Keluarga

Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain)

Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain)

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain). Selamat membaca

Pertanyaan:

Bismillah Ustadz izin bertanya, jika ada seorang anak perempuan kemudian qodarullah orang tuanya sudah tua dan sakit. Akhirnya segala kebutuhan dan pengobatan orang tuanya ini ditanggung si anak tersebut.

Sedangkan gaji yang diterimanya belum begitu besar, efeknya dia belum bisa bersedekah banyak ke luar seperti wakaf, anak yatim dll

Apakah si anak berdosa ustadz?
Bagaimanakah dengan kondisi yang demikian si anak bisa tetap beramal jariyah kebaikan untuk tabungan akhirat yang kekal??

Jazaakallahu khairan ustadz Semoga Allah jaga para asatidzah dan team ma’had bimbingan islam beserta keluarga semua.

Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS


Jawaban:

Semoga Allah menjadikan diri kita bagian dari anak yang shalih/shalihah untuk terus mengabdi dan berbakti kepadaNya.

Perlu diingat, bahwa amalan yang terbaik bagi seorang hamba adalah dengan menjalankan kewajiban yang ada di pundaknya, baru setelah itu kepada perintah perintah yang sunnah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506)

Sungguh perkara sangat mulia dan besar adalah ketika seorang anak bisa mengabdikan segala kehidupannya untuk orang tuanya, InsyaAllah surga akan menunggunya, bila keikhlasan senantiasa ia jaga.

Tidak akan ada hal yang sia sia dengan apa yang ia berikan. Bila ia tidak sanggup menjalankan perintah lain terlebih perkara sunnah lainnya seperti berinfaq kepada manusia, disebabkan semua harta yang kita punya tercurah hanya kepada orang tua untuk mencukupi kebutuhan orang tua dan keluarga, maka amalah kita, dengan berbakti kepada orang tua dan keluarga sudah sangat cukup menghantarkan kita semua kepada ridhaNya, InsyaAllah.

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

[TS_Poll id="2"]

Dengan demikian kebajikan yang kita lakukan, karena kemampuan kita yang terbatas, semestinya memang harus mendahulukan amal yang paling utama atau paling urgent untuk di dahulukan.

Baca Juga:  Apakah Keliru Istri yang Tidak Mau Bekerja? 

Tidak ada kewajiban untuk melakukan semua amalan bila tidak mempunyai kemampuan. Amalan yang harus di dahulukan di antaranya adalah perkara terkait birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Juga dengan pertimbangan bahwa ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua. Sehingga kita harus mengutamakan urusan keduanya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad dan yang lainnya dari sahabat Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ

“Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua”

[Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Di zaman nabi, kepada seseorang yang diwajibkan berjihad pun, Nabi perintahkan seorang sahabatnya untuk mengabdikan dirinya kepada orang tuanya, dibandingkan mendahulukan tuntutan berperang bersama nabinya,

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.” Beliau pun bersabda

فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.

“Maka pada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti).’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki menghampiri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berucap, ‘Aku berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan berjihad dengan mengharapkan pahala dari Allah.’

Beliau bertanya, ‘Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih, bahkan kedua-duanya.’ Maka beliau bersabda.

فَتَبْتَغِي اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Berarti engkau menginginkan pahala dari Allah?” Dia menjawab, ‘Ya.’ “ Beliau bersabda:

فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا.

“Kembalilah kepada kedua orang tuamu, lalu pergaulilah mereka dengan baik” [HR. Muslim]

Maka jangan bersedih tidak bisa menjalankan amalan yang belum bisa kita lakukan, tetaplah jaga niat baik untuk waktu dan keadaan yang semoga Allah berikan di dalam waktu kedepannya.

Lakukan sebaik baiknya kewajiban yang ada, InsyaAllah atas izinnya kebaikan lainnya dari perintah perintah Allah bisa kita jalankan di kemudian hari.

Bila tidak bisa, maka cukup Allah menjadi saksi dengan niat baik kita berkeinginan untuk bisa menjalankan amalan-amalan lain, hanya saja dengan kehendakNya kita belum mampu menjalankannya.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله

Jum’at, 30 Rabiul Akhir 1444H / 25 November 2022 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button