Kapan Dibolehkanya Mengangkat Telunjuk?

Kapan Dibolehkanya Mengangkat Telunjuk?

Kapan Dibolehkanya Mengangkat Telunjuk?

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya mau tanya saat tasyahud kapan telunjuk di angkat ? Apakah saat membaca “asyhadu alla” atau dari awal bacaan?

(Disampaikan Oleh Sahabat BIAS)


 Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakaatuh.

Bismillaah
Alhamdulillah wash shalaatu was salaamu ‘alaa Rasulillah wa’ala aalihi wa ash-haabihi waman tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumil qiyaamah, Amma ba’du.

Dalam permasalahan ini saya pribadi menerapkan yang mengangkat telunjuk sejak dari awal.

[Pembahasan Pertama]

Hukum berisyarat dengan jari telunjuk adalah sunnah (bukan rukun, bukan pula wajib shalat).

Maka barang siapa yang telah berisyarat dengan jari telunjuknya, kapanpun itu, maka ia telah mendapati sunnah.

Dan yang diperselisihkan para ulama, bagaimana afdhalnya, dan bagaimana yang mencocoki sunnah.

[Pembahasan Kedua]

Hadits-hadits yang berkaitan dengan hal ini :

[Hadits pertama dari Abdullah bin Az-Zubair]

قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak kaki kirinya diantara pahanya dan betisnya, serta menghamparkan telapak kaki kanannya, sambil meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, lalu beliau memberi isyarat dengan telunjuknya.”
HR. Muslim 579

Pada hadits ini tidak diberikan keterangan kapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat telunjuk.

[Hadits kedua dari Abdullah bin Zubair juga]

أن النبيَّ – صلى الله عليه وسلم -كان يُشيرُ بإصبَعِه إذا دعا، ولا يُحرِّكُها.

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat dengan jarinya ketika berdo’a, tanpa menggerakkannya.
HR. Abu Dawud 989 dan An-Nasai 1270

Hanya saja lafaldz : “tanpa menggerakkannya” dilemahkan oleh Syaikh Al-Albani

[Hadits ketiga dari Sahabat Wail bin Hujr]

ثُمَّ قَعَدَ وَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ كَفِّهِ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً، ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

Kemudian duduk iftirasy. Beliau juga meletakkan telapak tangan kiri diantara paha dan lutut kiri.

Dan beliau Shallallahu’alaihi wasallam meletakkan ujung lengan kanan di atas paha kanan. Kemudian ia menggenggam dua jarinya serta membentuk lingkaran, lantas mengangkat jarinya. Aku melihat Beliau Shallallahu’alaihi wasallam *menggerak-gerakkannya dan berdoa dengannya.”
HR. An-Nasai 889

Dari hadits ke-tiga ini, Syaikh Utsaimin mengatakan, bahwa isyarat dengan jari telunjuk saat shalat itu saat ada lafalz-lafalz doa.

[Kesimpulan]

Setelah membaca penjelasan di atas, maka amalkanlah suatu amalan berdasarkan ilmu, dan keyakinan bahwa itulah yang benar.

Dan jika ada seorang yang berbeda dengan kita, jika kita telah beramal dengan ilmu, maka kita tidak perlu risau, dan dalam masalah fiqih, berbeda itu suatu hal yang lumrah.

Namun, saya pribadi ketika berisyarat saat membaca “attahiyat” , adalah sejak dari awal hingga akhir.

Walaupun saya tahu, madzhab Syafi’iyyah tidak seperti itu. Walaupun saya tahu, bahwa Syaikh Utsaimin, tidak berpendapat seperti itu.

Tapi saya hanya ingin beramal, sesuai dengan hadits yang ada. Kemudian, jika anda tidak faham apa-apa dari hadits yang tersebut di atas, maka ikutilah seorang ulama yang anda percayai. Anda yakini keilmuwannya, dan jika ada yang menegur anda, anda bisa mengatakan, “saya dalam masalah ini adalah seorang yang tidak faham dalil, maka saya hanya mengikuti seorang ulama yang saya anggap keilmuannya baik, amanah, dan terpercaya”.

Wallahu a’lam
Wabillahittaufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad Lc, حفظه الله تعالى
📆 Selasa, 30 Jumadil Awwal 1440 H/ 5 Februari 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS