Khutbah Hari Raya Idul Adha 1439H

Khutbah Hari Raya Idul Adha 1439H

Khutbah Hari Raya Idul Adha 1439H

Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada kita di atas keimanan serta memberikan nikmat kepada kita sehingga kita bisa mengerjakan ketaatan-ketaatan kepada Allah dengan sempurna. Dialah yang membulak-balik hati seorang hamba dan menentukan segala takdir bagi seorang hamba. Dialah yang menentukan syariat yang agung ini, yang menjadi panduan bagi seorang hamba untuk mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat. Maka sembahlah Allah semata dengan agama ini, dan jangan sampai kita menyekutukannya dalam segala bentuk ibadah dengan siapapun juga. Allah berfirman memerintahkan kita:

 وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. An-Nisaa: 36)

Shalawat dan salam semoga juga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Allah utus untuk membawa risalah agama yang sempurna ini. Tidak sekedar membawa agama ini, beliau juga sekaligus menjadi teladan bagi setiap muslim untuk beragama dengan benar. Ibadah beliau adalah ibadah terbaik seorang hamba, akhlak beliau adalah akhlak terbaik seorang hamba, muamalah beliau adalah muamalah terbaik seorang hamba, dan yang lebih penting bahwa akidah dan tauhid beliau akidah dan teuhid terbaik seorang hamba. Allah ta’ala berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, seruan tahlil, tahmid dan takbir di hari-hari ini senantiasa menggema di seluruh pelosok negeri, bahkan di seluruh dunia. Manusia menyebut-nyebut kebesaran Allah dan memujiNya dan memang seharusnya demikian. Semua itu karena perintah Allah dan atas segala petunjuk yang Allah berikan kepada manusia sehingga ia tidak tersesat.

لِتُكَبِّرُوا اللَّـهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ

Supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. (QS. Al-Hajj: 22)

Demikianlah, kalimat tauhid terus digemakan di hari-hari ini mengiringi ibadah-ibadah besar yang dilakukan kaum muslimin sehingga pengaruh ibadah-ibadah tersebut bisa lebih meresap ke dalam hati. Kita pun berharap semoga kalimat tersebut senantiasa tertancap pada hati-hati kita sehingga kita bisa menutup kehidupan kita dengan kalimat tauhid tersebut:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kalimat tauhid bukanlah kalimat tanpa makna. Bahkan ia adalah kalimat mulia yang bisa tumbuh pada hati seorang hamba dan menghasilkan pohon yang kokoh serta buah yang manis. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّـهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ﴿٢٤﴾ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّـهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴿٢٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim: 24-25)

Pohon terebut tentunya bisa kokoh dan menghasilkan buah-buah yang terbaik ketika pohon tersebut benar-benar dirawat dengan baik, disirami, dipupuk, diperhatikan sinarnya dan seterusnya. Demikian pula dengan pohon tauhid dan keimanan pada hati seorang hamba, akan jadi baik jika ia dirawat dengan sebaik-baiknya. Perawatan terbaik bagi pohon iman tersebut adalah dengan ilmu dan amal salih. Seorang hamba harus tahu betul tentang tauhid dan ibadah-ibadah penyokongnya, serta hal-hal yang bisa merusak dan menodainya kemudian mengamalkannya. Jika tidak, maka hancurlah pohon tersebut cepat atau lambat, dan rugilah pemiliknya di dunia dan akhirat. Allah berfirman

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr: 1-3)

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, ketahuilah bahwa tauhid itu bermakna kita hanya menyerahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah semata dan tidak kepada selainnya. Shalat kita, sembelihan kita, tawakkal kita, rasa harap kita, rasa takut kita, rasa cinta kita, zakat kita, haji kita, umroh kita, semuanya kita niatkan hanya untuk Allah semata. Itulah tauhid, Allah ta’ala berfirman

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dan dalam seluruh rangkaian ibadah di bulan-bulan haram, wabilkhusus di bulan Dzulhijjah ini kita akan dapati bahwa semua ibadah tersebut jika diselami maknanya mengerucut pada satu hal: agar manusia metauhidkan Allah dan tidak berbuat menyekutukannya dalam ibadah. Setiap ucapan zikir, amalan ibadah dan seluruh aktivitas ibadah di bulan ini, mencerminkan hal tersebut. Sedikit kita akan berikan beberapa gambarannya.

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, ibadah pertama bacaan-bacaan zikir yang dibaca di hari-hari ini, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, semuanya mengandung pengakuan tauhid dan keimanan kepada Allah. Lafal takbir Allahu akbar yang senantiasa dikumandangkan adalah pengakuan kebesaran Allah dari seluruh makhluknya dan kita adalah makhluknya yang kecil nan lemah. Lafal tahlil Laa ilaha illallah, jelas menunjukkan pengakuan kita bahwa tidak ada sesembahan yang layak kita sembah dan kita ibadahi kecuali Allah semata, sesembahan yang lain selain Allah adalah batil, tidak layak sama sekali disembah walaupun manusia menyembahnya. Lafal tahmid alhamdulillah adalah pujian bagi Allah sekaligus pengakuan bahwa segala nikmat yang kita dapatkan di dunia ini adalah dari-Nya semata, maka wajib kita bersyukur pada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan kita. Demikian pula lafal talbiyah yang dibaca oleh saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji, labbaika laa syarika laka labbaik, sebuah pengakuan bahwa tidak ada sekutu bagi Allah dalam peribadatan kita.

Kemudian kaum muslimin yang sedang berhaji dengan segala rangkaian ibadah di dalamnya, jelas menunjukkan bagaimana ibadah tersebut berusaha mengingatkan kita tentang keimanan. Mereka berihram dengan kain ihram yang sederhana tak boleh mengenakan pakaian berjahit dan semuanya sama. Ini menunjukkan bahwa semua makhluk pada hakikatnya sama di hadapan Allah ta’ala, tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat semuanya sama di hadapan Allah. Yang membedakan mereka adalah ketakwaan mereka kepada Allah. Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّـهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. (QS. Al-Hujurat: 13)

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, demikian pula ibadah thawaf dan sa’i yang dilakukan oleh jamaah haji. Dengan perintah Allah, mereka mengelilingi ka’bah 7 kali kemudian sa’i 7 kali di antara shafa dan marwah, dan mereka semua tunduk dengan perintah tersebut. Tidak ada yang memprotes, kenapa tidak 9 kali padahal saya kuat? Atau kenapa tidak 5 kali karena saya lemah? Semuanya menyesuaikan, yang kuat bisa menyimpan tenaganya untuk ibadah lain, yang lemah bisa menggunakan bantuan dengan kursi roda atau yang lainnya untuk menyempurnakan. Demikianlah semestinya sikap kita terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, sami’naa wa atho’naa, kami dengar dan kami tunduk. Allah berfirman,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّـهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴿٢٨٥

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. (QS. Al-Baqarah: 285)

Demikian pula puncak ibadah haji yang dilakukan oleh jamaah haji, wukuf di padang Arofah. Mereka semua dengan pakaian ihram yang sama, di tempat yang sama di padang Arafah berdoa memohon kepada Allah dengan segala permintaan mereka, langsung tanpa perantara. Ini mengajarkan kepada kita begitulah seharusnya setiap mukmin berdoa kepada Allah ta’ala, langsung saja. Tak perlu khawatir Anda banyak dosa karena Dia Maha Pengampun dan Penerima Taubat. Tak perlu khawatir suara Anda tak didengar atau Anda tak dilihat, karena dia Maha Melihat dan Mendengar seruan hamba-Nya. Tak perlu khawatir Allah bosan mendengarkan suara dan keluhan kita, karena Dia Maha Kaya dan tidak sama dengan makhluk-Nya yang bosan jika sesama makhluk sering mengeluh padanya. Bahkan Allah justru mengancam orang yang enggan berdoa meminta kepadaNya dengan berbagai alasan. Allah berfirman

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin: 60)

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, demikian pula jika kita melihat pada rangkaian ibadah yang dilakukan oleh mereka yang berada di negeri ini, semuanya mengajarkan kita tentang tauhid. Puasa Arofah yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum hari raya ini, menghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Maka dalam pelaksanaan puasa ini ada pelajaran bahwa yang berhak menghapus dosa hanya Allah ta’ala dan Allah menjadikan beberapa ibadah khusus seperti puasa Arofah punya fungsi yang spesial untuk menghapuskan dosa-dosa. Maka jika ingin dosa kita terhapus, mintalah ampunan kepada Allah bukan pada yang lainnya, dan kerjakanlah ibadah-ibadah yang Allah jadikan spesial menghapus dosa seperti puasa Arofah, puasa Asyuro dan lain sebagainya.

Kemudian dalam shalat idul qurban yang baru saja kita kerjakan pagi ini, terkandung pula pelajaran tauhid. Kaum muslimin berkumpul di tengah lapangan di seluruh pelosok negeri, mengerjakan shalat 2 rakaat yang agak berbeda kaifiyahnya dengan shalat biasa. Takbirnya lebih banyak, demikian pula ada khutbah yang sunnah didengarkan setelahnya. Dan umat Islam pun berbondong-bondong mengerjakannya dalam rangka menuruti perintah Allah ta’ala. Tak ada yang protes kenapa hanya 2 rakaat? Kenapa takbirnya banyak? Kenapa harus ada khutbahnya? Semuanya karena sami’naa wa atho’naa, Allah dan Rasul-Nya perintahkan begitu, maka kita pun taat dengan mengerjakan yang diperintahkan. Lagi-lagi ini semua tentang tauhid, ketundukan kita dalam beribadah kepada Allah sesuai dengan cara yang Allah inginkan. Maka tak boleh seseorang berkreasi dalam ibadah dan menganggap bahwa syariat yang Allah turunkan ini tidaklah tepat. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

عَنْ أُمِّ الـمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رواه البخاري ومسلـم

وفي رواية لـمسلـم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

 Dari Ummul Mukminin, Ummu ‘Abdillaah, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak.” (Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak.” (Hadits Arbain An-Nawawiyyah, no. 5)

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, Ibadah yang selanjutnya dikerjakan oleh kaum muslim di negeri ini setelah shalat ied adalah menyembelih hewan Qurban. Ibadah ini pun nyata-nyata mengajarkan tauhid kepada kita. Bahkan Allah ta’ala telah memerintahkan kepada setiap yang hendak berqurban untuk menjaga ketulusan niatnya karena Allah

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat dan berkorbanlah karena Tuhanmu. (QS. Al-Kautsar: 2)

Qurban mengajarkan kepada kita untuk beribadah kepada Allah semata dan mempersembahkan yang terbaik dalam ibadah tersebut. Dalam ilmu fikih ada syarat-syarat hewan qurban sehingga dia cukup syarat sehingga bisa dijadikan sembelihan di hari idul adha, juga tidak semua hewan bisa diqurbankan di hari-hari ini, hanya hewan tertentu saja. Demikian juga jika hewan tersebut memenuhi syarat bahkan sangat bagus, namun kalau niatnya tidak karena Allah, tidak akan diterima dan bahkan malah menjadi dosa yang besar yang bisa membawa dia celaka di dunia dan akhirat. Nabi mengancam orang yang menyembelih untuk selain Allah

لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

Allah melaknat orang yang mencela kedua orangtuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan, Allah melaknat orang yang merubah-ubah patok tanah. (HR. Muslim no. 1978)

Setelah hewan qurban disembelih maka ia pun siap dibagikan berupa sedekah kepada fakir miskin, hadiah kepada keluarga dan kerabat, demikian juga boleh dimakan oleh sahibul qurban. Momen-momen ini selain mengajarkan kita untuk berbagi kebahagiaan tanpa pamrih juga mengajarkan kita untuk yakin bahwa rezeki itu dari Allah semata dan kita mesti bersyukur atas rezeki yang Allah berikan tersebut. Bagi yang punya harta sehingga sanggup berqurban maka bersyukurlah dan luruskan niat, bagi yang tidak punya harta dan menerima daging qurban maka bersykurulah dan doakan kebaikan bagai para sahibul qurban dan yang membantunya. Semua bisa berperan dalam kebaikan, dan rezeki adalah ketentuan Allah ta’ala

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba: 36)

Maka, mintalah rezeki itu kepada Allah semata, jangan kita korbankan akidah kita demi kekayaan sementara di dunia dengan cara-cara haram apalagi sampai berbuat kesyirikan. Bukalah usaha bermodalkan tawakkal, jangan modal jimat. Bekerjalah dengan baik dan serahkan hasilnya pada Allah tak perlu injak bawah, sikut kiri-kanan ataupun jilat ke atas. Begitulah selayaknya seorang muslim dalam bekerja.

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…

Laa ilaha illallah… Allahu akbar… Walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, demikianlah beberapa rangkaian ibadah di bulan yang mulia ini dilakukan. Semuanya mengajarkan kita untuk bertauhid dan mengasah keimanan. Menjadikan kita orang-orang yang senantiasa bertawakkal, berdoa, bersyukur dan melakukan segala amal ibadah karena Allah ta’ala. Tauhid adalah inti ajaran agama kita yang apinya perlu senantiasa kita jaga berkobar di dalam dada kita.

Semoga Allah memberikan kepada kita taufik-Nya selalu untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya.

Billahi taufiq wal hidayah

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Amrullah Akadhinta, ST.
Beliau adalah Sekretaris jenderal KIPMI, direktur operasional BimbinganIslam (BiAS), direktur TwitUlama, dan aktif di yayasan dan lembaga lainnya.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS