Kelembutan Dalam Berdakwah

Kelembutan Dalam Berdakwah

Kelembutan Dalam Berdakwah

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz dan keluarga yang semoga selalu dirahmati Allah.

Ustadz, bagaimanakah contoh kelembutan dalam berdakwah yang benar? Misal, apakah (terkadang) melakukan pembiaran terhadap wanita (berhijab) yang masih mengenakan celana untuk ke luar rumah termasuk kelembutan dalam berdakwah?
Lalu dakwah dalam hal apa yang harus diprioritaskan dan tegas, selain dakwah tauhid?

Jazaakumullah khoyron
Baarokallah fiikum

(Disampaikan Oleh Sahabat BiAS)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakaatuh.

Bismillaah
Alhamdulillah wash shalaatu was salaamu ‘alaa Rasulillah wa’ala aalihi wa ash-haabihi waman tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumil qiyaamah, Amma ba’du.

Berdakwah merupakan tugas setiap individu, namun berceramah adalah tugas seorang ahli ilmu (ustadz, ulama atau para penuntut ilmu yang sudah memiliki ilmu yang cukup).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan :

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat
(HR. Al-Bukhari no 3461)

Itu menunjukan bahwa berdakwah merupakan tugas setiap individu, namun perlu dicatat, bahwa dakwah itu tidak harus dengan ucapan, tidak harus dengan khutbah ataupun ceramah.

Itu harus kita fahami terlebih dahulu.

Kemudian dakwah itu tujuan utamanya adalah menyampaikan kebenaran. Dan jika mampu membuat objek dakwah tertarik dengan dakwah Islam yang benar tersebut.

Sehingga ketika seorang individu ingin mendakwai seorang individu lain, maka langkah yang terbaik adalah melihat situasi dan kondisi, baik mereka salah dalam fiqih, muamalah, sampaipun mereka salah dalam aqidah dan tauhid.

Bagaimana caranya agar seorang yang kita dakwahi tersebut mau menerima dakwah kita ?

Jika ia seorang yang terpelajar, kita menggunakan cara-cara yang ilmiyah.

Jika ia seorang awam, miskin, cari makan saja susah, maka yang pertama kali adalah dengan membuat mereka merasa terbantu dengan keberadaan kita. Misalkan dengan memberikan sembako dll, sebagaimana ini dilakukan oleh sebagian dai, yang telah membuat banyak masyarakat mau mengaji ditempatnya.

Pada intinya adalah kita harus memiliki suatu sikap tegas, bahwa kita tidak akan ikut sesuatu yang salah, kemudian untuk cara menyampaikannya kita harus melihat situasi dan kondisi.

Pada masyarakat yang awam, kedepankan akhlak, dan dengan akhlak itu nanti ajaklah pelan-pelan untuk menghadiri kajian. Ketika seorang sudah menghadiri kajian, insyaAllah lama kelamaan seorang akan memperbaiki dirinya sendiri.

Tapi jika kita mendakwahi mereka dengan cara yang keras, maka seringnya pintu penerimaan di hati mereka akan tertutup, sehingga kita tidak akan bisa menyampaikan nasihat lagi.

Kesimpulannya, jadilah seorang yang bisa menempatkan permasalahan pada tempatnya.

Wallahu a’lam
Wabillahittaufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad Lc, حفظه الله تعالى
📆 Selasa, 30 Jumadil Awwal 1440 H/ 5 Februari 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS