Aqidah

Kenapa Nabi Menyembunyikan Daftar Nama Orang Munafik?

Kenapa Nabi Menyembunyikan Daftar Nama Orang Munafik?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Kenapa Nabi Menyembunyikan Daftar Nama Orang Munafik? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, ahsanallahu ilaikum, afwan saya ingin bertanya. Islam merupakan ajaran yang sempurna, dan Nabi () sudah menyampaikan semua syariat tanpa ada yang disembunyikan sedikit pun. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana dengan daftar orang munafik yang Nabi () rahasiakan, tidak beliau beberkan pada umat? Timbul kerancuan pada saya karena kesannya seperti kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya bahwa Nabi () tidak menyembunyikan ajaran Islam sedikit pun. Mohon penjelasannya, jazaakallahu khairan.

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Nabi () yang telah diutus oleh Allah () sebagai seorang Rasul/utusan Allah adalah untuk menyampaikan segala syariat atau ajaran yang diemban kepada umat manusia, sehingga bisa beribadah kepada Allah dengan baik dan benar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah, bukan sekadar apa yang diinginkan oleh manusia.

Setelah tugas selesai, syariat agama telah tuntas tersampaikan maka tidak diperlukan penambahan ajaran atau tata cara dalam beribadah karena hanya seorang Rasul () yang menerima wahyu atau mendapatkan mandat untuk menyampaikan apa yang diinginkan oleh Allah ta`aala. Sebagaimana firman Allah ta`alaa:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al-Qur-an), (sebagai kalimat) yang benar dan adil …” [Al-An’aam: 115]

Maksudnya benar dalam kabar yang disampaikan, dan adil dalam seluruh perintah dan larangan. Setelah agama disempurnakan bagi mereka, maka sempurnalah nikmat yang diberikan kepada mereka…(Tafsir Ibnu Katsir (II/15-16), cet I, Maktabah Daarus Salam th. 1413 H)

Bila diperhatikan kembali dari ayat dan penjelasan di atas di dapatkan bahwa kesempurnaan ada pada syariat atau tata cara yang disampaikan Nabi (), bukan perkara lain yang tidak berhubungan dengan amal ibadah. Di mana apa yang disembunyikan Nabi () dengan pengetahuan yang datang dari Allah terhadap hal hal tertentu yang tidak terkait dengan ibadah bukanlah termasuk syariat atau tata cara beribadah dalam agama islam. Sehingga tidaklah bisa disebut bahwa Nabi () telah menyembunyikan ajaran islam/syariat Islam disebabkan telah menyembunyikan nama-nama kaum munafik kepada umatnya.

Di mana sebagian para ulama telah menyebutkan beberapa hikmah Nabi () menyembunyikan nama nama mereka atau tidak menghukum/membunuh para kaum munafik di antaranya karena Allah () menjaga nabiNya dari fitnah yang akan menuduh bahwa Nabi telah membunuh umatnya sendiri, Nabi seorang yang kejam, dan sebagainya.

Karenanya, menyembunyikan nama orang orang munafik bukanlah dari tugas Nabi sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Nabi belum sempurna menyampaikan tugas atau agama Islam belum sempurna.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 6 Rabiul Awal 1443 H/ 13 Oktober 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Tafsir / Makna Al-Quran Surat Shaad : Ayat 72

USTADZ MU’TASIM, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button