Artikel

Kaidah-Kaidah Fiqih Terkait Halal Haram Makanan (Bagian 2)

Mahad Bimbingan Islam (BIAS) belajar Islam terstruktur

Kaidah-Kaidah Fiqih Terkait Halal Haram Makanan (Bagian 2)

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Kaidah-Kaidah Fiqih Terkait Halal Haram Makanan (Bagian 2). Selamat membaca.

Artikel sebelumnya: Kaidah-Kaidah Fiqih Terkait Halal Haram Makanan (Bagian 1)


Kaidah yang pertama: الأصل في الأطعمة الحل Hukum Asal Makanan Adalah Halal

Landasan dalil dari kaidah di atas adalah firman Allah ta’ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dialah Allah yang menjadikan segala apa saja yang ada di muka bumi untuk kamu”. (al-Baqarah:29).

Sisi pendalilan dari ayat di atas adalah: Bahwa Allah ta’ala telah menciptakan apa saja yang ada di muka bumi diperuntukkan bagi manusia agar bisa dimanfaatkan, baik berupa makanan maupun yang lainnya.

Jadi, maksudnya adalah bahwa hukum asal dari semua makanan secara umum (termasuk juga minuman) adalah halal dan boleh untuk dikonsumsi, kecuali yang telah valid ada nash/dalil secara khusus melarang atau mengharamkannya, seperti bangkai, darah, khomr, babi, dan semisalnya dari makanan-makanan yang najis, memabukkan dan mendatangkan mudhorrot.

Beberapa nash dalil yang memberikan pengecualian dari kaidah di atas misalnya, firman Allah ta’ala:

Daftar Grup WA Bimbingan Islam Gratis

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al-Baqarah:173).

Atau hadist Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا ضرر ولا ضرار. رواه مالك.

“Tidak boleh (ada) bahaya dan menimbulkan bahaya.” (HR. Malik)

Dalam hadist lain:

كل ما أسكر حرم. رواه الترمذي.

“Setiap yang memabukkan hukumnya haram”. (HR. Tirmidzi).

Selagi tidak ada dalil yang memberikan pengecualian dan pengkhususan, maka hukum asal makanan itu halal dan boleh dikonsumsi. Jika kita ditanya hukum mengkonsumsi bakso, soto, buah sirsak, pepaya, dan contoh lainnya, maka secara hukum asal adalah halal.

Khusus perempuan, apakah kamu tahu Akademi Shalihah (AISHAH) Online?

Kaidah kedua: كل حيوان نهى الشرع عن قتله فهو محرم الاكل Setiap Hewan Yang Dilarang Oleh Syariat Untuk Dibunuh, Maka Mengonsumsinya Pun Haram.

Jika ada dalil dalam syariat yang secara khusus melarang untuk membunuh hewan tertentu, maka mengonsumsinya pun dilarang. Karena tentunya jika kita hendak mengonsumsi hewan, rata-rata kita lakukan setelah hewannya dimatikan, jika dimatikan saja tidak boleh, tentunya memakannya juga tidak diperkenankan. Berikut di antara beberapa hewan yang dilarang dibunuh menurut hadist Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW melarang untuk membunuh burung burung Shurad, katak, semut dan burung Hudhud.” (Shahih: Al-Irwa 8/143).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنْ الدَّوَابِّ النَّمْلَةِ وَالنَّحْلِ وَالْهُدْهُدِ وَالصُّرَدِ

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Rasulullah SAW melarang untuk membunuh empat macam binatang yang merayap yaitu semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (Shahih: Al Irwa’ no:2490).

Kaidah ketiga: كل حيوان أمر بقتله فأكله حرام Setiap Hewan Yang Diperintahkan Untuk Dibunuh, Maka Hukum Mengonsumsinya Haram.

Jika ada dalil secara khusus menjelaskan nama-nama hewan tertentu untuk diperintahkan dibunuh, maka tidak diperkenankan mengonsumsi hewan tersebut. Di antara alasan kenapa diperintahkan untuk dibunuh, karena hewan-hewan tersebut adalah hewan pengganggu dan perusak.

Beberapa hewan yang disebutkan dalam hadist untuk dibunuh adalah sebagaimana dalam hadist berikut:

خَمْسٌ مِنْ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ، يُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ: الْغُرَابُ، وَالْحِدَأَةُ، وَالْعَقْرَبُ، وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ. متفق عليه

“Lima hewan yang dikategorikan semuanya sebagi pengganggu, dimatikan walau di tanah haram diantaranya: burung gagak, burung kite (sejenis alap-alap), kalajengking, tikus. dan anjing ganas/gila”. (HR. Bukhari & Muslim).

وَلِمُسْلِمٍ: بِقَتْلِ خَمْسِ فَوَاسِقَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ

Dalam riwayat Muslim: “Lima hewan perusak yang dibunuh baik di tanah halal maupun tanah haram”.

Syaikh Abdurrahman ibn Nashir al-Barrak menjelaskan:

وله: (كلهن فاسق) أي: خارجٌ عن طبع سائر الحيوانات، فطبعهن الأذى والإفساد، وهذه هي علة تحريم أكلهن وعلة الأمر بقتلهن، وفي حكمهن: كلُّ ما أشبههن في الأذى والإفساد، وما كانت العلة فيه أقوى كان بالحكم أولى،

“Maksud kata dalam hadist كلهن فاسق kesemuanya fasik: adalah karena hewan-hewan ini berbeda secara tabiat dengan hewan-hewan lain, tabiat dari lima hewan ini adalah mengganggu dan merusak, dan inilah sebab kenapa mereka diharamkan dan kenapa diperintahkan untuk dibunuh. Hewan lain yang mengambil hukum yang sama seperti mereka adalah hewan-hewan yang serupa, menimbulkan gangguan dan pengrusakan. Jika sebab itu justru ada lebih parah dalam hewan lain, maka ia lebih berhak untuk dibunuh”. [1]

Kaidah keempat: كل طعام حصوله بطريق الحرام فهو حرام Setiap Makanan Yang Dihasilkan Dengan Cara Haram Maka Hukumnya Juga Haram.

Landasan dalil dari kaidah ini adalah firman Allah ta’ala:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil”. (Al-Baqarah:188).

Sisi pendalilan dari ayat di atas: Dalam ayat di atas Allah melarang untuk memakan harta dengan cara yang batil, maknanya adalah dilarang menghasilkan hata dengan cara yang terlarang, dan ini mencakup cara-cara terlarang meraih harta seperti dengan menjual sumpah palsu, mengutil, merampas, mencuri, sogokan, riba, perjudian dan semisalnya. Sebaliknya berarti maknanya kita diperintah untuk menghasilkan harta dengan cara yang halal dan diperbolehkan oleh syariat, seperti dengan jual beli, Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah:275).

atau lewat jalur hadiah, hibah/pemberian, jalur warisan, dan selainnya yang diizinkan oleh agama.

Jadi, setiap harta yang dihasilkan dengan cara yang haram maka status harta tersebut juga haram, sehingga tidak boleh untuk mengkonsumsinya.

Kaidah kelima: كل طعام فيه ضرر فهو حرام Setiap Makanan Yang Mengandung Mudhorrot Maka Hukumnya Haram Dikonsumsi.

Landasan dalil dari kaidah ini adalah hadist Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا ضرر ولا ضرار. رواه مالك.

“Tidak boleh (ada) bahaya dan menimbulkan bahaya.” (HR. Malik)

Sisi pendalilan dari hadist di atas adalah: Bahwa tidak boleh seseorang mendatangi bahaya, atau menimbulkan bahaya kepada pihak lain, dan ini sifatnya umum dalam banyak hal, termasuk juga dalam masalah mengonsumsi makanan. Tidak boleh bagi seorang mengkonsumsi makanan yang bisa membahayakan dirinya.

Mudhorrot dalam makanan yang dimaksud adalah mudhorrot/bahaya yang muktabar/terakui, seperti ketika dikonsumsi jelas akan mengakibatkan kematian, atau menimbulkan penyakit yang nyata, bukan bahaya yang prosentasenya sedikit, atau bahaya yang berlaku bagi sebagian orang, namun bagi mayoritas yang lain tidak masalah. Penetapan adanya kandungan bahaya dalam makanan bisa dengan cara uji coba, atau mengambil keterangan pihak yang memiliki kewenangan dalam hal itu, seperti para dokter atau ahli gizi/makanan.

Kita ambil contoh makanan berminyak, berlemak, bersantan, yang demikian bisa jadi mengandung mudhorot, namun tingkatnya kecil, dan mungkin baru akan dirasakan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak atau dalam jangka waktu yang panjang. Atau akan berefek jika dikonsumsi oleh orang tua yang sudah memiliki pantangan makanan ini dan itu, namun tidak ada masalah bagi pengkonsumsi yang masih muda dengan badan normal yang sehat. [2]

Model makanan seperti yang disebutkan di atas tidak lantas kemudian diharamkan, karena hukum asalnya boleh, dan mudhorot yang didapati di dalamnya levelnya kecil, hanya berefek dalam jangka waktu konsumsi yang panjang, dan hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, tidak semuanya, yang demikian tidak lantas menjadikannya terlarang.

Adapun yang jelas terlarang seperti mengonsumsi makanan yang jelas mengandung racun, atau yang memabukkan seperti khomer, pil koplo dan semisalnya, semuanya jelas menyebabkan kecanduan dan bisa berpotensi merusak syaraf berpikir. Kesemuanya mengandung bahaya dan berakibat menimbulkan penyakit yang nyata bagi pihak yang mengonsumsinya, jadi hukumnya adalah haram.

Bersambung Kaidah-Kaidah Fiqih Terkait Halal Haram Makanan (Bagian 3)

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Rabu, 1 Rajab 1443 H/ 2 Februari 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini



Referensi:

  1. Abdurrahman Nashir al-Barrak. al-Hayawanatu al-Fawasiq allati Amaro al-Nabiyyu Biqatliha fi al-Hilli wa al-Haromi. Lihat: https://sh-albarrak.com/article/779
  2. Disimpulkan dari artikel fatwa islamweb dengan judul: Hal Kullu Qoorin Min al-‘At’imah Yahrumu Akluhu? Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/243421/%D9%87%D9%84-%D9%83%D9%84-%D8%B6%D8%A7%D8%B1-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%B7%D8%B9%D9%85%D8%A9-%D9%8A%D8%AD%D8%B1%D9%85-%D8%A3%D9%83%D9%84%D9%87
Baca Juga:  Khutbah jum’at Beriman Terhadap Azab Kubur
Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button