Khutbah Jumat Pendidikan Anak Usia Dini bimbingan islam
Khutbah Jumat Pendidikan Anak Usia Dini bimbingan islam

Khutbah Jumat

Pendidikan Anak Usia Dini

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

فإن أصـدق الحديث كتاب الله عز وجل، وخيرَ الهدي هديُ محمدٍ صلى الله عليه وسل، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثةٍ بدعةٌ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ، وكلَّ ضلالةٍ في النارِ، أما بعد

Ma’asyirol mukminin wa zumrotal mukminin ahabbakumulloh, para jama’ah sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.. Memberikan perhatian pada Pendidikan sama halnya dengan memberikan perhatian pada Masa depan. Terlebih jika perhatian terhadap Pendidikan itu telah dilakukan sejak usia dini.

Bagi sebagian orang pendidikan dijadikan tolok ukur kebaikan dan keberhasilan, sehingga jika ada orang yang mendapat gelar doktor atau professor dianggaplah orang tersebut baik, berhasil dan layak jadi panutan. Faktanya, sekarang banyak guru besar yang sering ditunjuk jadi khotib jumat, tapi baca Qurannya terbata-bata. Jika dengan firman Alloh saja tidak bisa berinteraksi mesra, tidak terlatih membacanya, bagaimana mungkin dicap sebagai panutan bagi generasi muda?

Lalu apa yang pertama kali harus dipahami orangtua dalam mengupayakan kebaikan dan keberhasilan bagi anaknya? Meminta kepada Alloh hidayah.

Wahai para orangtua, ketahuilah dan yakinilah bahwa yang dapat memberikan hidayah adalah Alloh Ta’ala. Apapun yang anda lakukan demi kebaikan anak sejatinya hanyalah sebuah ‘sebab’ agar anak mendapatkan hidayah, bukan sebuah ‘kepastian’. Anda hanya menunaikan kewajiban yang telah Alloh bebankan pada orangtua kepada anak-anak. Dan di balik semua itu, maka urusannya kembali kepada Alloh. Karena hanya Alloh-lah yang dapat memberikan petunjuk kepada siapapun yang Dia Kehendaki, dan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki. Alloh berfirman,

فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۖ

“Sesungguhnya Alloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”
(QS Faathiir 8)

مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan Alloh, maka merekalah orang-orang yang rugi”
(QS Al-A’raaf 178)

وَلَوۡ شِئۡنَا لَأٓتَيۡنَا كُلَّ نَفۡسٍ هُدَىٰهَا

“Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya”
(QS As-Sajdah 13)

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَأٓمَنَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ كُلُّهُمۡ جَمِيعًاۚ

“Dan jika Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya”
(QS Yunus 99)

Bahkan para nabi pun tidak memiliki hak untuk memberikan hidayah, contohnya ketika Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam membujuk pamannya Abu Thalib untuk mengucapkan “Laa ilaaha illallaah” namun sang paman menolak, maka saat itu Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”
(QS Al-Qashash 56)

Juga kisah Nabiyullah Nuh ‘Alaihissalam yang senantiasa mengajak anaknya untuk ikut bersamanya:

Baca:  Mulailah dengan Tauhid (Bagian ke-2)

يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَٰفِرِينَ

“Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama dengan orang-orang yang kafir’”
(QS Hud 42)

Akan tetapi Alloh Subhaanahu wa Ta’aala sama sekali tidak berkehendak untuk memberikan petunjuk (hidayah) kepada anak Nabi Nuh ‘Alaihissalam, lalu anak tersebut berkata

قَالَ سَ‍َٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ

“Anaknya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah…’”
(QS Hud 43)

Lalu sang ayah berkata:

لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا ٱلۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ

“Nuh berkata, ‘Tidak ada yang dapat melindungi dari siksa Alloh pada hari itu, selain Alloh yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”
(QS Hud 43)

Pada saat itu nampaklah rasa kasih sayang Nabi Nuh ‘Alaihissalam kepada anaknya. Beliau mengadu kepada Rabbnya:

رَبِّ إِنَّ ٱبۡنِي مِنۡ أَهۡلِي وَإِنَّ وَعۡدَكَ ٱلۡحَقُّ وَأَنتَ أَحۡكَمُ ٱلۡحَٰكِمِينَ

“Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janjiMu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil”
(QS Hud 45)

Lalu Alloh memberikan peringatan atas perbuatan beliau dalam firman-Nya:

يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيۡسَ مِنۡ أَهۡلِكَۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيۡرُ صَٰلِحٖۖ فَلَا تَسۡ‍َٔلۡنِ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۖ إِنِّيٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), perbuatannya sungguh tidak baik. Sebab itu jangan engkau memohon kepadaku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikat)nya. Aku menasehatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh”
(QS Hud 46)

Akhirnya Nabi Nuh ‘Alaihissalam pun memohon maaf kepada Alloh atas apa yang telah ia lakukan, dengan ungkapannya:

رَبِّ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِكَ أَنۡ أَسۡ‍َٔلَكَ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞۖ وَإِلَّا تَغۡفِرۡ لِي وَتَرۡحَمۡنِيٓ أَكُن مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikat)nya. Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi”
(QS Hud 47)

Oleh karena itu Wahai para Orangtua! Sungguh apapun yang anda Anda lakukan sama sekali tidak akan dapat memberikan hidayah kepada anak-anak Anda. Sama saja, walaupun seorang Nabi atau Rasul, walaupun seorang Raja atau seorang pemimpin yang besar. Yang Anda lakukan hanyalah mengambil sebab, sebuah jalan yang ditempuh, dan sebuah usaha yang dilakukan.

Dan tidak usah jauh-jauh, Nabi kita semua, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, pemimpin manusia, beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, ditinggal bapak ibu sejak kecil dan tumbuh di dalam keadaan fakir. Maka siapakah yang telah menjaga beliau? Siapakah yang telah menanamkan keimanan di dalam hati beliau? Siapakah yang telah mewahyukan Al-Quran ke dalam hati Beliau? Dia-lah Alloh Yang Maha Kuasa, Dia-lah yang telah melakukannya, maka milik-Nya lah segala nikmat, karunia dan segala pujian yang baik.

Karenanya ayyuhal ikhwah, hal pertama yang harus dilakukan orangtua dalam mengupayakan kebaikan dan keberhasilan bagi anaknya adalah doa. Alloh mengabadikan banyak doa dalam Al-Quran tentang anak turunan yang baik, diantaranya doa Nabi Zakaria ‘alaihissalaam

فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيّٗا

“Maka anugerahkanlah aku dari-Mu, seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’kub dan jadikanlah ia wahai Robb, seorang yang diridhai”
(QS Maryam 5-6)

رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

“Wahai Robbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a”
(QS Ali Imron 38)

Baca:  Pentingnya Mengenal Para Salaf

Nabi Ibrahim dan putranya Isma’il ‘alaihimassalam berdo’a:

رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةٗ مُّسۡلِمَةٗ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Wahai Robb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunuk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepadaMu”
(QS Al-Baqarah 128)

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Wahai Robbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk golongan orang-orang yang sholih”
(QS Ash-Shaaffat 100)

Setelah memahami bahwa doa adalah yang utama, apa saja bekal pendidikan awal yang harus diberikan orangtua kepada anaknya?

1. Kasih Sayang berupa Kebersamaan dan Canda Tawa

Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam adalah pribadi yang sangat perhatian kepada para sahabatnya, bahkan kepada istri beliau Aisyah rodhiallohu ‘anha yang kala itu masih kecil dan butuh waktu untuk bermain pun Beliau bisa memahami dengan baik.
Dalam sebuah Hadits, Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha menceritakan:

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي

“Aku pernah bermain dengan boneka-boneka kecil di dekat Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam dan aku memiliki beberapa teman yang bermain denganku. Jika beliau masuk, maka mereka bersembunyi, lalu beliau mengutus mereka kepadaku agar bermain denganku”
[HR Bukhori 5665]

Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan pada kita semua bagaimana dekat dan perhatian beliau kepada adik dari sahabatnya (Anas bin Malik), juga peliharaan miliknya.
Imam Bukhori menukilkan dari hadits Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُخَالِطُنَا حَتَّى يَقُولَ لِأَخٍ لِي صَغِيرٍ يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

“Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam sering bergaul dengan kami sampai-sampai beliau berkata kepada saudaraku yang masih kecil, ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan oleh an-nughair (burung kecil)?’”
[HR Bukhori 5664]

Tidak hanya sampai disitu, Nabi juga sosok ekpresif yang tidak jaim ketika bercanda dengan anak kecil, sahabat Mahmud bin Ar-Robi’ rodhiallohu ‘anhu menceritakan

عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ

“Yang aku ingat dari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam adalah semburan air dari mulutnya ke wajahku, yang beliau ambil dari sebuah ember, kala itu aku berumur lima tahun”
[HR Bukhori 75]

Al-Majju artinya adalah semburan air dari mulut, dan tidaklah dikatakan Al-Majju kecuali jika disemburkan dari jauh. Al-Hafidz Ibnu hajar menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan Mahmud termasuk dalam kategori bercanda, atau sesuatu yang dilakukan oleh beliau untuk memberikan keberkahan seperti yang dilakukan beliau kepada putera para sahabat yang lainnya.

2. Kasih Sayang berupa Ketegasan dan penanaman Tauhid

Selain dekat dan perhatian kepada keluarga maupun sahabat, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam juga dikenal sebagai pribadi yang tegas. DIsebutkan dalam hadits

وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرَقَتْ لَقَطَعَ مُحَمَّدٌ يَدَهَا

“Demi Alloh, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya Muhammad akan memotong tangannya”
[HR Bukhori 6290]

Bahkan hadits diatas juga memiliki sudut pandang lain, yakni ketika kaum Quraisy merasa gundah karena didapati ada seorang wanita Makhzumiyyah (wanita dari kalangan bangsawan atau suku yang terhormat) yang mencuri. Maka kaum Quraisy pun berunding tentang siapa yang berani membicarakan masalah ini kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, sekaligus memintakan ampun untuknya.
Tidak ada seorang pun kala itu yang berani melakukannya kecuali Usamah bin Zaid (salah seorang kesayangan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam). Dan ketika Usamah mengutarakannya, Beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam pun menolak syafa’at yang diajukan karena menyangkut masalah Hukum yang telah Alloh tetapkan.
Dalam hadits dijelaskan:

Baca:  Anak yang Meninggal Sebelum Usia 7 Hari, Apakah Harus Tetap Aqiqah dan Diberi Nama?

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا ضَلَّ مَنْ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ الضَّعِيفُ فِيهِمْ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ

Beliau berkata, ‘Apakah engkau meminta syafa’at dalam salah satu (hukum) haad dari huduud (hukuman-hukuman Alloh)?’ kemudian beliau berdiri untuk berkhutbah dan berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tersesat karena jika orang mulia diantara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Sedangkan jika orang lemah yang mencurinya, maka mereka menegakkan hukuman kepadanya”
[HR Bukhori 6290]

Inilah kasih sayang yang benar. Kasih sayang yang bukan hanya diikuti dengan kelembutan, tapi juga keadilan atau ketegasan.

Aqulu Qauli hadza wa astaghfirullaha li wa lakum min kulli dzanbin … fastaghfiruuhu Innahu Huwal Ghafurur Rahiim …

Khutbah Kedua

الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى وعلى آله وصحبه ومن سار على نهجه واقتفى . اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه، أما بعد

Ma’asyirol mukminin wa zumrotal mukminin ahabbakumulloh , saudara-saudaraku sekalian, sidang sholat jumat yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.. Kita lanjutkan poin tentang kesalahan-kesalahan di masa muda

Dan berkaitan dengan Pendidikan Tauhid, mari kita simak bagaimana pengajaran Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam kepada Abdulloh bin Abbas yang kala itu masih sangat junior

يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Alloh, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Alloh, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Alloh, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Alloh. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Alloh tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Alloh tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
[HR Tirmidzi di dalam kitab beliau Sunan At Trmidzi no. 2516]

Insya Alloh kedekatan dan ketegasan orangtua kepada anak, ketika diiringi canda tawa dan juga penanaman Tauhid akan membawa pengaruh yang sangat positif dalam diri sang anak. Seakan anak mendapat paket kasih sayang komplit dari orangtua yang akan melatih kekuatan mentalnya, karena kebutuhan fitrah anak seperti bermain, bercanda, tuntunan dan arahan telah terpenuhi dengan baik.

Semoga kita semua adalah hamba-hamba yang dimudahkan untuk mempersiapkan generasi masa depan yang lebih baik, dengan memberikan Pendidikan Anak Pada Usia Dini sesuai yang dicontohkan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam pada kita.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن