Ketidakjelasan (Gharar) dalam jual beli

Ketidakjelasan (Gharar) dalam jual beli

Ketidakjelasan (Gharar) dalam Jual Beli

Para pembaca Bimbinganislam.com yang selalu mencari keberkahan dari Allah berikut kami sajikan pembahasan tentang ketidakjelasan atau gharar dalam jual beli.
selamat membaca.


Kita telah jelaskan dalam pembahasan sebelumnya bahwa hukum asal segala bentuk transaksi jual beli adalah halal dan diperbolehkan sampai datang dalil yang menjelaskan akan keharamnnya.
Kemudian diantara transaksi yang dilarang adalah transaksi didalamnya ada ketidakjelasan atau yang dikenal dalam syariat sebagai jual beli gharar dan jahalah.

Pengertian jual beli gharar dan jahalah

Gharar dalam jual beli adalah ketika seorang penjual atau pembeli tidak tahu secara pasti apakah barang yang ditukarkan bisa didapatkan atau tidak.

Sedangkan jahalah dalam jual beli adalah adanya ketidakjelasan dari barang yang ditukarkan dalam sebuah transaksi, seperti sifat dan bentuknya.

Al-Qarafy berkata:

أَصْلُ الْغَرَرِ هُوَ الَّذِي لا يُدْرَى هَلْ يَحْصُلُ أَمْ لا ؟ كَالطَّيْرِ فِي الْهَوَاءِ وَالسَّمَكِ فِي الْمَاءِ ، وَأَمَّا مَا عُلِمَ حُصُولُهُ وَجُهِلَتْ صِفَتُهُ فَهُوَ الْجَهُولُ ، كَبَيْعِهِ مَا فِي كُمِّهِ ، فَهُوَ يَحْصُلُ قَطْعًا ، لَكِنْ لا يُدْرَى أَيْ شَيْءٍ هُوَ ؟ فَالْغَرَرُ وَالْمَجْهُولُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَعَمُّ مِنَ الآخَرِ مِنْ وَجْهٍ وَأَخَصُّ مِنْ وَجْهٍ فَيُوجَدُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَعَ الآخَرِ وَبِدُونِهِ 

أَمَّا وُجُودُ الْغَرَرِ بِدُونِ الْجَهَالَةِ : فَكَشِرَاءِ الْعَبْدِ الآبِقِ الْمَعْلُومِ قَبْلَ الإِبَاقِ لا جَهَالَةَ فِيهِ ، وَهُوَ غَرَرٌ ، لأَنَّهُ لا يُدْرَى هَلْ يَحْصُلُ أَمْ لا ؟
وَالْجَهَالَةُ بِدُونِ الْغَرَرِ : كَشِرَاءِ حَجَرٍ يَرَاهُ لا يَدْرِي أَزُجَاجٌ هُوَ أَمْ يَاقُوتٌ ، مُشَاهَدَتُهُ تَقْتَضِي الْقَطْعَ بِحُصُولِهِ فَلا غَرَرَ ، وَعَدَمُ مَعْرِفَتِهِ يَقْتَضِي الْجَهَالَةَ بِهِ
وَأَمَّا اجْتِمَاعُ الْغَرَرِ وَالْجَهَالَةِ فَكَالْعَبْدِ الآبِقِ ، الْمَجْهُولِ الصِّفَةِ قَبْلَ الإِبَاقِ

Gharar adalah ketika seseorang tidak mengetahui apakah dia bisa mendapatkan barangnya atau tidak, seperti (jual beli) burung yang sedang terbang, ikan di air (laut/sungai).
Adapun apabila barang tersebut diketahui bisa didapatkan namun sifatnya tidak diketahui maka itu dinamakan jahalah, seperti jual beli benda yang berada di dalam lengan bajunya, namun, tidak diketahui benda apa yang ada di dalam baju tersebut. Maka, gharar dan jahalah sama-sama memiliki sifat umum dari satu sisi dan khusus dari sisi lainnya.

Terkadang gharar dan jahalah ada bersamaan dalam sebuah transaksi dan terkadang tidak bersamaan.

1. Adapun contoh adanya gharar tanpa jahalah :
Adalah jual beli budak yang kabur, yang telah diketahui ciri-cirinya sebelum kabur, ini dinamakan gharar, karena tidak diketahui apakah budak tersebut bisa ditemukan atau tidak.

2. Contoh transaksi jahalah tanpa gharar :
Adalah jual beli batu yang tidak diketahui apakah batu itu adalah batu permata atau hanya sebuah kaca, benda tersebut jelas bisa didapatkan namun sifatnya tidak diketahui.

3. Adapun transaksi yang mengandung gharar dan jahalah sekaligus :
seperti jual beli budak yang kabur, dan dia belum mengetahui ciri-ciri budak tersebut sebelum kabur.
(Al – Furuq : 3/265).

Dalil-dalil larangan jual beli yang mengandung ketidakjelasan

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, beliau berkata:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الحَصَاةِ وعن بيع الغَرَرِ

Rasulullah ﷺ melarang jual beli  hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil, barang yang terkena kerikil itulah yang terjual) dan jual beli gharar.
(HR. Muslim : 2783)

2. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُنَابَذَةِ وَهِيَ طَرْحُ الرَّجُلِ ثَوْبَهُ بِالْبَيْعِ إِلَى الرَّجُلِ قَبْلَ أَنْ يُقَلِّبَهُ أَوْ يَنْظُرَ إِلَيْهِ وَنَهَى عَنْ الْمُلَامَسَةِ وَالْمُلَامَسَةُ لَمْسُ الثَّوْبِ لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ

Rasulullah ﷺ melarang munaabadzah, yaitu seseorang melempar pakaiannya sebagai bukti pembelian harus terjadi (dengan mengatakan kamu harus membeli baju yang aku lemparkan) sebelum orang lain itu menerimanya atau melihatnya.
Dan Beliau juga melarang mulaamasah, yaitu menjual kain dengan hanya menyentuh kain tersebut tanpa melihatnya (yaitu dengan suatu syarat misalnya kalau kamu sentuh berarti  kamu harus membeli).
(HR. Bukhari : 2144).

3. Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ

Rasulullah ﷺ melarang menjual janin yang masih berada dalam kandungan.
(HR. Muslim : 1514)

Para ulama bebeda pendapat dalam menafsirkan jual beli yang terdapat dalam hadits (arab : حبل الحبلة).
Sebagian mereka berkata yang dimaksud adalah jual beli unta, namun pembayarannya menunggu unta tersebut melahirkan, kemudian anak unta tersebut melahirkan kembali, tatkala itu baru harganya dibayarkan, dan ini adalah tafsiran Abdullah bin Umar sendiri sebagai perawi hadits, dan pilihan Syafi’I dan Malik.

Sebagian ulama berkata:
yang dimaksud dalam hadits adalah jual beli anak unta yang masih berada dalam kandungan, dan ini adalah pendapat Ahmad dan Ishaq bin rahawaih, pendapat kedua ini lebih mendekati dari sisi bahasa.
Namun pendapat pertama adalah tafsiran seorang sahabat yang beliau adalah perawinya, dan para ahli ushul fiqh telah mengatakan tafsiran perawi lebih didahulukan selama tidak bertentangan dengan zhahir hadits.

Namun, menurut tafsiran manapun jual belinya tetap jual beli yang bathil, jual beli tafsiran pertama bathil karena adanya ketidakjelasan kapan harganya dibayarkan, dan bisa jadi tidak dibayarkan karena untanya mati sebelum melahirkan.

Adapun tafsiran kedua adalah jual beli barang yang belum ada, pembeli tidak bisa dipastikan mendapatkan anak unta tersebut, dan juga tidak diketahui berapa banyak janin dalam kandungan unta tersebut.
(Lihat : Al-Minhaj syarh Shohih Muslim: 10/158).

Kapan ketidakjelasan mempengaruhi sebuah akad?

Para ulama meletakkan syarat-syarat kapan gharar/jahalah bisa mempengaruhi sebuah akad, kalau seandainya syarat-syarat tersebut ada dalam sebuah akad, maka akadnya menjadi batal atau tidak sah, syarat-syaratnya yaitu:

1. Gharar nya banyak dan tidak dimaafkan

Ibnu Rusyd berkata:

فَالْفُقَهَاءُ مُتَّفِقُونَ عَلَى أَنَّ الْغَرَرَ الْكَثِيرَ فِي الْمَبِيعَاتِ لَا يَجُوزُ، وَأَنَّ الْقَلِيلَ يَجُوزُ

Para ulama fiqh sepakat bahwa gharar yang banyak dalam transaksi jual beli tidak diperbolehkan, namun apabila sedikit diperbolehkan.
(Bidayatul Mujtahidin : 3/173).

Apabila ghararnya sedikit dan biasanya dimaklumi maka tidak berpengaruh terhadap keabsahan transaksi jual beli.
Seperti: bolehnya menyewakan rumah dalam kurun waktu sebulan, padahal tidak diketahui apakah bulan tersebut 29 hari atau 30 hari (Hijriyyah), bolehnya menyewakan kamar mandi padahal tidak diketahui berapa banyak air yang dipakai, dan transaksi – transaksi lainnya.
(Lihat Al – Majmu’ :  9/258).

2. Gharar tersebut terjadi dalam inti transaksi

Gharar yang berpengaruh adalah gharar dalan inti transaksi, apabila gharar tersebut hanya sebagai pengikut dan bukan inti transaksi, maka gharar tersebut tidak dianggap.

Seperti : jual beli binatang ternak yang sedang hamil, kita telah sebutkan sebelumnya tidak boleh menjual hewan yang masih dalam kandungan, namun kalau janin tersebut dijual karena mengikut ibunya maka ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.
(Lihat Mausu’ah Fiqhiyyah Alkuwaitiyyah: 31/152).

Dan juga berdasarkan kaedah:

التابع تابع

“Pengikut mengikuti hukum yang diikuti”.

3. Gharar dalam transaksi tersebut tidak dibutuhkan

Imam Nawawi berkata:

الْأَصْلُ أَنَّ بَيْعَ الْغَرَرِ بَاطِلٌ لِهَذَا الْحَدِيثِ وَالْمُرَادُ مَا كَانَ فِيهِ غَرَرٌ ظَاهِرٌ يُمْكِنُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ (فَأَمَّا) مَا تَدْعُو إلَيْهِ الْحَاجَةُ وَلَا يُمْكِنُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ كَأَسَاسِ الدَّارِ ….. فَهَذَا يَصِحُّ بَيْعُهُ بِالْإِجْمَاعِ

Pada asalnya jual beli gharar tidak sah berdasarkan hadits ini, adapun gharar yang dimaksud adalah adalah gharar yang jelas dan sulit dihindari, adapun apabila ada kebutuhan dan tidak mungkin dihindari seperti pondasi rumah, maka yang seperti ini dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.
(Al-Majmu’ : 9/258).

Inilah syarat-syarat yang menjadikan gharar atau jahalah atau ketidakjelasan bisa mempengaruhi keabsahan sebuah transaksi jual beli.
Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS