hotIbadah

Khawatir Ujub Ketika Menjadi Imam, Ini Solusinya!

Khawatir Ujub Ketika Menjadi Imam, Ini Solusinya!

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan khawatir ujub ketika menjadi imam, ini solusinya! Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah. Assalamu’alaikum ustadz. Semoga Allah selalu merahmati ustadz dan tim BiAS.

Ustadz, jika seseorang dipilih sebagai imam kemudian dia menjadi imam dan di tengah-tengah dia merasa ujub dan dia berusaha menepisnya. Kemudian di waktu selanjutnya dia selalu berusaha menghindar agar tidak menjadi imam karena perasaan ujub yang pernah muncul.

Bagaimana hukumnya jika dia beralasan seperti itu ustadz sedangkan jika dilihat bacaannya dia lebih baik dari yang lain dan lebih benar bacaannya dari sebagian yang lain? Terima kasih. Jazaakallahu khair.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalamwarahmatullah wabarokatuh

Aamiin, juga semoga Allah berikan kepada Anda dan kita semua kebahagiaan di dalam menjalankan segala perintah perintahNya.

Sahabat BIAS yang berbahagia, tentunya di antara kenikmatan yang harus disyukuri ketika Allah berikan ilmu dan kemampuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain dengan Allah titipkan kemampuan di dalam membaca al-Quran.

Sehingga bila dirasa ia mampu dan ada nilai lebih dari bacaan orang yang ada di sekitarnya, maka hendaknya ia memberikan dan membantu kaum muslimin dengan menjadi imam di dalam menjalankan sholatnya, supaya keadaan sholat dari kaum muslimin menjadi lebih baik, benar dan khusyuk.

Baca Juga:  Cara Dan Bacaan Dzikir Setelah Shalat Fardhu

Bahkan hukumnya bisa menjadi wajib bagi orang tersebut bila memang selainnya dirasa tidak ada yang baik bacaan al-Qurannya, banyak kesalahan tajwid yang bisa mempengaruhi makna ayat yang dibaca, yang dimungkinkan dapat merusak sholat yang dilakukan.

Berkata Mujahid rahimaullah ta`ala dalam menafsirkan surat Ad-Dhuha ayat 11 dengan perintah Allah kepada nabi dan umatnya untuk menceritakan kenikmatan Allah ta`ala, beliau menjelaskan, “nikmat itu adalah al-Quran”.

Karena al-Quran adalah kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, sehingga menceritakannya adalah dengan cara membacanya dan membacakan untuk selainnya serta menjelaskan tentang hakikatnya.

Dari sisi lain, memang tidak salah dengan ketakutan yang dirasa bila dikhawatirkan fitnah riya akan melanda, karena seorang muslim memang diperintahkan untuk terus memperhatikan setiap amalan yang dilakukan dan memelihara ketakutan dari segala sebab hilang dan hancurnya amalan yang telah diusahakannya.

Dari kekhawatiran tersebut diharapkan akan dapat menghadirkan usaha optimal dan evaluasi dalam membaguskan niat dan amalannya. Sebagaimana firman Allah dalam menjelaskan sifat-sifat orang yang selalu menjaga amalannya dan takut jika tidak diterima,”

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (Surah Al-Mu’minun: 60)

Ummum Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu `anha mengatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ (وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) أَهُوَ الرَّجُلُ الَّذِى يَزْنِى وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ قَالَ : لاَ يَا بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ – أَوْ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ – وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ وَيُصَلِّى وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُتَقَبَّلَ مِنْهُ.

“Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut’, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khamr?”

Rasulullah lantas menjawab, “Wahai putri Ash-Shidiq! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang sholat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima.” (HR At-Turmidzi No 3175 dan Ibnu Majah No 4198)

Sehingga, dengan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan faidah, atau mengajarkan al-Quran dengan bacaan yang dilantunkan tidak terhenti dengan adanya kekhawatiran yang terjadi di dalam hatinya.

Dengan menggabungkan dua kondisi tersebut, harapannya bisa mendatangkan amalan dan pahala maksimal.

Namun, bila ada orang lain yang sepadan atau lebih baik bacaannya darinya maka boleh baginya untuk menghindar diri dari menjadi imam, dengan kekhawatiran yang telah disebutkan.

Sehingga akan menjadi lebih tenang, khusyu dalam sholat dan merasa lebih aman dari bahaya riya, yang setiap manusia tidak akan berdaya bila tidak mewaspadainya.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 7 Dzulqo’dah 1443 H/ 6 Juni 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button