comberan. Segera ia pungut berhalanya itu, ia bersihkan, ia olesi dengan wewangian, lalu ia kembalikan ke tempat semula seraya berkata, “Kalau aku tahu siapa yang melakukan ini, akan aku cincang dia.”

Pada malam hari, putera-putera sang kakek kembali melancarkan aksi mereka. Mereka curi berhala ayah mereka, lalu mereka buang dalam comberan.

Pagi harinya, sang kakek kembali marah marah, dan seisi rumah pun hanya terdiam.’Amr pun segera mencari berhalanya. Kembali ia temukan berhalanya di comberan yang sama. Ia pungut berhalanya itu, ia bersihkan, ia olesi dengan wewangian, lalu ia kembalikan ke tempat semula.

Putera-putera sang kakek tak juga jera, mereka kembali mengulangi aksi mereka setiap hari hingga sang kakek merasa lelah. Lantas, ia pun berkata kepada berhalanya, “Wahai Manat, sungguh aku tak tahu siapa yang melakukan ini. Ambillah pedangku ini untuk membela dirimu sendiri.” ‘Amr pun mengalungkan pedangnya di leher berhalanya lalu ia beranjak tidur.

Mengetahui ayah mereka telah terlelap, putera-putera ‘Amr pun kembali melancarkan aksi mereka. Bahkan, kali ini lebih parah. Mereka ambil pedang ayah mereka yang dikalungkan di leher Manat, lalu menggatinya dengan bangkai anjing, dan membuangnya pada suatu comberan.

Pagi harinya, ketika ‘Amr terbangun, ia bergegas mencari berhalanya yang hilang. Ia temukan berhalanya terikat dengan bangkai anjing di sebuah comberan, sedangkan pedangnya dicuri. Kali ini, sang Kakek tak memungut berhalanya. Ia pun berkata, “Jika kau memang tuhan, tak akan terikat bersama bangkai anjing di sebuah comberan.”

‘Amr bin Al-Jamuh pun masuk Islam. Ia menyesali masa lalunya yang panjang yang ia habiskan dalam kesyirikan. Ia pun mengabdikan jiwa, raga, harta, dan anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Teladan ‘Amr bin Al Jamuh dan putranya dalam Berjihad

Tak berapa lama, menjelang perang Uhud berkecamuk, ia melihat tiga puteranya bersiap-siap berperang menghadapi musuh Allah. Sang kakek pun bertekad untuk ikut berjihad bersama putera-puteranya.

Akan tetapi, putera-putera sang kakek melarangnya ikut berperang karena ayah mereka adalah seorang kakek tua yang pincang, termasuk diantara golongan yang mendapat uzur dari Allah untuk tidak ikut perang.

Marahlah ‘Amr bin Al-Jamuh. Ia segera menuju kediaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan perkaranya kepada beliau.

“Wahai Nabi Allah, putera-puteraku ingin menghalangiku dari kebaikan karena aku pincang. Demi Allah, aku ingin injakkan kaki pincangku ini di surga. ”

Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada petera-putera sang kakek, “Biarkanlah ia (pergi berperang), semoga Allah menganugerahinya mati syahid. ”

Ketika Pasukan siap berangkat, ‘Amr berpamitan dengan istrinya seolah tak kan kembali, lalu ia menghadap kiblat, ia angkat pedangnya seraya berkata, “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku mati syahid.”

Perang pun berkecamuk, dan strategi pasukan Muslimin pun gagal. Pasukan Muslimin terkepung mundur. Namun, Sang kakek, ‘Amr bin Al-Jamuh beserta salah seorang anaknya tetap setia melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari gempuran musuh hingga akhirnya keduanya pun terbunuh, mati syahid.  Semoga Allah meridloi ‘Amr bin Al-Jamuh dan ketiga puteranya.

 

Hikmah Kisah

‘Amr bin Al-Jamuh radliyallahu ‘anhu telah mengajarkan kepada kita bahwasannya usia dan keterbatasan fisik bukanlah halangan dalam meraih cita-cita. Ia berhasil mewujudkan cita-citanya, mati di medan perang sebagai seorang prajurit, dalam rangka membela agama Allah.

Putera-puteranya telah mengajarkan kepada kita bahwa kontinuitas dan cara yang cerdik merupakan hal yang penting dalam menyampaikan dakwah. Mereka tak banyak mendebat ayah mereka dalam usaha menuntun ayah mereka menuju Islam. Mereka menggunakan cara yang cerdik dan berkesinambungan dalam mendakwahi ayah mereka hingga Allah pun memberikan hidayah-Nya kepada ayah mereka.

‘Amr bin Al-Jamuh dan puteranya telah mengajarkan kepada kita tentang arti iman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sampai ia mencintaiku melebihi cintaya kepada anaknya, orang-tuanya, dan manusia seluruhnya.”

Mereka lindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pedang mereka, dengan raga mereka, dan dengan jiwa mereka.

 

Penulis :
Ustadz Rusli Evendi
Staff Pengajar Pondok Pesantren Madinatul Quran Jonggol, Bogor.

Sumber :
Kitab Shuwar min Hayah Ash-Shohabah karya DR. ‘Abdurrahman Ra’fat Al-Basya.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS