Kaidah-Kaidah Fiqih dalam Kehidupan Berumah Tangga (4)

Kaidah-Kaidah Fiqih dalam Kehidupan Berumah Tangga (4)

Kaidah-Kaidah Fiqih dalam Kehidupan Berumah Tangga (4)
Kaidah Keempat,

“Kewajiban wali mengusahakan kemaslahatan orang yang berada di bawah asuhannya”

Pengertian Kaidah

Secara bahasa, kata wali mengandung makna: dekat, pertolongan, dan kasih sayang. Adapun secara istilah, wali
adalah para pemimpin rumah tangga, para pemimpin pemerintahan, hakim, dan setiap orang yang diberi hak oleh syariat untuk mengatur orang lain.

Kaidah keempat ini terbangun atas kaidah dasar “mengusahakan setiap maslahat dan menolak semua mafsadat”. Jika ada sebuah kemaslahatan dan sebuah kemaslahatan lain yang lebih bermaslahat maka tidak boleh bagi seorang wali mencukupkan diri dengan sebuah kemaslahatan dan meninggalkan yang lebih bermaslahat, kecuali jika yang lebih bermaslahat sangat sulit.

Dalil Kaidah

Pertama

Firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa’ ayat 127,

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ ۖ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْوِلْدَانِ وَأَن تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِالْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا۝

“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (Q.S. An-Nisa 4:127)

Cara berdalil dengan Ayat

Wajhud dilalah (sisi pendalilan) terletak pada bagian “Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil

Imam As-Sa’di Rahimahullah mengatakan, pada ayat ini terdapat perintah dari Allah kepada setiap orang yang mendapat tugas mengurus urusan orang lain, hendaknya ia melakukannya seadil mungkin. Hal tersebut mencakup semua urusan mereka baik duniawi berupa pengembangan harta mereka, mencari usaha yang lebih menguntungkan, dan tidak memanfaatkan harta tersebut kecuali dengan cara terbaik.

Kedua

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Shahabat yang bernama Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu , ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ 

“Hamba mana saja yang Allah amanahi kepadanya urusan orang lain, ternyata ia tidak membentengi orang lain tersebut dengan cara memberikan nasihat, ia tidak akan mendapatkan bau surga (Muttafaqun ‘alaihi)

Cara berdalil dengan hadits

Konsekuensi dari sebuah nasihat adalah usaha dalam meraih maslahat dan menolak mafsadat.

Penerapan Kaidah dalam Kehidupan Berumah Tangga

Pertama

Apabila dalam kasus pembunuhan korban tidak memiliki keluarga maka Hakim/Pemerintah menjadi wali baginya. Akan tetapi tidak boleh bagi Hakim/Pemerintah memaafkan pembunuh dan wajib baginya menerapkan qishas. Bahkan jika ia memandang lebih bermaslahat dengan penetapan diyat maka ia tetapkan diyat.

Kedua

Wajib bagi wali menikahkan wanita yang ia asuh dengan lelaki yang paling pantas dan dengan mahar paling bermaslahat untuk si wanita.

Ketiga

Jika seorang perempuan dilamar oleh dua orang laki-laki, salah satunya bermaslahat bagi si perempuan dan yang lain lebih bermanfaat bagi sang wali, maka wajib bagi wali untuk menikahkan si wanita dengan lelaki yang bermaslahat untuk si wanita tersebut dan haram bagi wali mengedepankan kemaslahatan pribadinya dalam perihal pernikahan tersebut.

Keempat

Nikah Syigar diharamkan yaitu seorang wali menikahkan perempuan yang ia asuh kepada lelaki yang akan menikahkan perempuan asuhannya kepada lelaki wali perempuan yang akan ia nikahi. Alasan pengharamanya adalah pernikahan tersebut untuk kemaslahatan wali, bukan kemaslahatan si wanita.


Ditulis Oleh:
Ustadz Fuad Sunardi
(Kontributor Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS