Kenapa Ada Kaidah Fiqih “Hukum Asal Ibadah Adalah Dilarang (Haram)” ?

Kenapa Ada Kaidah Fiqih “Hukum Asal Ibadah Adalah Dilarang (Haram)” ?

Kenapa Ada Kaidah Fiqih “Hukum Asal Ibadah Adalah Dilarang (Haram)” ?

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang unik, setiap orang memiliki karakteristik, sifat, bentuk yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Bahkan mereka memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda-beda. Setiap orang yang memiliki hobi sama, pasti mereka akan berkumpul. Dan orang-orang yang berbeda hobi, akan susah berkumpul. Setiap orang mencari siapa yang sama dengannya.

Lebih dari itu semua, seorang manusia apabila diberikan sesuatu yang ia sukai, pasti ia akan senang hatinya. Akan tetapi ketika ia diberi sesuatu yang tidak ia sukai, atau sesuatu yang sangat ia benci, maka ia pasti akan merasa tidak senang. Bisa jadi ia akan bergumam, ‘Si A ini, tidak tahu kalau aku tidak suka makanan ini’.

Sebuah Rumusan

Dan kita semua memiliki rumus :
“apabila kita ingin mendekat kepada seseorang maka kita harus berusaha mendekati dengan cara yang ia sukai, atau dengan memberikan apa yang ia sukai. Dan kita harus berusaha keras jangan sampai mendekatinya dengan cara yang ia benci, atau memberi sesuatu yang tidak ia sukai”.
Sehingga kita perlu untuk mencari tahu apa yang Allah sukai dan apa yang Allah benci.

Misalkan ada seorang yang punya pacar, (hukum pacaran bisa lihat di link: Hukum Pacaran), saya yakin, sang laki-laki pasti berusaha untuk menyenangkan hati pacar wanitanya. Dan ia pasti juga akan berusaha keras untuk tidak memberikan kepada pacarnya sesuatu yang ia benci atau sesuatu yang tidak ia sukai. Dan semua itu akan sukses, setelah ia mengetahui apa yang disukai dan apa yang dibenci oleh pacar wanitanya.

Setelah kita mengakui, bahwa dalam kehidupan manusia, ada hal yang disukai dan ada hal yang dibenci, dan rumus bagi seorang yang ingin mendekat kepada seseorang adalah melakukan apa yang orang tersebut sukai serta menjauhi apa yang ia benci, maka Allah ta’ala lebih berhak kita masukan dalam rumusan diatas. Karena Allah ta’ala memiliki hal yang dibenci dan disukai.

Allah Memiliki Sifat Benci dan Tidak Suka

Diantara dalil-dalil yang menunjukan bahwa Allah memiliki sifat benci adalah firman-Nya:

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

“Dan jika mereka (orang-orang munafik) mau berangkat (berjihad), tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu””
(QS. At-Taubah : 46)

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nisa : 148)

Allah Memiliki Sifat Cinta dan Suka

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”
(QS. Al-Baqarah : 195)

Dalam ayat lainnya :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah : 222)

Ada Suatu Perbuatan Yang Dianggap Ibadah, Akan Tetapi Allah Tidak Menyukainya

Contoh sesuatu perbuatan atau amalan yang dianggap ibadah oleh orang-orang akan tetapi Allah tidak menyukainya:

1. Puasa wajib ataupun sunnah pada waktu terlarang

Kita meyakini bahwa puasa adalah salah satu bentuk ibadah, namun, ketika puasa ini dilakukan di waktu yang terlarang, maka ia tidak menjadi ibadah, dan bahkan pelakunya akan mendapatkan dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Siapa yang (memulai) puasa (ramadhan) pada hari yang diragukan, maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qashim (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam
(HR. An-Nasai no. 2188 dan At-Tirmidzi no. 686 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah)

Dalam hadits lain :

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْفِطْرِ، وَيَوْمِ الْأَضْحَى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang puasa dua hari, hari raya idul fitri dan hari raya idul adha” (HR. Muslim no. 1140)

Coba perhatikan hadits-hadits diatas !

Disana akan Anda dapati larangan dari sebuah amalan yang dianggap ibadah. Dan hal tersebut menunjukkan ada kalanya amal ibadah malah tidak disyariatkan atau bahkan diharamkan.

2. Sholat sunnah mutlak pada waktu terlarang

Kita meyakini bahwa sholat merupakan ibadah yang agung setelah dua kalimat syahadat, akan tetapi ketika seorang sholat mutlak (Shalat mutlak adalah shalat sunnah yang tidak ada alasannya kecuali hanya keinginan dari pelakukan untuk melaksanakan shalat) pada waktu yang terlarang, maka sholat tersebut tidak mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Bahkan pelakunya mendapatkan dosa dan murka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

“Tidak ada sholat setelah sholat ashar, hingga matahari tenggelam. Dan tidak ada sholat setelah sholat shubuh, hingga matahari meninggi”
(HR. Al-Bukhari no. 586  dan Muslim no. 827)

Para ulama mengatakan, bahwa sholat mutlak haram dilakukan ketika seorang telah melakukan sholat shubuh hingga matahari meninggi. Dan setelah ia melakukan sholat ashar hingga matahari tenggelam. Padahal kita tahu, bahwa sh0lat merupakan ibadah yang agung.

Kaidah Fiqih “Hukum Asal Dalam Ibadah adalah (Dilarang) Haram”

Setelah kita mengetahui semua hal diatas, maka kita akan faham, kenapa para ulama dalam banyak kitab mereka mengatakan :

اَلْأَصْلُ فِيْ الْعِبَادَةِ اَلْمَنْعُ

“Hukum asal ibadah adalah dilarang”

Dan khusus untuk hal ini, Allah ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”
(QS. Asy-Syura : 21)

Nah, setelah ini semua, jelaslah kenapa para ulama merumuskan kaidah tersebut. Dengan tujuan, agar Allah tidak didekati kecuali dengan ibadah yang benar-benar dicintai, diridhai dan juga diizinkan oleh Allah ta’ala.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَا حَرَامَ إلَّا مَا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، وَلَا تَأْثِيمَ إلَّا مَا أَثَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ بِهِ فَاعِلَهُ، كَمَا أَنَّهُ لَا وَاجِبَ إلَّا مَا أَوْجَبَهُ اللَّهُ، وَلَا حَرَامَ إلَّا مَا حَرَّمَهُ اللَّهُ، وَلَا دِينَ إلَّا مَا شَرَعَهُ، فَالْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ الْبُطْلَانُ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى الْأَمْرِ

dan sebuah kaidah yang sudah dikenal, bahwa tidak ada keharaman kecuali yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak ada dosa kecuali yang dikatakan dosa oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak ada kewajiban kecuali apa yang Allah wajibkan, tidak ada yang haram kecuali yang Allah haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang Ia syariatkan, sehingga hukum dasar semua ibadah adalah bathil (tidak teranggap) sampai ada dalil yang memerintahkannya
(I’lam Al-Muwaqqi’in hal. 1/259)

Semoga pembahasan ini bermanfaat, wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

 

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad Lc حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
Kontributor Bimbingan Islam (BiAS), Alumni Universitas Islam Madinah Jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS