Ibadah

Kekhususan Nabi Terlambat dalam Penguburannya

Kekhususan Nabi Terlambat dalam Penguburannya

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Kekhususan Nabi Terlambat dalam Penguburannya, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, semoga ustadz dan seluruh tim BiAS selalu dalam lindungan Allah.
Mengenai pembahasan penguburan Rasulullah bagian pertama, di sana dijelaskan bahwa Rasulullah wafat pada hari Senin, dan dikuburkan pada hari Selasa, atau malam Rabu. Mengapa jeda waktunya cukup lama ustadz? Sedangkan sunnahnya penyelenggaraan jenazah hendaknya dilaksanakan secepatnya.
Jazakallahu khairan ustadz

جزاك الله خيرا

(Dari Fulanah Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Ada beberapa alasan kenapa Nabi sallallahu alaihi wa sallam dikuburkan tidak langsung di hari ketika beliau wafat, di antara alasan tersebut disebutkan oleh para ulama berikut ini:

1. Karena jasad Nabi sallallahu alaihi wa sallam suci, baik tatkala beliau hidup maupun selepas wafat, jasad beliau tidak sama dengan jasad manusia lainnya, jasadnya tidak berubah karena kematian, jasad beliau dijaga oleh Allah ta’ala, dalil atas hal ini disebutkan dari Aisyah radiyallahu ‘anha terkait wafatnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam, Aisyah berkata:

فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلَهُ ، قَالَ : بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي ، طِبْتَ حَيًّا وَمَيِّتًا

Abu bakar datang, lantas beliau menyingkap penutup jasad Rasul sallallahu alaihi wa sallam dan beliau pun mencium Nabi, Abu bakar mengatakan: Aku akan menebusmu dengan bapak dan ibuku (ungkapan untuk dalamnya rasa cinta pada seseorang), engkau wahai Rasul, baik tatkala hidup, begitupula tatkala telah meninggal”. (HR. Bukhari).

Atas dasar ini, para sahabat tidak mengkhawatirkan kondisi jasad Nabi, karena jasad beliau tidak akan berubah walaupun beliau wafat, hukum dimakruhkannya mengakhirkan penguburan jasad yang berlaku bagi orang lain adalah salah satunya karena ditakutkan jasad tersebut akan berubah, adapun jika sebab tersebut tak ada, sebagaimana ini tidak berlaku pada diri Nabi, hukumnya kemakruhannya pun hilang.

2. Termasuk kebutuhan yang menjadikan pengakhiran dikuburkannya beliau sallallahu alaihi wa sallam adalah semangatnya para sahabat untuk menyalatkan beliau, dan memang bisa dikatakan bahwa seluruh sahabat kala itu meyalatkannya, baik sahabat di kalangan perempuan maupun lelaki, dewasa maupun yang masih kecil, mereka shalatnya tidak dipimpin oleh imam, namun masing-masing shalat sendiri, mengantre untuk memasuki kamar Nabi sallallahu alaihi wa sallam yang mulia, dan yang demikian tentunya akan membutuhkan waktu yang lebih banyak. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Said ibnu al-Musayyib, beliau berkata:

لما توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وضع على سريره , فكان الناس يدخلون زمرا زمرا يصلون عليه ويخرجون ولم يؤمهم أحد

“Ketika Rasul sallallahu alaihi wa sallam wafat, beliau diletakkan di atas kasurnya, setelahnya para sahabat masuk berbondong bondong untuk menyalatkan beliau dan setelahnya keluar, tidak ada yang mengimami mereka solat jenazah”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 7/430).

3. Sibuknya para sahabat merundingkan bagaimana menghadapi masalah ke depan setelah wafatnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam, bermusyawarah agar bisa memutuskan hasil terbaik untuk ummat, terjadilah diskusi dan musyawarah di antara mereka untuk menentukan khalifah selepas Nabi, Khalifah yang bisa menyatukan ummat dan bendera Islam dan menutup celah perpecahan, dan agar umat Islam tidak dalam kondisi kosong dari pemimpin. Nah, tentunya prosesi ini membutuhkan waktu agar bisa mencapai hasil terbaik.
al-Imam al-Zarqani mengatakan:

إنما أخروا دفنه لاختلافهم في موته أو في محل دفنه ، أو لاشتغالهم في أمر البيعة بالخلافة حتى استقر الأمر على الصديق ، ولدهشتهم من ذلك الأمر الهائل الذي ما وقع قبله ولا بعده مثله ، فصار بعضهم كجسد بلا روح ، وبعضهم عاجزا عن النطق ، وبعضهم عن المشي ، أو لخوف هجوم عدو ، أو لصلاة جم غفير عليه

“Sesungguhnya para sahabat mengakhirkan penguburan Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak lain karena perselisihan tentang kebenaran wafatnya beliau, atau karena masalah beliau akan dikuburkan di mana, atau juga karena sibuknya para sahabat pada masalah baiat khilafah, sampai akhirnya terpilihlah Abu bakar al-Shiddiq. Atau juga diakhirkannya penguburan beliau karena begitu dahsyatnya berita besar ini, berita yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak akan jadi setelahnya, sampai sampai di antara mereka ada yang seakan jasadnya tanpa ruh, sebagian sampai tidak bisa bertutur kata, sebagian sampai tidak bisa berjalan, sebagian merasa takut musuh akan menyerang, atau juga pengakhirannya karena begitu banyaknya sahabat yang menyalatkan”. (Syarhu al-Muwattho 2/94)

Sumber bacaan : Klik Disini

Jadi, itu beberapa alasan yang disebutkan oleh para ulama dan ahli sejarah Islam kenapa Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak dikuburkan secara langsung dengan adanya penundaan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Rabu, 18 Rabiul Akhir 1443 H/ 24 November 2021 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Puasa 9 Hari Berturut-turut di Awal Dzulhijjah, Makruh?

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button