page hit counter

Kisah Batu yang Membawa Lari Baju Nabi Musa

Kisah Batu yang Membawa Lari Baju Nabi Musa

Kisah Batu yang Membawa Lari Baju Nabi Musa

Nabi Musa ‘alaihis salam adalah orang yang pemalu. Oleh karena sifat malu tersebut, beliau menutup seluruh bagian tubuhnya dan tidak menampakkannya sejengkal kulitpun kepada orang lain.

Suatu ketika, salah seorang dari kaum Bani Israil menyebar gosip bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam menutup auratnya sedemikian rapat semata-mata untuk menutupi aib atau penyakit kulit yang ada di tubuh beliau. Gosip itu pun menyebar begitu cepatnya hingga sampai ke telinga beliau ‘alaihis salam, dan menyakiti hati beliau.

Allah ingin membebaskan Nabi-Nya dari gosip yang beredar dan terjadilah kisah ini, kisah batu yang membawa lari baju Nabi Musa ‘alaihis salam.

Kronologis kisahnya

Kala itu, Nabi Musa ‘alaihis salam berniat untuk mandi. Dicarilah oleh beliau tempat yang jauh dari pandangan orang. Sesampainya di tempat yang dituju, beliau pun lekas menaggalkan seluruh pakaian beliau dan meletakkannya di atas sebongkah batu. Seusai mandi, beliaupun segera bergegas menuju batu tempat beliau meletakkan pakaian. Namun, apa yang terjadi? Batu itu malah kabur membawa lari baju beliau. Nabi Musa pun segera mengambil tongkat beliau dan mengejar batu tersebut dalam keadaan telanjang bulat.

Batu itu terus berlari menjauhi Nabi Musa ‘alaihis salam hingga sampai pada suatu tempat berkumpulnya bani Israil. Merekapun melihat beliau ‘alaihis salam dalam keadaan telanjang bulat sedang berlari membawa tongkat. Dilihatlah oleh mereka tubuh Nabi Musa yang begitu sempurna, tanpa aib tanpa cacat. Batu itu pun berhenti dan Nabi Musa pun memakai pakaian beliau, lalu beliau pukul batu itu dengan tongkatnya. Pukulan itu pun berbekas pada batu tersebut padahal tongkat Musa adalah kayu.

Kisah ini pun Allah abadikan dalam Al-Quran. Allah berfirman :

 يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا

“Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mengolok-olok (menyakiti) Musa lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan.” (QS. Al-Ahzab ayat 69)

Al-Imam Al-Bukhari juga menuliskan kisah ini dalam kitab beliau :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  إِنَّ مُوسَى كَانَ رَجُلًا حَيِيًّا سِتِّيرًا لَا يُرَى مِنْ جِلْدِهِ شَيْءٌ اسْتِحْيَاءً مِنْهُ فَآذَاهُ مَنْ آذَاهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ ، فَقَالُوا : مَا يَسْتَتِرُ هَذَا التَّسَتُّرَ إِلَّا مِنْ عَيْبٍ بِجِلْدِهِ إِمَّا بَرَصٌ وَإِمَّا أُدْرَةٌ وَإِمَّا آفَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ أَرَادَ أَنْ يُبَرِّئَهُ مِمَّا ، قَالُوا لِمُوسَى : فَخَلَا يَوْمًا وَحْدَهُ فَوَضَعَ ثِيَابَهُ عَلَى الْحَجَرِ ثُمَّ اغْتَسَلَ فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ إِلَى ثِيَابِهِ لِيَأْخُذَهَا وَإِنَّ الْحَجَرَ عَدَا بِثَوْبِهِ فَأَخَذَ مُوسَى عَصَاهُ وَطَلَبَ الْحَجَرَ فَجَعَلَ ، يَقُولُ : ثَوْبِي حَجَرُ ثَوْبِي حَجَرُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَرَأَوْهُ عُرْيَانًا أَحْسَنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ وَأَبْرَأَهُ مِمَّا ، يَقُولُونَ : وَقَامَ الْحَجَرُ فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَلَبِسَهُ وَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا بِعَصَاهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ بِالْحَجَرِ لَنَدَبًا مِنْ أَثَرِ ضَرْبِهِ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا أَوْ خَمْسًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ : يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا 

Dari Abu Hurairah  berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Nabi Musa adalah seorang pemuda yang sangat pemalu dan senantiasa badannya tertutup sehingga tidak ada satu pun dari bagian badannya yang terbuka karena sangat pemalunya. Pada suatu hari ada orang-orang dari Bani Isra’il yang mengolok-oloknya. Mereka berkata; “Sesungguhnya tidaklah dia ini menutupi tubuhnya melainkan karena kulit tubuhnya sangat jelek, bisa jadi karena menderita sakit kusta, bisul atau penyakit-penyakit lainnya”. Sungguh Allah ingin membebaskan Nabi Musa dari apa yang mereka katakan terhadap Musa, sehingga pada suatu hari dia mandi sendirian dengan talanjang dan meletakkan pakaiannya di atas batu. Maka mandilah dia dan ketika telah selesai dia beranjak untuk mengambil pakaiannya namun batu itu telah melarikan pakaiannya. Maka Musa mengambil tongkatnya dan mengejar batu tersebut sambil memanggil-manggil; “Pakaianku, wahai batu. Pakaianku, wahai batu”. Hingga akhirnya dia sampai ke tempat kerumunan para pembesar Bani Isra’il dan mereka melihat Musa dalam keadaan telanjang yang merupakan sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dengan kejadian itu Allah membebaskan Musa dari apa yang mereka katakan selama ini. Akhirnya batu itu berhenti lalu Musa mengambil pakaiannya dan memakainya. Kemudian Musa memukuli batu tersebut dengan tongkatnya. Sungguh demi Allah, batu tersebut masih tampak bekas pukulan Musa, tiga, empat atau lima pukulan. Inilah di antara kisah Nabi Musa seperti difirmankan Allah Ta’ala: (“Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mengolok-olok (menyakiti) Musa lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan”. (HR. Al-Bukhari no. 3404)

Pelajaran dari kisah

Demikianlah kisah batu yang membawa lari baju Nabi Musa ‘alaihis salam. Banyak pelajaran yang bisa kita petik darinya, diantaranya:

Sifat malu merupakan sifat yang mulia, bahkan termasuk salah satu cabang keimanan.

Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah dalam hadits-hadits beliau, diantaranya :

عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الحياء لا يأتي إلا بخير [متفق عليه]، وفي رواية لمسلم : الحياء كله خير

 “Dari ‘Imran bin Hushain radliyallahu’anhuma, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Malu tidak akan datang kecuali dengan (membawa) kebaikan.” (muttafaq ‘alaih), dan di riwayat Muslim : “Malu itu seluruhnya baik.”

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الحياء شعبة من الإيمان

Dan dari Abu Hurairah radliyallaahu’anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Malu itu salah satu cabang dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)

Malu merupakan sifat para rasul. Bahkan, sifat malu yang dimiliki Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melebihi sifat malu yang dianugerahkan kepada kaum Hawa. Hal ini sebagaimana kesaksian salah seorang sahabat beliau.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : كان رسول الله أشد حياء من العذراء في خدرها، فإذا رأى شيئا يكرهه عرفناه من وجهه

Dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu lebih pemalu daripada seorang gadis dlm pingitannya. Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami mengetahuinya dari wajah  beliau.” (Muttafaq ‘alaih)

Gosip dan fitnah merupakan cobaan yang bisa menimpa setiap orang, tak terkecuali para Nabi dan Rasul.

Kunci sukses menghadapi cobaan tersebut adalah : 

Pertama : sabar, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu hadits beliau :

عن عَبْدَ اللَّهِ بن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَسَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْمًا، فَقَالَ رَجُلٌ : إِنَّ هَذِهِ لَقِسْمَةٌ مَا أُرِيدَ بِهَا وَجْهُ اللَّهِ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ، فَغَضِبَ حَتَّى رَأَيْتُ الغَضَبَ فِي وَجْهِهِ، ثُمَّ قَالَ : «يَرْحَمُ اللَّهَ مُوسَى، قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membagi pembagian (ghanimah) lalu ada seseorang berkata: “Sungguh pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mengharap wajah Allah (keridlaan-Nya)”. Lantas, aku pun (‘Abdullah) mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan apa yang dikatakan laki-laki itu, maka Beliau marah hingga aku lihat tampak kemarahan pada wajah Beliau. Beliau lalu bersabda: “Semoga Allah merahmati Musa, karena dia pernah disakiti lebih banyak dari ini dan dia tetap shabar.” (H.R. Al-Bukhori)

Kedua : yakin bahwa Allah akan senantiasa membela orang-orang yang beriman. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (Q.S. Al-Hajj : 38)

Allahu a’lam bish showab. 

Sumber :

  1. Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, Isma’il bin Katsir, Penerbit : Maktabah Dar Al-Fiha, Cet. 2, tahun 1998.
  2. Riyadh Ash-Sholihin, Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawi, Penerbit : Maktabah Dar Al-Fiha, Cet. 13, tahun 1991.
  3. Qishosh Ar-Rasul, Mahmud Al-Mishri,

Ditulis Oleh:
Ustadz Rusli Evendi, حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Rusli Evendi
Beliau adalah Staff Pengajar di Pondok Pesantren Madinatul Quran Jonggol
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rusli Evendi  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS