Khutbah jum’at Mensyukuri Nikmat Hidayah

Khutbah jum’at Mensyukuri Nikmat Hidayah

Khutbah jum’at

Mensyukuri Nikmat Hidayah

إنَّ الحمدُ للهِ، نَحْمَدُهُ، ونستعينُهُ، ونستغفِرُهُ، ونعوذُ باللهِ مِنْ شرورِ أنفسِنَا وسيئاتِ أعمالِنَا، مَنْ يهدِ اللهُ فلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شريكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبدُهُ ورسُولُهُ وَخَلِيلُهُ – صَلَّى اللهُ عليهِ وعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كثيرًا
 أمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوا اللهَ- عِبَادَ اللهِ- حقَّ التَّقْوَى؛ واعلَمُوا أنَّ أَجْسَادَكُمْ عَلَى النَّارِ لَا تَقْوَى. وَاِعْلَمُوا بِأَنَّ خَيْرَ الْهَدْيِّ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثُاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Kaum Mulismin yang semoga dicintai oleh Allah

Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memilih nabi Muhammad ﷻ sebagai utusan beliau, lalu Dia jadikan beliau sebagai kekasihNya dan sebagai penuntun umat manusia menuju kepada agama yang benar, maka orang yang bahagia adalah orang yang selalu berjalan sesuai dengan petunjuk beliau ﷺ, dan orang yang sengsara adalah orang menyelisihi beliau ﷺ.

Kaum Muslimin yang semoga dicintai oleh Allah

Ketahuilah bahwa hidayah adalah nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba, nikmat yang jauh lebih berharga daripada harta, kekuasaan, ataupun pangkat jabatan.
Dan telah menjadi keyakinan Ahlussunnah wal jama’ah bahwa hidayah adalah milik Allah semata, Allah ﷻ berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ – القصص : 56

“Sesungguhnya engkau (Rasulullah) tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang akan memberikan hidayah kepada orang yang Dia kehendaki.
Dan Dia maha mengetahui  siapa yang pantas mendapatkan hidayah.”

(QS. Al – Qashash : 56).

Hidayah bukanlah milik seorang nabipun, tidak pula dimiliki oleh para malaikat. Hidayah tidak bisa dibeli dengan harta maupun pangkat.
Jikalau hidayah itu dijual maka orang-orang akan menghabiskan milyaran untuk membelinya. Mengapa tidak?
Ketika seseorang mendapatkan hidayah, dia yakin akan janji Allah, dia juga akan mendapatkan keamanan pada hari dimana kita berkumpul di depan rabbul ‘alamin.
Dengan hidayah seseorang bisa masuk surga dan selamat dari api neraka. Hidayah adalah milik Allah semata, Dia berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki, Karena Allah mengerjakan apapun yang Dia kehendaki dan Dia berhak untuk memilih sesuai dengan ilmu dan hikmah Nya.

Ketahuilah, kaum mukminin….

Para nabi tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang mereka cintai, Namun Allah memilih dirimu untuk merasakan manisnya hidayah karena rahmat dan kebaikanNya ﷻ, bukan karena kepintaran dan kehebatanmu. Allah berfirman:

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ – الحجرات : 17

“Mereka merasa telah memberimu (rasulullah) kenikmatan dengan keislaman mereka.
Katakanlah: “Janganlah kalian merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislaman kalian, Akan tetapi, Allah lah yang sejatinya melimpahkan nikmat kepada kalian berupa hidayah keimanan, jika kalian adalah orang-orang yang benar”.
(QS. Al-hujuraat :17).

Maka jagalah hidayah itu duhai saudaraku dengan do’a dan keistiqamahan.

Kaum Muslimin yang semoga dicintai oleh Allah

Nabi Nuhalaihissalam tidak sanggup memberikan hidayah iman kepada anak beliau, sang buah hati, bahkan sampai detik – detik terakhir kebinasaan sebelum tenggelam, si anak tetap tidak mau menerima dakwah ayahnya.
Allah telah mengabadikan kisah tersebut dalam firmanNya:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ` قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِين`- هود 42-44

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung- gunung. Dan Nuh pun memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir”.

Dia (anaknya) pun menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.
Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, sehingga dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.

(QS. Hud : 42 – 44).

Dan hal itu membuat nabi Nuh ‘alaihissalam bersedih, melihat buah hatinya dibinasakan oleh Allah ﷻ, sehingga membuat beliau memohon kepada Allah, Allah berfirman:

وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ – هود : 45

Dan Nuh pun memohon kepada Rabbnya, sambil berkata: “Ya Rabbi, sesungguhnya anakku adalah keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Dan Engkau adalah hakim yang paling adil.”
(QS. Hud : 45).

Kemudian Allah pun menegur nabi Nuh ‘alaihissalam karena telah berdoa untuk orang yang kufur kepada Allah ﷻ, dan Nabi Nuh pun memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya. Allah berfirman:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ` قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ`- هود : 46 – 47

“Dia berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, dan perbuatan itu sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakekat)nya. Aku menasihatimu agar tidak termasuk orang yang bodoh.

Dia (Nuh) berkata, “Ya Rabb, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikat)nya. Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.”
(QS. Hud: 46 – 47).

Perhatikanlah kaum muslimin…

Nabi Nuh ‘alaihissalam yang merupakan rasul pertama tidak bisa mendatangkan hidayah untuk anaknya, buah hatinya, begitu juga beliau tidak bisa memberikan hidayah kepada istrinya tercinta sebagaimana nabi Luth. Allah berfirman:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَاِمْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ- التحريم : 10

“Allah menjadikan istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir, keduanya berada di bawah wilayah dua orang yang  shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke Neraka bersama orang-orang yang masuk (Neraka)”.
(QS. At – tahrim : 10).

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبً فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ 


Khutbah Kedua :

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ،وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى عِظَمِ نِعَمِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شريكَ لَهُ،تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشَهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدَهُ وَرَسُولُهُ،وَخَلِيلَهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ،وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ،وَسَلَّمَ تَسْلِيمَاً كَثِيرَاً
أمَّا بَعْدُ

فَاِتَّقُوا اللهَ – عِبَادَ اللهِ- حَقَّ التَّقْوَى،وَاِسْتَمْسِكُوا مِنَ الْإِسْلَامِ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى،وَاِعْلَمُوا أَنَّ أَجْسَادَكُمْ عَلَى النَّارِ لَا تَقْوَى 

Kaum Muslimin yang semoga dicintai oleh Allah

Begitu pula dengan kekasih Allah nabi Ibrahim ‘alaihissalam, beliau tidak sanggup memberikan hidayah kepada ayah beliau untuk beriman kepada Allah, padahal beliau sudah menggunakan perkataan yang paling lembut ketika mendakwahkan tauhid kepada Ayah beliau.

Allah mengisahkan hal tersebut dalam firmanNya:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئاً` يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطاً سَوِيّاً` يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيّاً` يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَن فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيّاً` – مريم :41- 45

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: “Duhai Ayahanda, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun?.
Duhai ayahanda, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

Duhai ayahanda, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Duhai ayahanda, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.
(QS. Maryam : 41 – 45).

Namun, apa jawaban ayah beliau?
Ternyata kelembutan dakwah anaknya tidak menghantarkan hidayah kepada dirinya. Ayah beliau menjawab:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْراهِيمُ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيّاً – مريم : 46

Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”
(QS. Maryam : 46).

Kaum muslimin ….

Bukankah kita telah mendengar bagaimana akhir kehidupan paman rasulullah ﷺ Abu Thalib?
Begitu gigihnya Rasulullah ﷺ mendakwahi beliau agar berada diatas tauhid, namun hidayah tak kunjung menyapa dirinya, Abu Thalib lebih memilih meninggal di atas agama kaumnya, karena takut celaan dari mereka.
Abu Thalib berkata:

وَدَعَوْتَنِي،وَعَرَفْتُ أَنَّكَ نَاصِحِي        وَلَقَدْ صَدَقْتَ،وَكُنْتَ ثَمَّ أَمِينَا
وَعَرَضْتَ دِيناً قَدْ عَرَفْتُ بِأَنَّهُ              مِنْ خَيْرِ أَدْيَانِ البَرِيَّةِ دِينًا
لَوْلَا المَلَامَةُ أَوْ حَذَارِ مَسَبَّةٍ               لَوْجَدَتَّنِي سَمِحًا بِذَاكَ مُبِينًا

Engkau selalu mengajakku, dan aku tahu engkau sedang menasihatiku
Engkau adalah orang jujur lagi terpercaya

Engkau selalu menawarkan sebuah agama dan aku tahu agama itu
Adalah sebaik – baik agama bagi manusia

Kalaulah bukan karena celaan atau menghindari cacian terhada dirikuEngkau akan melihatku dengan jelas menerimanya.

Oleh karenanya kaum muslimin, ketahuilah bahwa hidayah taufiq datangnya dari Allah, sedangkan para nabi, rasul, da’I hanya membawa petunjuk berupa penjelasan.
Dan hamba diberikan pilihan untuk mengikutinya atau tidak, dan pilihan tersebut akan dipertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah: dia bisa memilih untuk menjadi orang yang bahagia dengan ketakwaan yang akan membawanya ke surga, dan bisa juga memilih untuk menjadi orang sengsara yang berjalan ke neraka. Allah berfirman:

فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ

“maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”
(QS. Al-Kahfi: 29).

Istiqamahlah dalam mempertahankan hidayah wahai hamba-hamba Allah, dan selalu memohonlah kepada Allah agar Allah mengokohkan diri – diri kita, orang tua kita, anak-anak kita, saudara kita, dan semua orang yang kita sayangi untuk berada di atas agama Allah.
Sungguh Allah telah memberikan kepada kita sebuah kenikmatan -yang mungkin- tanpa kita bersusah payah mendapatkannya, tanpa mengeluarkan harta yang banyak untuk membelinya, yang mana nikmat ini dahulu tidak dirasakan oleh orang-orang yang dicintai oleh para nabi dan rasul, dan betapa banyak, orang diluar sana yang Allah berikan kenikmatan dunia tapi tidak Allah berikan nikmat hidayah.
Dan Allah memilih dirimu untuk merasakannya, maka genggam eratlah nikmat ini, jangan sampai dia lepas darimu, terlebih di zaman yang penuh fitnah ini. Rasulullah ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir.
Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia”
(HR. Muslim no. 118).

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات.

اللهم إنا نسألك التقى والهدى والعفاف والغنى

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكِ،الَّلهُمَّ اجْعَلْنَا مِمنْ خَافَكَ وَ اتَّقَاك 

Disarikan dari khutbah syaikh Sholih bin Muqbil Al-‘Ushoimy : link

 

Disusun oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS