FiqihKonsultasi

Jual Produk Tapi Tidak Punya Produk Tersebut

Jual Produk Tapi Tidak Punya Produk Tersebut

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum jual produk tapi tidak punya produk tersebut.

Selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Afwan ustadz, ana izin bertanya.

Saya tiap minggu berjualan roti tawar dan roti sisir dengan menerima pesanan dari teman-teman kantor yang saya kolektif dan sampaikan ke produksi roti untuk dibuatkan (roti tawar), sedang roti sisir didatangkan dari pabrik. Jadi rotinya sesuai dengan pesanan saja tanpa sisa.

Tentu saya mengambil untung Rp2.000,-/roti.

Apakah sistem jualan saya ini termasuk haram?

(Disampaikan oleh sahabat BiAS).


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Jika kita hendak menjual barang, namun barangnya belum ada, belum kita miliki, atau bukan kita yang memproduksi maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; dari sisi barang, dari sisi pembayaran, dan juga status.

Dari Sisi Barang

Barang tertentu (spesifik) atau Sifat barang (ciri-ciri).

Kalau penawaran atau permintaannya berupa barang tertentu seperti Motor milik si A (mu’ayyan/spesifik) yang merknya YM, maka tidak boleh kita menjualnya sebelum mendapatkan izin dari si A. Ini masuk dalam larangan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud, 3503, An-Nasai, 4613).

Sementara kalau penawaran atau permintaannya berupa sifat barang seperti Motor merk YM (maushuf fi dzimmah/ciri, jenis, warna, dll), maka ini termasuk akad Salam dan hukumnya boleh.

مَنْ أَسْلَفَ فِى شَىْءٍ فَفِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Siapa yang memesan sesuatu maka hendaklah ia memesan dalam takaran yang diketahui (kedua belah pihak) dan timbangan yang diketahui (kedua belah pihak), serta sampai waktu yang diketahui (kedua belah pihak).” (HR. Bukhari, 2240, Muslim, 1604).

Dari Sisi Pembayaran

Didepan atau Dibelakang.

Jika pembayarannya cash di depan berarti Aqad Salam, hukumnya boleh.

Namun, jika pembayarannya di belakang tapi menggunakan DP dulu di depan, sedangkan ia bukan sebagai produsen, bukan pemilik barang, dan tidak terikat dengan toko atau produsen maka ini akad Hutang dengan Hutang, hukumnya terlarang.

Kalau pembayarannya langsung di belakang, dilakukan saat serah terima barang seperti jual beli pada umumnya, maka ini hukumnya boleh.

Dari Sisi Status

Agen atau Perantara.

Kalau penjual berada di pihak produsen atau pemilik barang, ada izin dan kesepakatan tertentu, juga bertanggung jawab terhadap barang maka statusnya agen, ia tidak bisa merubah harga tanpa seizin produsen.

Sementara, jika penjual berada di tengah-tengah, menjadi perantara antara produsen dan konsumen, serta tidak bertanggung jawab atas barang, maka statusnya adalah perantara atau makelar, ia tidak boleh merubah harga diluar kesepakatan.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, selama anda menawarkan roti kepada rekan kerja dengan sifatnya saja, atau menerima permintaan pesanan roti dengan sifatnya saja (roti tawar merk A, roti sisir merk B), lalu pembayaran cash didepan yakni akad salam, atau pembayaran di belakang saat serah terima, yakni jual beli umum/murobahah tapi konsekuensinya pembeli berhak membatalkan pesanannya kapan saja karena memang belum terjadi akad, Insya Allah yang demikian ini boleh dan sah. Adapun jika pembayarannya menggunakan DP, maka anda harus menjadi perwakilan produsen/pemilik barang dahulu.

Wallahu A’lam. Semoga Allah beri pemahaman.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Selasa, 1 Ramadhan 1442 H / 13 April 2021



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini

Baca Juga :  Bolehkah Menolak Perjodohan Dikarenakan Calon Pasangan Merupakan Pelaku Maksiat?

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah, S.Ag., M.Ag.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Hadits 2010 - 2014, S2 UIN Sunan Kalijaga Qur’an Hadits 2015 - 2019 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dynamic English Course (DEC) Pare Kediri, Mafatihul Ilmi (Ustadz Dzulqarnaen) sedang diikuti | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kuliah Pra Nikah Naseeha Project

Related Articles

Back to top button