Keutamaan Puasa Asyura

Keutamaan Puasa Asyura

Puasa Asyura adalah puasa yang dimaksud dengan Hari Asyura. Puasa Asyura adalah puasa yang paling utama setelah ramadhan. Ia adalah puasa sunnah yang dilakukan pada Hari Asyura atau hari kesepuluh dari bulan Muharram.

Selain anjuran untuk mengamalkan puasa Asyura pada bulan Muharram. Boleh juga memperbayak puasa dari tanggal 1 Muharram, atau boleh memperbanyak puasa pada hari apa pun di bulan tersebut. Dalilnya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).

Keutamaan Puasa Asyura

Dijelaskan dalam hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan dalam sabdanya:

وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

“Dan berpuasa pada hari Asyura itu, aku berharap kepada Allah agar bisa menghapus (dosa-dosa) setahun sebelumnya (yakni setahun yang lalu).”

Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadz:

يكفر الستة الماضية

“Akan menghapus (dosa-dosa/kesalahan) setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162/196)

Dari hadits diatas dapat kita ketahui bahwa keutamaan puasa 10 Muharram adalah menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Sungguh mulia sekali puasa pada 10 Muharram (hari Asyura). Namun sebaiknya disertakan puasa tanggal 9 Muharram (hari Tasu’a) agara lebih menambah nilai kemuliyaan puasa tersebut. Sebab diantara hikmah puasa tanggal 9 Muharram adalah untuk menyelisihi puasa Yahudi.

Jadi bagusnya puasa dua hari sekaligus yaitu 9 dan 10 Muharram, tahun ini bertepatan dengan 19 dan 20 September 2018.

Adapun tentang hukum puasa ini, dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah: “Para ulama telah sepakat, bahwa Puasa Asyura itu hukumnya adalah sunnah/tidak wajib.” (Syarh Shahih Muslim, 8/4)

Diantara Tingkatan Puasa Asyura

Disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyim dalam kitab Zadul Ma’ad (2/76) dan diikuti al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/246), bahwa pelaksanaan puasa asyura, ada 3 tingkatan,

Tingkatan pertama,

Melakukan puasa 3 hari, tanggal 9 (Tasu’a), tanggal 10 (Asyura), dan tanggal 11.

Dalil akan hal ini berdasarkab hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, secara marfu’

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً

“Lakukanlah puasa Asyura, dan jangan sama dengan yahudi. Karena itu, lakukanlah puasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” (HR. Ahmad 2191 dan Baihaqi dalam al-Kubro 8189).

Tingkatan kedua,

Berpuasa 2 hari, tanggal 9 dan 10 Muharram.

Dasarnya adalah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika Muharram tahun depan saya masih hidup, saya akan puasa tanggal 9.” (HR. Ahmad 1971, Muslim 2723 dan yang lainnya).

Tingkatan Ketiga,

Puasa tanggal 10 saja. Karena Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji khusus, yaitu kaffarah dosa setahun yang telah lewat.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, “Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim 1162).

Hukum Puasa Tanggal 11 Muharram

Beberapa ulama tidak sepakat dengan pembagian yang disebutkan Ibnul Qoyim dan Ibnu Hajar di atas. Untuk tingkatan kedua dan ketiga, mereka sepakat. Karena itu berdasarkan hadits shahih dan sesuai dengan yang diamalkan para sahabat.

Sementara untuk tingkatan pertama, puasa selama 3 hari, dimana ada anjuran khusus untuk puasa di tanggal 11 Muharram, ulama berbeda pendapat. Karena status hadits yang menganjurkan puasa 3 hari, diragukan keshahihannya.

Untuk hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di sanadnya terdapat perawi bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila. Sementara beliau dinilai dhaif para ulama. ad-Dzahabi mengatakan tentang perawi ini,

وليس حديثه بحجة

“Hadisnya bukan hujjah.”

Sementara itu, ulama yang mendukung pendapat dianjurkan puasa tanggal 11 Muharam, mereka berdalil dengan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa beliau melakukan puasa 3 hari ketika Muharram, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. (Tahdzib al-Atsar, Ibn Jarir)

Namun riwayat ini ternyata bertentangan dengan riwayat lain, dalam mushannaf Abdurrazaq dan yang lainnya. Dari Atha’ bin Abi Rabah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

صوموا التاسع والعاشر وخالفوا اليهود

“Lakukanlah puasa di tanggal 9 dan 10, jangan sama dengan orang yahudi.” (HR. Abdurrazaq dalam mushannaf 7839, at-Thahawi 2/78, dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Maka pendapat yang benar, tidak ada anjuran khusus untuk puasa tanggal 11 Muharram. Karena dalil yang menyebutkan hal ini statusnya lemah. Meskipun boleh saja orang melaksanakan puasa di tanggal 11 Muharram, tapi tidak diyakini ada anjuran khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga puasa yang ada kaitannya dengan puasa Asyura hanya ada 2 tingkatan,

Pertama, puasa dua hari, tanggal 9 dan 10 Muharram

Kedua, puasa sehari, tanggal 10 Muharam saja.

Ada permasalahan: Berdasarkan hadits diatas dosa-dosa manusia akan diampuni lalu pertanyaannya, apakah dosa-dosa yang akan dihapus terswbut termasuk semua jenis dosa (baik yang besar maupun yang kecil), ataupun hanya dosa-dosa yang kecil saja ?”

Benarkah bisa menghapus segala macam dosa selama setahun?

Kalau kita perhatikan dhohir hadits diatas, maka puasa Asyura itu dapat menghapus semua jenis dosa.

Namun menurut jumhur (mayoritas) ulama, fadhilah puasa Asyura ini hanya bisa menghapus dosa-dosa yang kecil saja, dan tidak menghapus dosa-dosa yang besar.

Lalu mengapa demikian? sebab, puasa Asyura itu tidak lebih utama daripada puasa Ramadhan, dan juga tidak lebih utama dari sholat-sholat yang lima waktu (sholat fardhu). Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنبت الكبائر

“Sholat-sholat yang lima waktu, dan jum’at yang satu ssmpai kepada jum’at yang berikutnya, serta dari Ramadhan yang satu sampai kepada Ramadhan yang berikutnya, akan menghapus (dosa-dosa kecil yang terjadi) diantara keduanya, selama dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Inti dari kajian kita adalah jika sholat-sholat yang lima waktu, sholat jum’at dan puasa Ramadhan yang hukumnya wajib saja, hanya akan bisa menghapus dosa-dosa kecil yang terjadi diantara keduanya, apalagi puasa Asyura atau puasa lainnya yang hukumnya sunnah, tentu hanya akan menghapus dosa-dosa yang kecil saja.

Adapun dosa-dosa besar, hanya bisa dihapus dengan bertaubat dengan sebenar-benarnya tobat dan memperbanyak istighfar (memohon ampunan) kepada Allah ta’ala. Tentu taubat yang dimaksud adalah taubat nasuha.

Demikian, semoga penjelasan ringkas ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Ruwaifi’ Saryanto, S.Pd.I. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Abu Ruwaifi Saryanto, S.Pd.I.
Da’i mukim Yayasan Tebar Da’i Mukim di Bandungan, Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib,
Mahasiswa Magister Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abu Ruwaifi 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS