ArtikelManhaj

Kaidah-Kaidah Tarjih Al-Quran & Hadist Ketika Didapati Kesan Kontradiksi Pada Keduanya (Bagian 1)

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Kaidah-Kaidah Tarjih Al-Quran & Hadist Ketika Didapati Kesan Kontradiksi Pada Keduanya

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Kaidah-Kaidah Tarjih Al-Quran & Hadist Ketika Didapati Kesan Kontradiksi Pada Keduanya. Selamat membaca.


Pendahuluan

Sebagian orang berusaha untuk melemparkan keraguan atas sempurnanya ajaran agama Islam dan selamatnya syariat dari kontradiksi dan inkonsistensi di dalamnya. Berangkat dari adanya sebagian orang yang ingin merongrong kesempurnaan Islam itulah, lantas para ulama yang spesialis di berbagai disiplin ilmu keislaman berusaha untuk meletakkan pondasi dan kaidah-kaidah bagaimana cara memahami teks syariat. Di antara yang memiliki andil besar dalam hal ini adalah ulama ushul fiqh, yaitu ketika mereka meletakkan pondasi dan kaidah penjelasan dalam metode pentarjihan antara teks-teks syariat yang tampak sekilas saling kontradiksi dan bertentangan.

Dampak dan buah dari kaidah-kaidah ini akan tampak tatkala terjadi kesan kontradiksi antara teks satu dengan lainnya pada pandangan seorang mujtahid, kala itu seorang mujtahid bisa memfilter dan memilih mana pendapat yang lebih kuat dan mana yang lemah. Dalam studi ini saya akan berusaha untuk memaparkan kaidah-kaidah tarjih yang dipaparkan oleh para ahli fiqih dan ushul fiqh dengan terfokus pada dua sisi: sisi peletakan pondasi keilmuan (penyampaian kaidah) dan sisi praktik (penerapan) untuk memahami kaidah-kaidah tersebut.

Pembahasan

Definisi Tarjih (الترجيح) & Kontradiksi (التعارض)

Secara terminologi, tarjih (الترجيح) adalah: تقوية أحد الدليلين على الآخر لدليل menguatkan salah satu dari dua dalil yang ada karena adanya pendukung dalil lain.

Tidak mungkin ada proses tarjih melainkan jika didapati ada kesan kontradiksi dalam dalil, jika kesan itu tidak ada maka tarjih pun tidak ada, jadi tarjih itu sebagai konsekuensi karena adanya kontradiksi .

Adapun makna kontradiksi (التعارض) adalah: التعارض بين الأمرين هو تقابلهما على وجه يمنع كل واحد منهما مقتضى صاحبه kontradiksi antara dua perkara maknanya adalah kebalikan dari keduanya, sehingga masing-masing dari keduanya menghalangi kehendak/konsekuensi dari yang lainnya .

Jika terjadi kontradiksi dalam teks syariat, maka langkah yang harus ditempuh adalah:

1. Wajib untuk mengkompromikannya (الجمع بين الدليلين) jika memungkinkan.
2. Jika tidak bisa dikompromikan maka dengan penghapusan (النسخ) jika diketahui mana dalil yang terakhir dan mana dalil yang lebih dahulu.
3. Jika tidak diketahui mana dalil yang terakhir, maka yang ditempuh adalah tarjih (الترجيح) .

Telah menjadi rahasia umum bahwa sejatinya tidak ada khilaf atau perbedaan dalam teks al-Quran dan Hadist, tidak ada pula kegoncangan, inkonsistensi dan kontradiksi.

Allah ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (Al-Nisa:82).

Adapun hadist, maka ia juga berasal dari Allah ta’ala sama-sama sebagai wahyu, dan ummat telah berkonsensus bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam adalah ma’shum dalam menyampaikan pesan kenabian. Beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Baca Juga:  Antara Syukur dan Sabar

ألا إني أوتيت الكتاب ومثله معه

“Ketahuilah, bahwa aku diberikan al-Quran dan yang semisal dengannya (hadist) bersama al-Quran” .

Jadi jika didapati adanya kesan kontradiksi dalam teks syari ataupun perbedaan di dalamnya, sebenarnya itu hanya ada dalam pikiran seorang mujtahid saja, menurut sudut pandang pemahamannya, dari apa yang tampak padanya, adapun hakikatnya tidak demikian.

Kaidah-kaidah Penting dalam Tarjih al-Quran & Hadist Ketika Didapati Kesan Kontradiksi pada Keduanya

Kaidah-kaidah terkait pentarjihan al-Quran & hadist mungkin bisa untuk kita klasifikasikan menjadi empat pembagian berikut:

1. Bagian pertama: Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan sanad hadist.

A. Kaidah pertama: Hadist mutawatir lebih dirajihkan daripada hadist aahad.

B. Kaidah kedua: Hadist dengan jumlah perowi lebih banyak, lebih dirojihkan daripada yang perowinya sedikit.

C. Kaidah ketiga: Hadist dengan sanad muttasil (bersambung) lebih dirajihkan daripada yang sanadnya mursal.

D. Kaidah keempat: Hadist yang disepakati kamarfu’annya lebih dirajihkan daripada hadist yang diperselisihkan kemarfu’annya atau kemauqufannya.

2. Bagian kedua: Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan matan hadist.

A. Kaidah pertama: Statemen (القول) lebih dirajihkan daripada perbuatan (الفعل).

B. Kaidah kedua: Hadist yang disebutkan illatnya secara gamblang lebih dirajihkan daripada yang tidak disebutkan illatnya.

C. Kaidah ketiga: Hadist yang memiliki penguat dari sumber lain lebih dirajihkan daripada hadist yang tidak memiliki penguat.

3. Bagian ketiga: Kaidah-kaidah yang terkait dengan makna kandungan hadist

A. Kaidah pertama: Dalil dengan kandungan makna nash (النص) lebih dirajihkan dari yang dhohir (الظاهر).

B. Kaidah kedua: Dalil dengan kandungan makna dhohir (الظاهر) lebih dirajihkan daripada yang muawwal (المؤول).

C. Kaidah ketiga: Dalil yang mubayyan (المبين) lebih dirajihkan daripada yang mujmal/global (المجمل).

D. Kaidah keempat: Dalil yang khusus lebih dirajihkan daripada yang maknanya umum.

E. Kaidah kelima: Dalil yang muqayyad (المقيد) lebih dirajihkan daripada hadist yang mutlak (المطلق).

F. Kaidah keenam: Dalil mantuq/tersurat (المنطوق) lebih dikedepankan daripada yang mafhum/tersirat (المفهوم).

4. Bagian Keempat: Kaidah-kaidah yang terkait dengan perawi hadist

A. Kaidah pertama: Riwayat yang dibawakan oleh orang yang lebih tsiqah/terpercaya, lebih kuat hafalannya dan lebih faqih lebih dikedepankan daripada perawi yang kualitasnya di bawahnya.

B. Kaidah kedua: Riwayat hadist dari rawi yang sudah disepakati keadilannya lebih dirajihkan daripada hadist yang dibawa oleh rawi yang masih diperselisihkan keadilannya.

C. Kaidah ketiga: Riwayat hadist yang dibawakan oleh sahabat yang sebagai pelaku kejadian lebih dirajihkan daripada yang dibawakan oleh sahabat yang tidak mengalami kejadian tersebut.

D. Kaidah keempat: Riwayat hadist yang dibawakan oleh seorang rawi lebih dirajihkan daripada pendapat pribadi rawi itu sendiri.

E. Kaidah kelima: Riwayat hadist yang menetapkan hukum tertentu lebih dirajihkan daripada riwayat hadist yang menafikan hukum tertentu.

Setelah kita mengetahui secara global klasifikasi kaidah-kaidah pentarjihan hadist ataupun ayat al-Quran, sekarang kita akan mencoba membawakan contoh dan penerapannya pada setiap kaidahnya.

Pemaparannya pada bagian ke 2 in sya Allah.

Bagian 2:  Kaidah-Kaidah Tarjih Al-Quran & Hadist Ketika Terdapat Kesan Kontradiksi Antara Satu dengan Lainnya (Bagian 2)

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Selasa, 16 Jumadal Awwal 1443 H/21 Desember 2021 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button